Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Putusan Tipikor Prematur, Ketua PNPM UPK Rendang Tempuh Pra Peradilan

05 November 2019, 19: 50: 07 WIB | editor : Nyoman Suarna

Putusan Tipikor Prematur, Ketua PNPM UPK Rendang Tempuh Pra Peradilan

BERUNDING: Ketua PNPM Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Rendang I Wayan Sukertia (pakaian adat) tampak berunding bersama kuasa hukumnya di Mapolres Karangasem, Selasa (5/11). (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPTRESS -  Ketua PNPM UPK Rendang I Wayan Sukertia yang tersandung kasus korupsi dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaaan di Kecamatan Rendang, Karangasem, ditemui di Mapolres Karangasem tampak bersahaja. Namun dia memilih tidak meladeni pertanyaan awak media secara intens. Dia justru mempercayakan penasihat hukumnya untuk bicara di depan media. 

Atas penetapan tersangka oleh Unit Tipikor, penasihat hukum Wayan Sukertia menyatakan menerima dan tetap menghormatinya. Hanya saja mereka menilai penetapan Wayan Sukertia sebagai tersangka adalah penetapan yang terlalu dini. Mereka menyebut prematur.

I Made Arnawa, bersama I Nyoman Sariawan selaku penasihat hukum, akan mengajukan gugatan pra peradilan. Menurutnya, ada beberapa pihak yang bisa didalami keterangannya dari kasus ini. Misalnya kepala desa, terutama tim survei yang di dalamnya termasuk tokoh musyawarah antar desa di Rendang. 

Kata Arnawa, kliennya tersebut menyetujui permohonan kelompok jika telah disetujui tim survei. "Sebelum masuk ke meja kepala, proses peminjaman uang dilakukan tim survei. Ada tim survei yang bertugas di lapangan. Setelah tim memutuskan calon nasabah layak diberikan pinjaman, baru diputuskan (oleh ketua)," beber Arnawa mengungkap mekanisme pelolosan permohonan kelompok.

"Bukan klien kami saja yang berperan. Ada peran banyak pihak. Tim survei, musyawarah antar desa sebagai tim pemutus, ada juga kepala desa. Sangat aneh bagi kami, kenapa tim survei tidak mengetahui kelompoknya fiktif. Kan mereka yang melakukan (survei)," tanya Arnawa.

Untuk diketahui, penetapan tersangka I Wayan Sukertia berawal dari kasus yang sebelumnya menjerat dua wanita pembentuk kelompok fiktif, masing-masing Ni Ketut Wartini alias Gebrod, 40, atas kasus korupsi di PNPM Dusun Kunyit, Desa Besakih, serta Ni Wayan Murniati alias Bebel, 47, atas kasus korupsi di Dusun Kubakal, Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Karangasem.

Gebrod bermain dana PNPM 2015 dan 2016. Hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), perempuan ini bermain dana hingga Rp 1.670.780.000 dengan sengaja membuat 25 kelompok fiktif. Masing-masing kelompok mendapat kucuran dana kisaran Rp 50 sampai 90 juta. Bahkan dana tersebut tidak diajukan sekali. Setelah dana yang dicairkan pertama telah jatuh tempo, Gebrod tidak bisa melunasi. Kemudian dia mengajukan dengan kelompok fiktif. Gali lobang, tutup lobang, korupsinya jadi besar.

Sedangkan modus yang dilakukan Bebel pun sama. Hanya besaran yang berbeda. Hasil audit BPKP, Bebel menilep uang negara Rp 292.637.000 dana PNPM 2014 dan 2015 lewat tujuh kelompok fiktif. Keduanya melancarkan aksi mencantumkan nama-nama warga di sekitarnya dalam kelompok fiktif itu. Lebih dari 300 warga dimasukkan ke dalam kelompok fiktif tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. 

Kedua tersangka dengan mudah mengambil identitas warga dengan modus menjadi rentenir. Mereka meminta KTP warga yang pinjam uang. Diketahui, keduanya dengan mudah menjalankan kejahatan itu karena sama-sama pernah bekerja di kantor Unit Pengelola Kegiatan (UPK) PNPM Kecamatan Rendang.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia