Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Tamban Sari Beji Mengwi; Air Bertuah, Kabulkan Beragam Keinginan

06 November 2019, 11: 33: 37 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Tamban Sari Beji Mengwi; Air Bertuah, Kabulkan Beragam Keinginan

PENGAYAH: Mangku Pura Tamban Beji I Gusti Putra Ardana, kesehariannya jadi pangayah. Air pancoran sederhana ini, airnya ternyata mengandung belerang yang punya khasiat penyembuhan penyakit medis dan non medis. (KUSUMA YONI/BALI EXPRESS)

Share this      

MENGWI, BALI EXPRESS - Pura Beji pada umumnya sebagai tempat pasucian Ida Bhatara, selain kerap dimanfaatkan untuk malukat (membersihkan kekotoran lahir batin).Bahkan, bisa juga jadi tempat memohon kesembuhan, karena air yang keluar dari Beji dipercaya mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit medis maupun non medis.

Salah satu Pura Beji yang selain berfungsi untuk malukat dan memohon air suci, juga berfungsi sebagai tempat memohon kesembuhan adalah Pura Tamban Sari Beji di Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, Badung. Tepatnya, pura ini terletak di sisi selatan Pura Taman Ayun. Lantas,bagaimana muasal pura ini, dan seperti apa khasiat dari air yang keluar dari pancuran yang terletak di tebing ini?

Menurut pamangku Pura Tamban Sari Beji, I Gusti Putra Ardana, keberdaan pura ini tidak terlepas aktivitas leluhurnya yang pada masa dahulu berprofesi sebagai seorang balian. “Pura ini dibangun oleh leluhur saya, yang saat itu menjadi seorang balian,” jelas Mangku I Gusti Putra Ardana yang akrab dipanggil Aji Mangku ini.

Lantaran aktivitas dari leluhurnya ini adalah mengobati orang sakit, Aji Mangku menyebutkan leluhurnya akhirnya ingin membuat tempat pemujaan. Setelah melalui beberapa pertimbangan, lanjutnya, akhirnya diputuskan untuk membuat tempat pemujaan di lokasi Pura Tamban Sari Beji ini.

Tempat pemujaan tersebut dibuat untuk tujuan memuja Ida Sang Hyang widhi, namun karena ditemukan adanya sumber mata air, maka tempat pemujaan itu juga difungsikan sebagai tempat pemujaan Ida Bhatara Wisnu dan Ida Bhatari Dewi Gangga.

Meskipun sudah dibangun palinggih kala itu, namun yang dibangun belum merupakan palinggih permanen seperti saat ini. “Saat itu palinggih yang dibangun hanyalah palinggih sederhana,” lanjutnya.

Setelah dibangun palinggih di areal Pura Tamban Sari Beji,diakui Aji Mangku, aktivitas pengobatan yang dilakukan oleh leluhurnya tidak hanya terpusat di rumahnya saja, yang teletak di sisi timur Pura Taman Ayun, tetapi juga dilakukan di Pura Tamban Sari Beji ini.

Dikatakan Aji Mangku, air yang keluar dari pancuran dipercaya bias mengobati berbagai jenis penyakit. Salahsatunya berkhasiat untuk mengobati penyakit mata dan kulit. “Ini karena air yang keluar dari pancoran mengandung Belerang. Semua itu dapat dilihat dari jejak air di bawah pancoran yang meninggalkan bekas warna kuning,” terang pamangku yang saat ini aktif sebagai PNS di lingkungan Pemkab Badung.

Disinggung muasal sumber air pancoran Tamban Sari Beji ini, Aji Mangku mengatakan, air yang mengalir di pancoran tersebut dipercaya bersumber langsung dari Gunung Batukaru. Sehingga kandungan belerang pada air pancoran ini cukup tinggi. Selain berwarna kuning, air tersebut juga berbau sedikit amis.

Khasiat dari air pancuran Tamban Sari Beji ini untuk mengobati beberapa jenis penyakit, seperti penyakit kulit dan penyakit mata hingga penyakit kulit yang menaun. Selain itu, air Beji ini juga berkhasiat untuk mengobati penyakit yang bersifat niskala. “Salah satu contohnya adalah penyakit yang disebabkan oleh kekuatan negatif dan bebai,” ungkapnya. Karena khasiat dari air pancoran ini untuk mengobati berbagai jenis penyakit, baik itu penyakit medis maupun penyakit non medis, maka pancoran ini disebut sebagai Pancoran Sari Tamban Beji. Yang artinya, air yang keluar dari pancuran ini bisa digunakan sebagai tamba atau obat untuk berbagai jenis penyakit.

 Kabulkan Beragam Jenis Keinginan

 

Sebagai tempat malukat untuk umum, Pura Tamban Sari Beji ini tidak saja didatangi umat dari Desa Mengwi, tetapi hampir dari seluruh wilayah Bali.

Seperti yang diungkapkan Pemangku Pura Tamban Sari Beji, I Gusti Putra Ardana. “Pura Sari Beji ini sering kali didatagi oleh umat Hindu dari berbagai daerah di Bali untuk malukat. Rata-rata masyarakat yang datang untuk malukat, biasanya mendapat petunjuk dari orang pintar,” jelasnya.

Khusus untuk sarana malukat, mangku I Gusti Putra Ardana menegaskan, umat yang datang biasanya membawa sarana berupa dua buah pejati yang akan dihaturkan di palinggih utama Pura Beji yang ditunjukan kepada Bhatara Wisnu. Satu pejati lainnya dihaturkan di pancoran yang ditujukan kepada Ida Bhatari Dewi Gangga.

Selain membawa pejati, masyarakat yang datang juga diwajibkan untuk membawa sarana lain, yakni bungkah (kelapa muda) tiga warna, yakni bungkak Nyuh Gadang, Nyuh Gading, dan bungkak Nyuh Bulan. “Bungkak ini digunakan setelah melakukan pangelukatan di pancoran. Setelah itu, barulah malukat menggunakan air bungkak di ajeng Bhatara Wisnu,” tambahnya.

Tak hanya soal kesembuhan, lanjut mangku I Gusti Putra Ardana, umat juga ada yang memohon supaya mendapat keturunan. “Dari pengalaman saya ngayah jadi pamangku selama delapan tahun, memang ada umat yang datang ke pura ini untuk memohon keturunan, dan itu berhasil,” terangnya.

Dikatakannya, umat yang memohon keturunan secara rutin datang untuk malukat dan melakukan semedi di Pura Beji ini. “Setelah empat kali tangkil, keinginan umat yang sudah lama tidak punya keturunan itu, akhirnya terkabulkan. Pasangan suami-istru itu akhirnya bisa memiliki keturunan laki-laki,” pungkasnya. 

(bx/gek/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia