Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Dewa, Manusia, dan Asura Menguak Misteri Tiga Da

01 November 2019, 10: 33: 47 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dewa, Manusia, dan Asura Menguak Misteri Tiga Da

MAESTRO : Rasa Acharya Praburaja Darmayasa (kiri) bersama Maestro Kundalini India, Acharya Kamal Kishore Goswami. (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Pada suatu ketika para Dewa, manusia, dan raksasa mengadakan tapa-brata Brahmacarya pengekangan diri untuk mendapatkan pengetahuan dari Prajapati Brahma. Setelah selesai, mereka datang menghadap pencipta alam semesta, Brahma, memohon diberikan pelajaran.  Permintaan tersebut dipenuhi Prajapati Brahma yang hanya mengucapkan satu suku kata, 'Da'.

Para Dewa, manusia, dan Asura (Raksasa) sama sama menguak misteri kata 'Da' yang diberikan Brahma. "Setelah melakukan pertapaan selama setahun, mereka datang kembali, dan memberikan jawaban benar yang berbeda satu dengan lainnya, " jelas tokoh spiritual asal Ubud, Rasa Acharya Praburaja Darmayasa membeber kisah  yang tertuang dalam  Upanisad 5.1.2 kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin di Denpasar.

Dikatakan Darmayasa,  para Dewa mengartikan 'Da' sebagai Dāmyata (kontrollah), manusia mengartikan 'Da' sebagai Datta (memberi, dana punia, derma), dan para Asura memberikan jawaban untuk 'Da' sebagai Dayabhvam (berbelas-kasih).

Dikatakannya, hidup di alam Surga sangatlah indah, tidak ada usia tua, rasa lapar, haus, dan juga tidak ada sakit di sana. Sebaliknya, yang ada hanyalah hidup yang dikelilingi berbagai keindahan dan kenikmatan. "Mereka yang ingin menikmati berbagai jenis kenikmatan nan indah menarik, biasanya mereka sangat menginginkan pencapaian alam Surga," terang murid tunggal Maestro Kundalini India, Acharya Kamal Kishore Goswami ini.


Sedangkan mereka yang lebih maju kesadarannya dalam spiritual, lanjutnya, akan menginginkan Surga, tetapi juga pembebasan langgeng dari segala jenis kesengsaraan (Svarga-apavarga). Biasanya, ketika orang menikmati, maka mereka akan lupa segalanya, sehingga kenikmatan sering memberikan kejatuhan. Oleh karena itulah para Dewa menerjemahkan 'Da' sebagai Damyata, demi meningkatkan daya kontrol indria serta tidak terlalu lelap dalam kenikmatan serta kepuasan yang menjauhkan dari Tuhan.


Hidup di dunia material ini penuh dengan aktivitas, khususnya aktivitas bekerja mengumpulkan uang dan harta benda. Dikatakan Darmayasa, ketika orang bekerja mengumpulkan pencapaian-pencapaian duniawi,  maka rasa loba akan tumbuh berkembang. Loba menyebabkan orang tidak akan pernah mendapatkan kepuasan atau kebahagiaan karena keinginan untuk mendapatkan kenikmatan serta kepemilikan duniawi, akan berkembang terus tanpa henti. Itulah hukumnya uang dan kesenangan material lainnya. "Jika uang dan harta benda lainnya hanya dikumpulkan tanpa disertai oleh pemberian derma atau dana-punia, maka uang dan harta benda akan menjadi 'Tsunami' penghanyut segala, atau menjadi 'api membara' yang siap membakar dan menghanguskan segalanya," paparnya.


Oleh karena itulah, lanjutnya, manusia mengartikan 'Da' sebagai Datta, berdana-punialah. "Pemberian dana-punia yang tulus ikhlas akan melindungi manusia dari kejatuhan material dan juga kemerosotan spiritual," urai Darmayasa.
Sementara para Asura, hidupnya hampir selalu diisi oleh segala jenis kekerasan. Hampir tidak ada yang dilakukan tanpa melalui kekerasan. "Tentu saja kekerasan akan mengantarkan orang kepada terbukanya pintu Neraka lebar-lebar. Oleh karena itulah para Asura mengartikan pelajaran 'Da' yang didapatkan dari Prajapati sebagai Dayadhvam, yaitu mengembangkan sifat berbelas-kasih," paparnya.


Kebenaran yang diterima dari ketiga golongan tersebut, yaitu para Dewa, manusia, dan Asura merupakan kebenaran yang tepat dan pas untuk mereka masing-masing. Ketiganya mendapatkan kebenaran, walau berbeda. Karena, kebenaran yang diterima oleh masing-masing kelompok merupakan kebenaran sangat sesuai dengan wadah keberadaan mereka masing-masing. Kebenaran berbeda tidak menjadikan mereka berbeda.


"Pelajaran dalam bentuk apa saja, sesungguhnya semua merupakan kebenaran yang patut dihargai oleh semua. Tidak perlu ada perbedaan untuk dipertengkarkan atau diperdebatkan, apalagi untuk dijadikan berbeda demi permusuhan. Lukisan menjadi indah karena dilukis tidak dalam satu warna. Ia merupakan penataan warna yang sangat tepat dan serasi," katanya.
Tidak disanggahnya bahwa sering di masyarakat kita melihat orang berbeda pendapat, berbeda pandang. Ada yang menyikapinya dengan ringan dan damai, tanpa memberikan peluang tercipta masalah, tetapi sangat banyak yang justru menerima perbedaan tersebut dengan cara yang berlebihan. "Perbedaan yang sebenarnya merupakan kebenaran yang sangat indah menarik, yang memberikan kenyamanan dan kedamaian bersama, akhirnya dikembangbiakkan menjadi sebuah pertentangan beranak-pinak, akhirnya menggelembung menjadi 'balon besar' yang  siap meledak," tuturnya.


Dikatakannya, sangat jarang orang mampu melihat dan dapat menerima perbedaan sebagai suatu persamaan dan kesatuan yang berada di dalam lingkaran yang sama. "Sesuatu yang berbeda, tetapi tidak berbeda. Sesuatu yang sama, tetapi berbeda. Berbeda dalam sama dan sama dalam berbeda. Banyak di dalam satu dan satu di dalam banyak. Dalam hal ini tidak ada masalah sama sekali," urainya. Akan tetapi, lanjutnya, mereka yang tidak mampu melihat kebenaran, yang tidak bisa menerima hal yang sama di dalam berbeda dan berbeda di dalam sama, mereka akan melihat masalah di dalam tidak adanya masalah. "Mereka melihat problem di dalam bukan problem. Perlahan 'bola masalah' menggelinding terus, mengambil kotoran dari sana sini, dan pada akhirnya ia menjadi sebuah bola besar yang bersiap menjadi 'bom atom' penghancur kemanusiaan," paparnya.


Menggelindingnya secuil 'es salju' akhirnya menjadi semakin besar dalam perjalanan 'gelinding' dari mulut ke mulut, dari telinga ke telinga, dan akhirnya menjadi sebuah kebencian besar yang harus diselesaikan dengan pertempuran habis-habisan yang merugikan serta menghancurleburkan semua pihak dan semua arah. "Kekeliruan dan kesalahpahaman cara menerima perbedaan pandang seperti inilah yang membahayakan kesatuan dan persatuan suatu komunitas, daerah, atau bangsa dan negara, bahkan dunia bisa dibuatnya habis tanpa sisa," ujarnya.


Kejelian melihat persamaan di dalam perbedaan harus menjadi darah dan daging dari setiap orang yang menginginkan keindahan, kesejahteraan, dan kebahagiaan hidup bersama di masyarakat. Leluhur setiap bangsa pasti selalu mengajarkan hal ini. "Dunia beruntung bahwa literatur Sanskerta masih mencatat pesan indah tersebut. Literatur Jawa Kuna pun masih mem-file rapi ajaran indah tersebut. Beberapa literatur Sanskerta mencatat pesan indah ini," paparnya.
Paling tidak, lanjut Darmayasa,  kitab sastra Sanskerta mengabadikannya bahwa orang-orang yang berpikiran sempit akan selalu mengembangkan prinsip ini milikku dan itu milikmu. Sedangkan mereka yang mempunyai pandangan luas, bijaksana, mempunyai prinsip bahwa seluruh dunia adalah sebuah keluarga besar.


Kesadaran orang-orang bijak 'menyeberangi' segala batas-batas pemisah insan karena pembatas tersebut hanyalah demi kegagalan menjadi manusia. "Segala kemuliaan bersembunyi di dalam perbedaan, dan bukan dalam persamaan. Hanya setelah itulah persamaan akan hadir. Sebab, tempat rahasia persamaan ada dalam perbedaan. Hanya melalui berbedalah orang bisa menjadi sama. Perbedaan melahirkan persamaan. Persamaan yang lahir dari persamaan sesungguhnya merupakan persamaan yang tidak bersama," ungkapnya.


Literatur Jawa Kuna juga mewariskan kebesaran jiwa para leluhur untuk anak cucu generasi bangsa ke depan. Mpu Tantular dalam kakawin Sutasoma mencatatkan dengan puisi sangat indah. Konon Buddha dan Shiwa merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab, kebenaran Jina (Buddha) dan Shiwa adalah tunggal. Berbeda itu namun tunggal adanya, tidak ada kebenaran  yang mendua.


"Akhirnya, para bijak yang teguh dalam jalan dharma akan berusaha mencapai kesempurnaan dalam 'Tiga Da', yaitu 'Da' sebagai pengendalian indria, 'Da' sebagai dana-punia, dan 'Da' sebagai belas kasih," pungkasnya.

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia