Senin, 09 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Rawan Longsor, DPRD Gianyar Soroti Galian Batu Padas di Kemenuh

31 Oktober 2019, 19: 36: 39 WIB | editor : Nyoman Suarna

Rawan Longsor, DPRD Gianyar Soroti Galian Batu Padas di Kemenuh

BATU PADAS : Seorang ibu tengah bekerja memindahkan batu padas di Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Kamis (31/10). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS – Galian batu padas yang berlokasi di Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati disoroti oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Gianyar. Alasannya, galian tersebut dituding menjadi penyebab longsornya jalan penghubung Desa Kemenuh dengan Sukawati. Pada Kamis (31/10) tampak kegiatan galian masih tetap dilakukan, bahkan kebanyakan tenaga angkutnya adalah ibu-ibu.

Pantauan koran ini, tepat pada pukul 08.00 para pekerja galian batu padas tersebut telah memulai pekerjaannya di areal jembatan yang membatasi Desa Kemenuh dengan Sukawati. Ada yang bertugas memotong padas, dan ada juga yang menjadi tukang suun (tukang angkut) dari tempat galian menuju pinggir jalan. Para tukang suun yang kebanyakan ibu-ibu ini, menyusuri jalan setapak yang terjal di pinggir sungai.

Lokasinya berada tepat di bawah jalan penghubung Desa Kemenuh dan Sukawati yang sempat jebol. Meski demikian, para pekerja tidak mempedulikan keselamatan mereka karena  tanah tersebut rawan longsor.

 “Tyang mulai mekarya saking jam 08.00, ngantos jam 16.00 (saya mulai kerja dari pukul 08.00 sampai 16.00). Kadang istirahat makan siang, kalau batunya tidak banyak,” jelas salah satu tukang suun yang enggan dikorankan namanya.

Menyikapi hal itu, Wakil Ketua DPRD Gianyar, Gusti Anom Masta mengatakan, ke depannya, ia akan memanggil aparat desa adat dan dinas setempat agar turut mengawasi usaha tersebut, supaya tidak ada usaha-usaha yang tanpa izin atau illegal.

“Kami akan panggil kepala desa, aparat desa, termasuk desa adatnya agar diawasi, dan tidak illegal. Kalau ingin tetap beroperasi, pengusahannya harus mengurus izin. Tujuannya supaya tidak terjadi longsor kembali,” jelasnya seraya mengajak seluruh masyarakat agar bersama-sama mengawasi  galian batu padas tersebut. Ia pun menyarankan para tukang suun agar mencari pekerjaan lain.

“Ada Kurda, urus Kurda yang 6 persen per tahun, supaya pekerjaan mereka tidak hilang. Apalagi banyak ibu-ibu yang menjadi tukang suun batu padas. Jangan sampai menambah kemiskinan, jadi harus ditampung di Kurda,” bebernya.

Ditambahkannya, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan camat setempat dan pihak provinsi agar galian tersebut ditertibkan. Beberapa hari lalu pihaknya bersama Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi melakukan sidak di Desa Kemenuh. “Untuk galian C, memang provinsi yang berwenang,” tandas Anom Masta.

(bx/ade/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia