Rabu, 26 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese
Jejak Religi Desa Bulian, Kubutambahan (2)

Biaya Ngaben Rp 500 Ribu, Ada Palinggih yang Berdiri Sejak Tahun 1320

05 November 2019, 11: 01: 33 WIB | editor : I Putu Suyatra

Biaya Ngaben Rp 500 Ribu, Ada Palinggih yang Berdiri Sejak Tahun 1320

UNIK: Pura Dalem di Desa Bulian yang memiliki sejumlah keunikan. Dengan arsitektur yang sangat bagus, sudah ada sejak 1320. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

Bulian mewarisi pura unik dari para pendahulunya. Menariknya, Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan tak memiliki pura kahyangan tiga yang notabene ajaran warisan Mpu Kuturan di Bali pada umumnya. Namun krama Bulian tetap memungsikan tiga pura layaknya kahyangan tiga.

 

I PUTU MARDIKA, Kubutambahan

 

KORAN inipun sempat mengunjungi tiga pura yang difungsikan layaknya Kahyangan Tiga. Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) tokoh Bulian, Gede Suardana Putra, 65 merinci tiga pura tersebut di antaranya Pura Taman Sari yang difungsikan sebagai Pura Puseh, Pura Banua yang difungsikan sebagai Pura Bale Agung dan Pura Dalem.

Dikatakan Suardana, Pura Taman Sari yang pujawalinya jatuh bertepatan Buda Cemeng Kelawu tidak hanya disungsung masyarakat Desa Bulian saja. Tetapi juga dari seluruh Bali, termasuk Desa Kubutambahan.

Menurutnya, bangunan suci berarsitektur kuno ini disebut Suardana sebagai Bagawantanya Ida Bhatara Ratu Hyang. “Masyarakat yang ingin nunas tirta untuk banyuawangan, pebersihan maka nunasnya di pura ini. Ada juga upacara Siwa Sampurna, sarananya pakai hewan kerbau, itu tingkatan upacara yang utama,” tuturnya.

Bergeser ke utara, Koran ini juga diajak untuk mengunjungi Pura Dalem yang posisinya sebelah utara Pura Taman Sari. bangunan ini begitu khas. Relief ukiran benar-benar menandakan jika usianya sudah menginjak ratusan tahun.

Benar saja, Suardana menyebut jika Pura Dalem ini diperkirakan sudah ada sebelum tahun 1320. Tahun ini dijadikan dasar mengingat awig-awig Desa Bulian disahkan dan mulai diberlakukan pada tahun itu bertepatan dengan penanaman pohon beringin rimbun yang berada di pusat desa hingga kini masih berdiri kokoh.

Pura yang memiliki bagian tri mandala ini memiliki pelinggih utama yang begitu megah. Nampak pelinggih Ida Batara Ratu Gede Dalem Purwa Bhumi memiliki arsitektur ukiran khas Buleleng yang sangat indah. Uniknya, pura ini menghadap ke selatan, sehingga krama yang nangkil saat bersembahyang mengarah ke utara. “Makanya dijadikan simbol tidak boleh membakar mayat, dan disebut Wisnu Loka,” bebernya.

Suardana menjelaskan, Pura Dalem ini bukanlah Pura Dalem Setra seperti di Bali pada umumnya. Meskipun ornament pura ini dihiasi patung Dewi Durga. Bahkan, dua buah patung Dewi Durga yang terpasang di pinggir pelinggih gedong disebut-sebut merupakan sumbangan dari Raja Panji Sakti.

“Sebenarnya sih bukan Dalem Setra. Tetapi dalem kerajaan. Jadi ini sistem pemerintahan secara niskala, yang dipuja adalah Ida Batara Ratu Gede Dalem Purwa Bhumi. Hanya saja, masyarakat memungsikan sebagai Pura Dalem, karena dianggap paling mendekati,” ujarnya.

Setiap Tileming Sasih Kedasa pura dalem ini sebut Suardana dibuatkan pujawali.  Krama juga sering melaksanakan tradisi upacara Bulu Geles di pura ini. Upacara ini disebut Suardana jauh lebih mulia dibandingkan upacara pengabenan.

“Kalau upacara pengabenan juga kami laksanakan. Tetapi sangat sederhana. Tidak pakai bade, seperti di Bali pada umumnya. Bahkan upacaranya hanya menghabiskan biaya Rp 500 ribu saja,” tuturnya.

Sedangkan di sebelah barat Pura Dalem yang hanya dipisahkan tembok penyengker, juga terdapat gugusan pelinggih yang disebut Pura Banua. Pura inilah difungsikan sebagai Pura Bale Agung  Desa Bulian. Ukirannya pun tak jauh kuno dibandingkan dua pura lainnya.

Dijelaskan Suardana, di Pura Banua ada sejumlah pelinggih. yakni pelinggih Ratu Gede Penyarikan, Ratu Gede Sesuhunan Madue Sari, Ratu Pasek, Ratu Hyang Surya Jnana sebagai simbol bumi dan bedawang nala yang disebut stana Raja Bali. “Pujawalinya di Purnama Sasih Kapat. pura ini difungsikan sebagai Pura Bale Agung,” imbuhnya.

Selain memiliki tiga pura unik, Bulian juga memiliki Pura Pingitan yang kerap didatangi para pejabat untuk memohon jabatan. Hanya saja, stana Ratu Hyang Pingit yang berlokasi di pinggir jurang ini begitu disakralkan oleh Warga Bulian. Karena tak boleh sembarangan untuk memasukinya.

“Kalau mau nangkil harus jam 12 malam, yang nangkil juga harus puasa makan suku pat (tidak makan daging hewan berkaki empat) selama tiga hari. Masuknya juga hanya sampai di pengayatan. kalau dapat restu artinya sukses,” tutupnya. (habis)

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia