Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ritual Unik di Pura Dalem Prajurit, Ada Segehan Berbentuk Musang

05 November 2019, 11: 46: 15 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ritual Unik di Pura Dalem Prajurit, Ada Segehan Berbentuk Musang

NGAYAH : Jro Mangku I Wayan Ardiasa, 51, yang ngayah menjadi pemangku pura sejak 2005. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

ABIANSEMAL, BALI EXPRESS - Pura Dalem Prajurit di Banjar Tagtag, Desa Sibang Gede, Kecamatan Abiansemal, Badung, punya ritual unik yang sudah dilakukan turun temurun. Selain itu, di satu area utamaning mandala ada dua buah pura, diempon oleh empat Kepala Keluarga (KK).

Tak sulit bila ingin nangkil ( sembahyang) ke  Pura Dalem Prajurit. Dari perempatan dekat Kantor Kepala Desa Sibang Gede, tempuh jalan lurus ke timur menuju ke arah Jalan Anggrek II di Banjar Tagtag, Desa Sibang Gede, Kecamatan Abiansemal, Badung. Di kiri jalan nantinya akan menemukan sebuah pura, dimana di tembok pura itu terdapat dua buah nama pura. Pertama Pura Pasek Gelgel dan yang kedua adalah Pura Dalem Prajurit.

Sesuai dengan nama yang tercantum di tembok pura tesebut, area pura ini memang menjadi lokasi dua buah pura. Pura dengan konsep Tri Mandala ini, di utamaning mandala pura memiliki palinggih berupa padmasana, Palinggih Pasek Gelgel dengan meru tumpang tiga dan Palinggih Meru Tumpang dua sebagai stana Gedong Ida Ratu Dalem Prajurit. Selain itu, juga terdapat bale piyasan dan bale gong. Di madyaning mandala terdapat Bale Pawaregan, dan  di nistaning mandala langsung di jalan depan pura.

Pura Dalem Prajurit yang terletak dalam satu area dengan Pura Pasek Gelgel ini, memiliki dua pemangku. Pura Dalem Prajurit yang menjadi pemangkunya adalah Jro Mangku I Wayan Ardiasa. Pria 51 tahun ini menyambut hangat Bali Express ( Jawa Pos Group)  yang kemarin menemuinya di sekolah tempat mengajar.

Pria yang kini sudah menyandang gelar S2 ini, mengungkapkan bahwa selama ini dia telah menelusuri sejarah pura, namun sampai saat ini belum menemukan secara tepat. Dia menyampaikan bahwa tetua dari pura pun juga kurang tahu alasan keberadaan Pura Dalem Prajurit  sampai di Desa Sibang Gede. “Saya tidak bisa menyampaikan  sejarahnya, juga  bagaimana kaitannya dengan Pura Dalem Prajurit di Klungkung. Hingga saat ini pun saya kurang tahu,” terang pria yang menjadi guru di SD No. 1 Sibang Gede ini.


Jro Mangku I Wayan Ardiasa, mengutarakan,  pernah diadakan nunas baos (meminta petunjuk), didapat hasil bahwa sudah 200 tahun lalu pernah ada pemangku, kemudian tidak ada lagi penerusnya hingga kemudian Ida Batara kembali 'menunjuk' seseorang menjadi pemangku. “Tetapi itu dari hasil nunas baos ya,” ucapnya.


Setiap piodalan yang jatuh pada Buda Umanis Wuku Tambir, ia mengakui ada proses nunas tirta ke Pura Dalem Prajurit di Banjar Pesalakan, Desa Pejeng Kangin, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar. Jro Mangku I Wayan Ardiasa pun mengaku tidak tahu alasan kenapa harus ke sana untuk nunas tirta, bukan ke Pura Dalem Prajurit yang ada di Klungkung.


Dalam proses piodalan ini, dimulai pada hari Selasa atau Anggara Kasih Wuku Tambir dengan melaksanakan pacaruan. Selanjutnya baru di hari Rab, keesokan harinya, proses piodalan dimulai dengan nunas tirta (mohon air suci)  ke Pura Dalem Prajurit di Pejeng Kangin. Pulangnya sesampai di Pura Dalem Prajurit, Sibang Gede ini, Jro Mangku I Wayan Ardiasa tidak bisa langsung membawa tirta ke utamaning mandala pura.


Pria yang juga memiliki dua anak ini, menerangkan ada ritual di depan pintu masuk ke utamaning mandala. Ritual ini terbilang unik karena menggunakan segehan berbentuk Rase (musang). 


“ Segehan bentuk Rase ditaruh di depan, tepatnya di tengah-tengah menuju pintu masuk ke utamaning mandala. Segehan Rase lengkap ada kaki dan ekornya. Dibuat di atas daun pisang dengan warna nasi hitam dan putih,” papar pria yang juga menjadi dosen Bahasa Inggris ini.

Penggunaan segehan Rase, lanjutnya,  identik dengan rencang (sosok penjaga gaib) Ida Ratu Gede Dalem Prajurit yang berupa Rase (musang). Tidak hanya segehan Rase, di tempat yang sama juga ditaruh Segehan Agung dengan nasi kepel sebanyak tiga buah, sebagai perlambang Dewi Durga. Lebih lanjut proses ini akan disiapkan pitik (anak ayam) kampung  berwarna hitam. Pitik ini disiapkan untuk nyambleh (dipotong). Proses ini juga terbilang unik, jika nyambleh biasanya pitik akan digorok lehernya hingga keluar darah, namun di Pura Dalem Prajurit, tidak dilakukan seperti itu.

“Hanya kepala ayamnya diolesi daun dadap, beras dan benang yang dinamakan sesarik, kemudian dilepaskan begitu saja. Setelah rirual itu, anehnya pitik itu hanya muter-muter saja tidak pergi jauh dari segehan di dekatnya,” imbuh pria yang menjadi pemangku sejak tahun 2005 ini.


Warna pitik hitam yang dipakai untuk ritual ini, tidak bisa digantikan degan warna lain. Pitiknya pun adalah yang masih kecil dan baru berubah warna total hitam. “Tidak pernah pakai anak ayam yang besar atau sedang, selalu kecil dan itu diupayakan ketika mereka baru berwarna hitam seluruhnya,” bebernya lagi.


Rupanya alasan ini sendiri berkaitan pula dengan pratima yang berada di dalam Gedong Meru Tumpang Dua sebagai stana Ida Ratu Gede Dalem Prajurit, yang berupa seekor burung yang ditunggangi pria berkulit biru gelap dengan sebuah gada, dimana pratima tersebut terbuat dari kayu. Selain itu, juga ada tameng yang terpisah dengan pratima. “Seperti sosok Dewa Wisnu ya, warnanya biru gelap. Mungkin hal ini juga yang menyebabkan warna pitik harus hitam. Kan warna arah utara itu hitam,” papar Jro Mangku I Wayan Ardiasa sambil melihat ke langit.
“Pitik kecil itupun dibiarkan hidup dan dibebaskan untuk pergi kemana saja. Ini sudah sejak lama dan memang seperti itu tradisinya sejak dahulu. Saya pun kurang tahu persis alasan dari tindakan ini,” pungkas Jro Mangku I Wayan Ardiasa.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia