Senin, 09 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Kisah Santri Penuhi Pangan dengan Berjualan Kerupuk Lele

06 November 2019, 18: 47: 43 WIB | editor : Nyoman Suarna

Kisah Santri Penuhi Pangan dengan Berjualan Kerupuk Lele

OLAHAN LELE : Adi Saputra (kanan) memperagakan cara berjualan makanan olahan dari lele. Ia merupakan salah satu santri di Pesantren Ash Shalahuddin. (ISTIMEWA)

Share this      

BANDUNG, BALI EXPRESS - Menempuh jarak hampir 45 kilometer dari kota Bandung dengan waktu tempuh sekitar 120 menit, tim Aksi Cepat Tanggap Jawa Barat berkunjung ke Pesantren Ash Shalahuddin yang bertempat di Desa Sindang Kerta, Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Ketika memasuki area pesantren, terlihat gapura dengan tulisan pesantren enterpreuner.

Pesantren yang berdiri sejak 1956 ini mengusung pendidikan agama Islam serta kewirausahaan bagi para santri dan santriwatinya. Pimpinan pesantren, Ustaz Asep menuturkan, para santri diajarkan memegang prinsip Nabi Muhammad yang mengatakan bahwa kemiskinan dapat mendekatkan dengan kekufuran. Salah satu yang dapat dilakukan ialah dengan berniaga. “Santri di sini diajarkan untuk berjualan. Salah satu produknya ialah makanan dari olahan ikan lele, mulai dari kerupuk, abon, hingga stik lele dengan harga 2-20 ribu rupiah,” ungkapnya

Adi Saputra merupakan salah satu santri yang juga ikut belajar kewirausahaan dengan menjajakan produk olahan pesantren ke warga sekitar. Adi biasa menjajakan kerupuk lele dengan harga Rp 2 ribu per kemasan. Pendapatannya pun bisa mencapai Rp 80-120 ribu sekali berkeliling.

Namun, tak jarang ia juga tak mendapatkan pembeli sama sekali. “Kalau enggak laku ya sedih, tapi gak apa juga, sambil belajar,” ungkap Adi yang merupakan santri yatim di Pesantren Ash Shalahuddin ini.

Pesantren Ash Shalahuddin dihuni oleh santri dari kalangan keluarga perekonomian prasejahtera dan yatim. Mereka belajar di pesantren secara gratis. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,  termasuk pangan, para santri berjualan produk olahan lele. Cara ini juga menjadi salah satu materi belajar, apalagi pesantren melabeli diri sebagai pesantren entrepreuner.

“Tiap Senin sampai Jumat ada jadwal berjualan dari pukul 2 siang sampai pukul  5 sore. Santri menjajakan olahan dari lele dengan cara berkeliling pemukiman sekitar pesantren,” ungkap Asep.

Di dalam kompleks pesantren terdapat kolam-kolam tempat lele hidup. Bersama 57 santri dan 9 tenaga pengajar, mereka terlibat dalam produksi olahan lele, bahkan sejak pemeliharaan di kolam. Nantinya semua pendapatan dari usaha lele ini digunakan untuk keperluan pesantren dan para santrinya.

Pada hari Kamis itu juga, ACT memberikan satu ton beras untuk Pesantren Ash Shalahuddin. Beras ini merupakan kelanjutan dari program Beras untuk Santri Indonesia (BERISI) yang ACT luncurkan pada 22 Oktober 2019,  bertepatan dengan Hari Santri Nasional. Harapannya, dengan adanya beras ini dapat membantu kebutuhan pangan santri.  “Semangat belajar para santri ini perlu dijaga.Salah satu cara yang ACT lakukan,adalah dengan program BERISI,” ungkap Kepala Cabang ACT Jabar Renno Mahmoeddin.

(bx/yes/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia