Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Dalam Hindu, Minuman Beralkohol Tak Dilarang, Takarannya Diri Sendiri

06 November 2019, 07: 50: 50 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dalam Hindu, Minuman Beralkohol Tak Dilarang, Takarannya Diri Sendiri

MIRAS : Miras tak dilarang total atau dibolehkan sepanjang mempunyai manfaat kesehatan bagi peminumnya. (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Minum-minuman beralkohol dibolehkan, namun ada aturan yang mesti dipatuhi agar tidak menjadi bumerang yang justru merugikan diri sendiri, bahkan keluarga.

Minuman beralkohol atau mikol, yang terbayang bagi orang secara umum adalah  memabukkan, berdampak negatif atau hanya untuk kesenangan dan hura hura semata. Dalam Agama Hindu, mikol yang juga populer dengan sebutan minuman keras (miras) ini,  tak dilarang total atau dibolehkan sepanjang mempunyai manfaat kesehatan bagi peminumnya. Soal minuman beralkohol ini  ada dalam dasar yadnya di agama Hindu.

Ida Pedanda Gde Isana Manuaba, 55 menjelaskan dalam dasar yadnya tersebut terdapat Panca Makara, yakni ada lima dasar dalam yadnya. Kelima dasar itu adalah Matsya yang berarti ikan. Ikan yang digunakan dalam yadnya berupa gerang (ikan teri). Kedua adalah Maituna yang berarti berhubungan badan. Dimana berhubungan badan menghasilkan generasi yang menjaga tradisi, dalam yadnya ini disimbolkan dengan tipat (ketupat).

“Tipat jadi simbol  karena mempertemukan busung (janur) dengan busung. Selain itu, dalam tipat ada nasi, yakni  amerta (kehidupan),” papar Ida Pedanda Gde Isana Manuaba kepada Bali Express (Jawa Pos Group) awal pekan ini.


Selanjutnya, yang ketiga adalah Mantra. Setiap melakukan yadnya tentu memakai mantra, walaupun berdoa menggunakan bahasa sehari-hari, tetap saja itu adalah mantra. Keempat adalah Mudra, yang memiliki arti gerakan. Semua tentu tahu bahwa dalam yadnya upacara agama Hindu tidak lepas dari adanya tarian yang ditampilkan ketika piodalan di  pura. Terakhir adalah Mada, yakni mabuk dilambangkan kalau di Bali dengan tuak, berem, dan arak.


Ida Pedanda Gde Isana Manuaba menerangkan bahwa dari Panca Makara inilah minuman beralkohol tidak bisa lepas juga dari yadnya umat Hindu, namun  tidak dibenarkan untuk mabuk karena miras. “Minum-minuman beralkohol dibolehkan asal sesuai takaran. Kalau minum berlebih ya tanggung sendiri akibatnya,” ingatnya  saat ditemui di Griya Lebah Manuaba, Banjar Kedampal Abiansemal, Badung.


“Dalam Hindu tidak ada larangan untuk minum-minuman beralkohol,” tambahnya.
Takaran untuk menikmati minuman beralkohol  ini agar tidak sampai memabukkan.
Takaran dalam minum miras, lanjutnya,  hanya bisa ditakar dan dirasakan oleh diri sendiri. “Jika sudah hangat ketika minum tuak misalnya, ya artinya selesai minumnya. Jika masih belum hangat,  boleh ditambah sampai merasa hangat. Sehingga semua itu kembali menakar kepada diri sendiri,” paparnya.


Agama Hindu menurut Ida Pedanda Gde Isana Manuaba memandang kualitas, bukan kuantitas. Sehingga dalam kasus minuman beralkohol, maka bukan takaran menjadi tolok ukurnya. "Melihat orang minum miras pun, kita tidak boleh menyalahkan. Karena dalam Hindu itu menyalahkan adalah sebuah kesalahan. Jika Anda menyalahkan, maka Anda sudah salah, lebih baik berikan solusi jika melihat sesuatu yang salah. Hingga tidak semata-mata hanya bisa menyalahkan,” ujarnya sumringah.


“Membenarkan sesuatu pun belum tentu benar. Saya berikan contoh, bagi orang lain makan olahan daging kambing sehat, tetapi bagi Peranda misalnya tidak baik, karena bisa menyebabkan darah tinggi. Dapat ditarik kesimpulan bahwa kebenaran bagi kita belum tentu benar bagi orang lain,” paparnya.


Minum-minuman beralkohol dalam Hindu diperbolehkan sepanjang ada manfaatnya. Ida Pedanda Gde Isana Manuaba, memaparkan bahwa jika minum bir misalnya untuk kesehatan, menghangatkan badan, maka diperolehkan. Bagi pria yang memiliki nama walaka Ida Bagus Putu Tapawana, minum bir tidak salah untuk kesenangan, namun juga itu tidak dibenarkan, sehingga lebih baik menganjurkan agar jangan dilakukan.


Senada dengan Ida Pedanda Gde Isana Manuaba, di tempat lain pinandita Drs. I Ketut Swastika mengungkapan bahwa dalam Hindu diperbolehkan minum-minuman beralkohol. Wakil Ketua PHDI Bali ini, juga menjelaskan bahwa ada anjuran ciri-ciri sebatas mana boleh memakai bir ataupun tuak untuk diminum yang sudah umum dikenal.


Delapan istilah bagi peminum tuak ini yang mulai dari Eka Padmasari dan Dwi Angermetani yang artinya minum tahap ini untuk kesehatan, menghangatkan tubuh dan menyegarkan. Selanjutnya ada Ti Raja Busana ditandai dengan muncul rasa arogansi, mata mulai merah, hidung merah pada si peminum. Kondisi peminum jika sudah seperti itu, menurut Pinandita Drs. I Ketut Swastika, bisa dipancing-pancing rahasianya oleh orang. Selanjutnya ada Catur Kokila Basa, dimana tanda dari peminum ini sudah mulai berkata tidak jelas, cenderung membuka rahasia orang lain ataupun rahasianya sendiri. “Mirip crukcuk punyah (burung mabuk), sehingga berbahaya karena bisa menimbulkan pertikaian,” ujar Pinandita Drs I Ketut Swastika.


Kemudian ada Panca Wanara Konyer,  dimana peminumnya  kalau sudah sampai tahap ini, menunjukkan ciri seperti bojog (monyet), berjoged-joged, cengar-cengir sendiri. Ciri selanjutnya adalah, Sad Wanara Rukem ditandai dengan peminum sudah merasa kepalanya pusing berat. Berikutnya adalah Sapta Ketoya Basa. Orang yang sudah minum sampai dengan tahap ini, memiliki emosi yang tidak terkendali.


Terakhir ada Asta Kebo Dangkal, dimana si peminum mabuk berat yang akhirnya tidak bergerak, karena tertidur hingga ngorok. “Patokannya minum-minuman beralkohol, tentu tidak pakai seloki karena setiap orang mempunyai ketahanan minum yang berbeda. Ada yang seloki kecil sudah bisa mabuk, sedangkan ada juga minum dengan ukuran lebih besar masih biasa saja kondisinya,” tandasnya.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia