Kamis, 14 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Enjoy Bali

Garapan Multiseni dari Kakabe dan Sanggar Natah Rare Tutup FSBJ 2019

08 November 2019, 10: 07: 45 WIB | editor : Chairul Amri Simabur

Garapan Multiseni dari Kakabe dan Sanggar Natah Rare Tutup FSBJ 2019

PERSIAPAN : Para seniman yang terlibat dalam garapan multiseni berjudul Terjebak di Dunia Maya usai menjalani sesi latihan pada Rabu (6/11). (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Sebuah kolaborasi seni antara Komunitas Kreatif Bali (Kakabe) dan Sanggar Natah Rare akan mewarnai penutupan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2019 di Panggung Terbuka Ardha Candra pada Jumat malam (8/11).

Kolaborasi dalam format pertunjukkan itu melibatkan beberapa jenis kesenian. Mulai dari musik, sastra (puisi dan teater), hingga pertunjukan. Komunitas Kreatif Bali yang memproduksinya menyebut garapan mereka dengan istilah musikal multiseni dengan judul “Terjebak di Dunia Maya”.

Sutradara yang juga penulis naskah pertunjukan ini, Iwan Darmawan, menyebutkan ada 80 orang penari dan pemain drama dari Sanggar Natah Rare yang akan dilibatkan dalam pementasan tersebut. Tidak ketinggalan juga Ni Putu Putri Suastini sebagai pembaca puisi.

Beberapa sesi latihan yang dilakukan Komunitas Kreatif Bali dan Sanggar Natah Rare jelang penutupan FSBJ 2019 (ISTIMEWA)

"Untuk komposer ada Onny Toele dan Ariesta Candra Carolus dari Perhimpunan Musisi Bali (10 musisi) dan GDV Production dan Dalang Pertunjukan Dewa Jayendra dan Produser Putu Indrawan, " jelas Iwan, Kamis (7/11).

Sesuai judulnya, garapan yang hendak ditampilkan pada penutupan FSBJ 2019 itu mengangkat topik teknologi informasi sebagai sebuah anomali. Mendekatkan yang jauh. Tapi menjauhkan yang dekat.

Secara maya, manusia kini lebih mudah berkomunikasi dengan orang di kejauhan. Namun, di saat yang sama, komunikasi langsung dengan orang-orang terdekat yang ada di dunia nyata justru tergerus.

Situasinya juga sulit terbendung. Bahkan sudah masuk ke komunitas terkecil yakni keluarga. Sebuah keluarga ada dalam sebuah ruangan, namun bisa saling tidak berkomunikasi. Mereka masing-masing asik dengan dunianya sendiri. Dunia yang terpampang pada sebuah alat atau media yang disebut-sebut gadget.

Di balik kemudahan komunikasi yang menyertainya, gadget membawa persoalan lainnya. Kecenderungan negatifnya juga ada. Karena begitu cepatnya tersalurkan, informasi data yang berseliweran melalui gadget tidak sempat disaring kebenarannya.

Terlebih informasi itu tengah menjadi tren. Ramai dibincangkan. Atau meminjam istilah pada ilmu virus, informasi itu terlanjur viral. Informasi palsu atau menyimpang itu kian popular dengan sebutan hoax. Tidak jarang hoax menimbulkan dampak di dunia nyata, seperti putusnya pertemanan hingga pemicu kerusuhan yang masif.

Gagasan itu dituangkan dalam sebuah pementasan yang berdurasi 60 menit. Terbagi dalam tiga babak yang rata-rata satu babaknya sekitar 20 menit. Kemudian dibalut dengan komposisi 12 musik garapan Onny Toele dan Othon Ariesta Candra Carolus. Dan naskah ini juga diterjemahkan empat koreografer yang terdiri dari Arik, Dian, Krisna dan Dibya ke dalam 12 tarian kontemporer. Pun demikian dengan para penari dan pemain drama yang dipandu Jayendra selaku dalang.

Pada musik terakhir masuk pada pembacaan puisi oleh Ibu Putu Putri Suastini Koster, yang masih relevan dengan tema yaitu kondisi yang bisa terpecah belahnya sebuah bangsa oleh hoax. Yaitu puisi berjudul 17 Agustus ciptaan Yudistira ANM Massardi.

"Uniknya dalam produksi ini, terlibat juga Kelian Adat Banjar Tegeh Sari Himawan dan Penyarikan Putu Adi Tama. Pemeran perempuan warga Tegeh Sari dan Dokter Diah, serta pentolan Harley Angles, Yaitu Basis Putu Indrawan dan drummer Kabe Gariyasa. Pertunjukan ini juga didukung musisi trompet, saxophone, biola dan cello," jelas Iwan.

FSBJ 2019 sendiri merupakan ruang seni modern pertama yang disediakan Pemprov Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Wayan Koster. Festival ini berlangsung selama dua minggu. Diisi dengan enam kegiatan utama : Pawimba (lomba), Aguron- guron (workshop), Adilango (pagelaran), Kandarupa (pameran), Tenten (Pasar malam seni), dan Timbang Wirasa (sarasehan).

(bx/hai/hai/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia