Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Kitab Suci Weda “Takut” Bila Orang Bodoh Membacanya, Ini Alasannya

04 November 2019, 10: 15: 35 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kitab Suci Weda “Takut” Bila Orang Bodoh Membacanya, Ini Alasannya

PEDANDA : Ida Pedanda Gde Isana Manuaba dari Griya Lebah Manuaba, Banjar Kedampal, Desa Abiansemal, Kecamatan Abiansemal, Badung. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

ABIANSEMAL, BALI EXPRESS - Kitab suci sangat disakralkan, sehingga kebanyakan umat Hindu, terutama remaja enggan menyimaknya. Sebenarnya kitab suci seperti Weda bisa dibaca siapa saja?

Sebagai umat Hindu, semenjak kecil telah diajarkan bahwa kitab suci agama Hindu adalah Weda. Dijelaskan Ida Pedanda Gde Isana Manuaba, 55, Weda berasal dari kata 'Vid' yang artinya pengetahuan. Sehingga semua buku pelajaran, lanjutnya, bahkan petualangan adalah sebuah pengetahuan.

“Weda itu adalah pengetahuan. Tidak ada yang lebih suci  dari pengetahuan,” tutur Ida Pedanda Gde Isana Manuaba kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin.


Dicontohkanya, ketika seseorang ingin pergi ke Prancis sendirian, jika bisa berbahasa dan punya pengetahuan tentang negara itu, maka orang tersebut akan berani ke sana sendirian. Sebaliknya, jika tidak tahu sama sekali tentang Prancis, maka tidak akan berani ke sana. “Itulah pentingnya sebuah pengetahuan, karena bisa menyebrangkan manusia dari lautan kesengsaraan,” ucap Ida Pedanda dari Griya Lebah Manuaba, Banjar Kedampal, Desa Abiansemal, Kecamatan Abiansemal, Badung ini.


Tentang Weda sebagai kitab suci Hindu, Ida Pedanda Gde Isana Manuaba merujukkan bahwa itu ke Catur Weda yang terdiri dari Reg Weda yang disusun  Bhagawan Pulaka, Sama Weda yang disusun  Bhagawan Jaimini, dan Yajur Weda yang disusun  Bhagawan Waisampayana, dan Atharwa Weda yang disusun Bhagawan Suamantu. Selain itu, juga ada Bhagawadgita, Purana maupun Itihasa. 

Ida Pedanda Gde Isana Manuaba mengatakan bahwa semua orang boleh membaca semua kitab-kitab suci itu, asal didampingi seorang guru. Sebab, Catur Weda dan kitab lainnya adalah pengetahuan tentang Ketuhanan, sehingga tidak bisa dipahami secara tekstual saja karena bisa menimbulkan multitafsir. Oleh sebab itu, lanjutnya, membaca Kitab Suci Catur Weda harus didampingi  seorang guru.

Dalam Bayu Purana I.201 disebutkan 'Ithiasa puranabhyam vedam samupabrmhayet, bibhettyalpasrutad Vedo mamayam praharisyati'.  "Maksudnya, hendaknya Weda dijelaskan melalui Ithiasa dan Purana. Weda merasa takut kalau orang bodoh membacanya. Weda berpikir bahwa orang bodoh tersebut akan memukulnya," urainya.


Ida Pedanda Gde Isana Manuaba memberi pandangan bahwa sloka tersebut lebih kepada bahwa orang yang kotor bukan secara fisik, namun kotor itu secara pikiran yang  memang tidak diperkenankan membaca Weda. Menurtnya, karena orang yang punya pikiran kotor,  cenderung akan mengartikan tulisan di dalam kitab suci itu secara langsung dan hal itu bisa salah. Apalagi jika yang salah itu nanti diberitahukan ke orang lain yang juga tidak tahu tentang Catur Weda.


Hal ini menyebabkan pentingnya peran seorang guru jika ingin belajar Kitab Suci Catur Weda. Bahkan, Bhagawadgita pun dalam mempelajarinya, lanjut Ida Pedanda Gde Isana Manuaba, harus didampingi seorang guru. “Kesalahan mengartikan itulah sebenarnya yang ditakutkan oleh Weda. Tanpa guru seseorang yang punya pikiran kotor akan salah menafsirkan. Baca sesuai apa yang ada,” ungkapnya.

Dicontohkannya dalam sloka Bhagawadgita 9.22 yang menyebut : 'Ananyas cintayanto mam, ye janah paryupasate, tesam nityabhiyuktanam, yogaksemam vagamy aham'. "Orang yang pikirannya kotor saat baca bagian 'cintayanto mam', bisa berpikir Bhagawadgita mengajarkan boleh mencintai ibu sendiri (cinta lawan jenis) kan salah. Padahal, sloka itu memiliki makna 'Berpikirlah tentang Aku' (Tuhan),” papar Ida Pedanda Gde Isana Manuaba

Secara sederhana, pedanda yang memiliki nama welaka Ida Bagus Putu Tapawana ini, memberi gambaran tentang pentingnya sosok guru ketika menonton televisi. Seorang anak harus didampingi oleh orang tuanya saat menonton, agar bisa membimbing mana tayangan yang boleh ditonton, mana yang tidak. Orang tua pun kan masuk guru, yakni Guru Rupaka. 


Lebih lanjut dikatakannya,  umat Hindu sebaiknya memang harus mempelajari kitab suci, baik Catur Weda, Bhagawadgita maupun Ithiasa dan Purana. "Bisa dengan metode membaca di rumah, kemudian saat ada waktu datang ke gurunya untuk meminta penjelasan tentang sloka yang ia baca. Sama seperti seorang siswa belajar di rumah, pas di sekolah ditanyakan ke guru. Itu bagus sekali,” paparnya.

Apalagi di media sosial saat ini banyak fenomena orang non Hindu ada yang mengutip sloka di Kitab Suci Catur Weda. Orang Hindu yang tidak tahu, bisa bingung untuk menanggapinya, karena tidak punya pengetahuan tentang Kitab Suci Catur Weda. Dia pun memberi saran agar tidak langsung menanggapi. “Lebih baik pelajari, tanyakan kepada guru atau orang yang mengerti. Kalau langsung diladeni, padahal tidak tahu, berarti dia melakukan kebodohan,” ucap Ida Pedanda Gde Isana Manuaba.


“Jangan mau kalah, orang non Hindu yang mengutip sloka Weda pasti juga sudah mempelajari sebelum mengutipnya,” paparnya.

Dari banyak kitab suci tersebut, lanjut Ida Pedanda Gde Isana Manuaba, seseorang bisa membaca yang mana saja dan dari anak-anak pun sudah bisa dimulai, namun biasanya sesuai arahan dari sang guru. “Guru itu tahu, seorang siswanya harus mulai baca kitab yang mana terlebih dahulu,” terangnya.


Selain harus didampingi oleh seorang guru, sebelum membaca kitab suci, seseorang harus sudah mandi. Kemudian memberi hormat kepada guru, selanjutnya baru mulai membaca kitab suci tersebut. Lantas,  dimana harus mencari guru bagi orang awam? "Datang saja ke seorang Ratu Peranda atau orang lain yang mumpuni,” tandasnya

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia