Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Warga Seraya Tembus Tertusuk Keris saat Ngunying Meninggal

01 November 2019, 22: 37: 03 WIB | editor : Nyoman Suarna

Warga Seraya Tembus Tertusuk Keris saat Ngunying Meninggal

MENINGGAL : Setelah mendapat perawatan intensif di RSUP Sanglah, Denpasar, I Gede Suardana, warga Dusun Ngob, Banjar Dinas Peninggaran, Desa Adat Seraya, dinyatakan meninggal Jumat (1/11) dini hari, atau sekitar pukul 00.14. (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Korban saat ngunying atau ngurek keris di Pura Segara Batu Telu, Desa Seraya, I Gede Suardana, 40, akhirnya menyerah melawan rasa sakitnya setelah mendapat perawatan intensif di RSUP Sanglah, Denpasar. Suardana, warga Dusun Ngob, Banjar Dinas Peninggaran, Desa Adat Seraya, itu dinyatakan meninggal Jumat (1/11) dini hari, atau sekitar pukul 00.14.

Sebelumnya, Gede Suardana yang merupakan krama murwa pangayah panagarep di Desa Adat Seraya, tertusuk keris di dada sebelah kanan saat melakukan narat (ngunying) atau menghujam keris di dada, pada rangkaian prosesi upacara madewa ayu di Pura Segara. Hal ini dibenarkan Bendesa Adat Seraya I Made Salin.

Made Salin menjelaskan, beberapa saat kejadian, prosesi upacara berjalan lancar. Berdasarkan kesepakatan internal, para krama pangayah, termasuk Gede Suardana mengabsen sebagai tanda hadir. Namun beberapa saat kemudian, semua krama pangayah pangarep meninggalkan area pura untuk kembali ke rumah masing-masing.

"Tapi saya lihat, Gede (korban) masih di pura. Saya tanya 'De adi nu dini?' (Gede, kenapa masih di pura?). Saya tanya begitu. Siapa yang tahu kalau Gede akan menari lagi (ngayah) di pura," tutur Made Salin kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Jumat malam (1/11).

Saat semua pamedek memenuhi area pura, prosesi pun dimulai. Alunan gamelan ditabuh kencang. Gede Suardana yang awalnya duduk di pelataran pura, tiba-tiba mengalami kerauhan. Dalam keadaan tidak sadar, korban melakukan aksi narat atau menghujam keris di dada. "Bahkan keris yang dipakai ada dua, kiri dan kanan," imbuh bendesa.

Sebagian pamedek juga ikut ngunying dalam keadaan tidak sadar. Namun suasana magis berubah drastis. Dada Gede mengucur darah di dada kanannya. Sontak pangempon pura dan warga dibuat panik. Tidak ingin ada kejadian yang negatif, panitia pangempon pura melarikan korban ke Puskesmas Karangasem II. "Karena lukanya cukup parah, korban dibawa ke RSUD Karangasem. Setelah itulah baru dirujuk ke RS Sanglah."

Pihak keluarga menunggui korban di RSUP Sanglah. Di hari terakhir korban, istri, ayah, dan adiknya hadir, menyaksikan Gede Suardana menghembuskan napas terakhir. Isak tangis pecah. Istri korban bahkan tidak bisa diajak komunikasi sejak korban masuk UGD Sanglah.

Jenazah dibawa ke Karangasem, Jumat (1/11) pagi dan sampai sekitar 04.00 di rumah duka. Kata Made Salin, prajuru adat dan prajuru krama pangarep sudah melaksanakan rapat, Jumat (1/11) malam. Jenazah akan diaben Senin (4/11) di kuburan desa adat setempat. Tindak lanjut ke depan, pihak desa akan memberikan wujud tali kasih sebagai penghormatan terhadap korban. "Tapi nanti kami masih bahas itu," ujar Salin.

Bahkan pihak pangempon pura juga menggelar rapat, bersamaan dengan rapat keluarga, di tempat berbeda. Sabtu (2/11), digelar upacara pembersihan di Pura Segara, terkait insiden yang terjadi. "Kami tidak tahu apa penyebabnya. Di satu sisi ini adalah adat dan budaya. Secara niskala, semua hal tidak dapat diprediksi," pungkas Made Salin.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia