Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Jejak Religi Desa Bulian, Kubutambahan (1)

Beringin Ditanam Tahun 1320, Nekat Bakar Mayat, 7 Warga Meninggal

04 November 2019, 09: 17: 17 WIB | editor : I Putu Suyatra

Beringin Ditanam Tahun 1320, Nekat Bakar Mayat, 7 Warga Meninggal

KERAMAT: Pohon Beringin keramat di Dusun Dauh Margi, Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan yang usianya menginjak 700 tahun ditunjukkan oleh Gede Suardana Putra. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

Saat melintas di jalur Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan sering kali kita melihat Pohon besar dengan ketinggian hampir 75 meter. Siapa sangka, pohon yang berlokasi di pusat desa, tepatnya Dusun Dauh Margi ini rupanya ditanam pada 22 November tahun 1320 oleh tokoh Bulian.

 

I PUTU MARDIKA, Kubutambahan

POHON Beringin ini sebagai pancer desa, pohon ini kerap memberikan sinyal ada bencana, jika daunnya meranggas. Kondisi ini terungkap dalam diskusi bertajuk “Tutur Telusur Warisan Budaya Bali Utara” yang digelar Yayasan Pelestarian Warisan Budaya Bali Utara pada Jumat (1/11), membawa Koran ini ikut menelusuri kawasan permukiman Desa Bulian. Benar saja, sebagai desa tua, Bulian menyimpan segudang peninggalan sejarah spiritual yang sangat menarik dikupas.

Menariknya, dalam dua dekade ini sejumlah temuan artefak kuno mengungkap identitas sejati Bulian. Dari riset arkeologis, desa ini diyakini sebagai salah satu desa tertua di Nusantara, yang menghubungkan sejarah Kerajaan Bali Kuno dari abad ke-3 hingga saat ini. Dibandingkan dengan desa-desa lain di selatan Bali, Bulian terbilang masih sangat asri dengan situs sejarah dan spiritual yang letak dan strukturnya masih asli minim sentuhan restorasi. 

Seperti diceritakan tokoh desa Bulian, Gede Suardana Putra, 65. Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Suardana menceritakan jika berbicara Bulian kurang lengkap jika tidak diawali dengan mengupas Pohon Beringin yang berada di pusat desa. Pohon yang berada di tengah permukian warga ini bahkan dijadikan simbol keberadan Desa Bulian.

Suardana mengatakan, usia pohon Beringin keramat ini sudah mencapai 700 tahun. Pohon beringin ini ditanam oleh tokoh Jero Pasek Bulian bersama Pratisentana Arya Kebon Tubuh, sebagai pertanda disahkan dan diberlakukannya awig-awig Desa Bulian.

“Pohon ini sebagai pancer, puser dan simbol keadilan dan kebenaran bagi Bulian. Tepatnya ditanam pada Tumpek Kuningan, Sasih Kelima,” ungkap pria yang juga mantan Perbekel Desa Bulian di hadapan belasan peserta diskusi di bawah pohon Beringin.

Tak berlebihan memang, jika pohon ini dikatakan tua. Batang pohon sudah banyak yang melapuk termakan usia. Akar gantungnya juga tak terhitung banyaknya melilit batang pohon. Daunnya tetap rimbun dan asri. Di bawah pohon beringin juga terdapat dua buah pelinggih. Di sinilah warga sering menghaturkan sesajen.

Dikatakan Suardana, sebagai pohon tua yang dikeramatkan, tentu saja tidak pernah lepas dari sejumlah kisah mistis yang di luar nalar. Semisal saja jika daun pohon beringin kerap memberi sinyal akan terjadinya bencana, atau desa sedang leteh (kotor).

“Kalau daunnya rimbun, hijau, maka pertanda desa Bulian sedang dalam kondisi aman dan baik-baik saja, penuh kedamaian dan kesejukan. Tapi kalau daunnya gersang dan meranggas, maka itu pertanda bahaya atau bahaya. Harus waspada,” imbuhnya.

Meski lupa angka tahunnya, namun diceritakan Suardana bencana yang dimaksud adalah dilanggarnya awig-awig oleh sejumlah warga Bulian. Dimana, mereka melakukan upacara pembakaran mayat. Tidak ada hujan dan angina, tiba-tiba saja batang pohon Beringin patah dan menimpa orang, hingga mengakibatkan tujuh orang meninggal dunia.

“Dresta kami memang tidak pernah bakar mayat. Cukup dikubur saja. Nah ternyata ada yang melanggar. Tujuh orang meninggal,” imbuhnya.

Peristiwa tersebut rupanya tak membuat warga lain kapok. Berselang beberapa tahun dari tragedi itu, masih saja ada warga yang melakukan upacara kematian dengan membakar mayat. Tentu saja, peristiwa serupa kembali terjadi.

“Ada lagi, orang tua meninggal, dibakar mayatnya, lagi dahan pohon beringin yang tumbang. Saya hitung tujuh orang yang meninggal lagi. Nah dari sanalah tidak ada yang berani lagi membakar mayat di setra,” bebernya.

Lalu apa ada perlakuan khusus dari Pohon Beringin keramat ini? dijelaskan Suardana, krama desa Bulian wajib menghaturkan Sapi Selem Injin (Sapi hitam mulus, Red) untuk dijdikan caru bertepatan dengan Tileming Sasih Kapitu. Sapi tersebut dihaturkan tepat di bawah pohon beringin.

“Maksimal dalam kurun 10 tahun sekali wajib menghaturkan sapi selem injin. Boleh juga tiap lima tahun sekali. tapi yang paling bagus dan ideal adalah setiap tahun sekali menghaturkan caru ini di bawah pohon beringin. Sehingga bhuana agung dan bhuana alit tetap harmonis di Bulian,” jelasnya. 

Selama ini, daun dari pohon beringin keramat juga kerap dipetik untuk dijadikan sarana upakara. hanya saja, warga wajib memohon atau meminta iji dengan menghaturkan sesajen atau canang sari sebelum memetiknya. “Ya sudah biasa, karena keramat, jadi wajib minta ijin dului sebelum memetik,” tutupnya.

Selain memiliki beringin keramat, Desa Bulian juga memiliki kahyangan tiga yang sedikit berbeda dengan konsep kahyangan tiga yang diperkernalkan Mpu Kuturan. Seperti apa? simak ulasan berikutnya. (bersambung)

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia