Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ada Palinggih Rong Lima di Pura Gunung Sari, Pamedek Kerap Menangis

07 November 2019, 11: 42: 14 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ada Palinggih Rong Lima di Pura Gunung Sari, Pamedek Kerap Menangis

LIMA : Palinggih Rong Lima atau Palinggih Tetepan yang menjadi stana Ida Bathara Kawitan Pasek Tohjiwa. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

BUDUK, BALI EXPRESS - Pura Gunung Sari di Banjar Gunung, Desa Buduk, Badung, salah satu pura tua peninggalan Pasek Tohjiwa. Di tempat suci ini ada yang beda, ada Palinggih Rong Lima.

Kisah Pura Gunung Sari rupanya cukup panjang. Pura yang diperkirakan berdiri beberapa abad lalu ini, kini masih ditelusuri sejarahnya.

Pura Gunung Sari  menjadi tempat pemujaan bagi umat Hindu, khusus untuk Pasek Tohjiwa. Pangarep Pura Gunung Sari, I Made Mustika, 45, menjelaskan bahwa   keberadaan pura ini diperkirakan saat Ki Pasek Badak berkuasa di Buduk.

Ada Palinggih Rong Lima di Pura Gunung Sari, Pamedek Kerap Menangis

PANGAREP : I Made Mustika, 45, selaku pangarep Pura Gunung Sari. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Sebagai tempat pemujaan, pura ini rupanya berkaitan dengan warga yang rarud (pindah) ke Tangguntiti, Tabanan usai Ki Pasek Badak meninggal.

Selang situasi kondusif, warga yang pindah ke Tangguntiti kemudian ada yang kembali lagi ke Banjar Gunung, Desa Buduk. Pura Gunung Sari, Pura Ratu Nyoman Pangenter Jagat, dan Pura Tumbal Segara menjadi peninggalan Pasek Tohjiwa di Banjar Gunung, Desa Buduk. "Warga yang datang  kemudian merawat dan menjadi pangempon pura, sampai sekarang ini," urainya.
Dikatakannya, Pura Gunung Sari dianggap sebagai layaknya meru, sehingga menjadi simbol tempat tinggal dari Dewa-Dewi, makhluk kedewaan dan menjadi pusat jagat raya, sekaligus sumber kemakmuran. “Gunung adalah sumber kehidupan bagi manusia,” ucap I Made Mustika saat ditemui Bali Express  ( Jawa Pos Group) di kediamannya, kemarin.

Pura Gunung Sari  memiliki pangempon warga Pasek Tohjiwa dari Banjar Gunung, Desa Buduk hingga dari luar desa. Mulai dari Tangguntiti, Banjar Padangjerah Basangbe, Desa Perean Kangin, Tabanan, dan Busungbiu, Buleleng.


Pura yang piodalannya jatuh pada Buda Umanis Prangbakat ini memiliki konsep Tri Mandala. Di area utamaning mandala terdapat Palinggih Meru Tumpang Tiga sebagai stana Ida Batara Ratu Gede.


Palinggih Meru Tumpang Dua sebagai stana Ratu Ayu. Palinggih Rong Dua sebagai stana Ratu Biyang, ada juga  Taksu dan Pelik Sari serta Palinggih Ratu Ngurah. Dan, yang membedakan dengan pura pada umumnya, ada Palinggih Rong Lima atau Tetepan sebagai stana Pancaka Tirta (Ida Batara Kawitan Pasek Tohjiwa).


Palinggih Rong Lima ini unik dan jarang ditemui. Bentuknya mirip dengan Palinggih Kamulan, namun jumlahnya saja yang lima. I Made Mustika  bersama I Gede Nyoman Wiranatha yang juga panglingsir Jeroan Gede Jakatebel,  yang menyusun tentang risalah pura untuk mengetahui tentang keberadaan palinggih unik ini, mendapatkan beberapa kesimpulan yang masih ingin ditelusuri lebih lanjut, yakni yang pertama kalau Palinggih Rong Lima ini menjadi stana Ida Bathara Lelangit yang terdiri dari Mpu Gnijaya, Mpu Ketek, Kyai Agung Pamacekan, Kyai I Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa, dan I Gusti Pasek Tohjiwa. Kesimpulan kedua bisa menjadi tempat pemujaan Ida Batara Panca Tirta, yakni Mpu Gnijaya, Mpu Mahameru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan, dan Mpu Baradah. Kesimpulan lainnya, palinggih yang juga disebut Palinggih Tetetapan ini dimaknai agar jangan lupa dengan Ida Batara Lelangit. Jadi, tempat tersebut jangan diubah karena sebagai pijakan awal dan juga sebagai pusat jagat raya.


Pura Gunung Sari juga mempunyai sebuah pratima Kuda Putih yang dianggap sebagai prabhawa Ida Bathara lan Bathari. “Sementara di jaba tengah dan jaba sisi belum ada bangunannya, karena masih dalam proses penataa,” urainya. Sebagai Pura Kawitan merupakan tempat pemujaan atman suci leluhur dari umat Hindu yang memiliki ikatan wit atau lelehur berdasarkan garis keturunannya.

Pemujaan di pura ini menjadi bersifat spesifik karena pangemponnya adalah orang yang masih punya ikatan darah. Diakui I Made Mustika, ada beberapa orang pamedek (umat yang datang) menangis ketika sembahyang pertama kali ke pura. Hal ini membuatnya penasaran, sehingga ia menanyakan hal tersebut kepada orang-orang yang menangis tersebut.

Mereka ternyata menangis setelah akhirnya menemukan kawitan yang mereka cari selama ini. Diutarakannya, Pura Gunung Sari selama ini diempon oleh warga Pasek Tohjiwa saja yang diutus dari Tangguntiti kembali ke Banjar Gunung, Desa Buduk. “Warga yang awal mangempon adalah yang diutus dari Tangguntiti sekitar tahun 1700-an. Adanya kata diutus kembali ke Banjar Gunung, Desa Buduk dari Tangguntiti, Tabanan memiliki maksud ada sesuatu yang penting untuk diselamatkan sebagai warisan leluhur,” ujar pria dengan dua anak ini.


Warisan yang dimaksud, lanjutnya, adalah tiga pura , yakni Pura Ratu Nyoman Pangenter Jagat, Pura Tumbal Segara, dan Pura Gunung Sari. Dari sinilah, kemudian lambat laun akhirnya banyak warga keturunan Pasek Tohjiwa Banjar Gunung yang dahulu pindah kemudian saat kembali begitu terharu sampai menangis. Sebab, mereka telah menemukan pura kawitannya. “Mungkin Ida Bathara di Pura Gunung Sari memberi tanda bahwa mereka sudah benar ke sini, sehingga sampai bisa menangis seperti itu,” urainya.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia