Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Features
Kiat Desa Tembok Tekan Plastik Sekali Pakai

Tak Pakai Plastik Saat Pawiwahan, Reward Babi, Besek hingga Akta

10 November 2019, 15: 30: 46 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tak Pakai Plastik Saat Pawiwahan, Reward Babi, Besek hingga Akta

SAH: Perbekel Tembok, Dewa Komang Yudi Astara saat menyerahkan Akta Perkawinan, Babi dan Besek untuk acara pawiwahan Gede Wangi dan Made Sugiantini sebagai reward atas diet kantong plastik saat upacara berlangsung. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

Inovasi konkrit dilakukan Perbekel Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Dewa Komang Yudi Astara untuk menekan penggunaan kantong plastik sekali pakai. Bagi krama yang berkomitmen tak menggunakan plastik sekali pakai saat melaksanakan upacara Yadnya, maka diberikan reward berupa Babi Hitam (bukan Landrace), besek hingga Akta Perkawinan bagi pasangan yang melaksanakan upacara pawiwahan.

I PUTU MARDIKA, Tejakula

TEROBOSAN itu awalnya diinformasikan Perbekel Yudi melalui akun Facebooknya pada Minggu 6 Oktober 2019 lalu. Dalam  akun @Dewa Komang Yudi tersebut, ia memposting sebuah foto tumpukan sampah plastik yang disisipi caption sebagai berikut:

"Untuk setiap warga Desa Tembok yang akan melangsungkan pernikahan dan berkomitmen untuk tidak menggunakan plastik sekali pakai selama upacara, kami akan berikan satu ekor babi hitam (kucit Bali, bukan Landrace atau Duroc) seberat minimal 80 kilogram sebagai reward. Komitmen ini berlaku mulai Senin, 7 Oktober 2019 besok (syarat ketentuan berlaku).

Berhubung ini serius, silahkan kabarkan kepada sanak saudara atau kerabat yang kebetulan akan mengakhiri masa lajangnya dalam waktu dekat. Ada yang mau jadi korban pertama?"  tulisnya.

Gayung bersambut. Rupanya, tantangan itu mendapat respons dari pasangan pengantin bernama Gede Wangi dan Made Sugiantini. Mempelai asal Dusun Tembok inipun digadang-gadang sebagai pasangan pengantin pertama di Tembok yang diet plastik saat melaksanakan hajatan perkawinan yang digelar beberapa waktu lalu.

Benar saja Mekel Yudi menepati janjinya. Gede Wangi dibantu satu ekor babi hitam, 600 lebih besek dan beberapa sarana konsumsi alternatif ramah lingkungan yang dibutuhkan selama upacara berlangsung. Tak ketinggalan saat resepsi digelar, mempelai ini langsung diberikan Akta Perkawinan yang diserahkan langsung oleh Mekel Yudi. Sontak saja, unggahan yang diposting di dinding akun Facebooknya pada Sabtu (9/11) lalu langsung viral dan mendapat apresiasi positif dari netizen.

Perbekel Dewa Yudi yang dikonfirmasi Bali Express (Jawa Pos Group) pada Minggu (10/11) menceritakan keefektifan sosialisasi diet sampah plastik sangat tergantung dengan siapa yang diajak komunikas. Menurutnya, langkah tersebut akan sulit diwujudkan jika sosialisasinya secara konvensional.

Nah, keterbatasan jumlah relawan yang konsen di bidang penyelematan lingkungan itulah membuatnya terpikirkan untuk membuat tantangan diet kantong plastik saat upacara Panca Yadnya yang digelar warga Tembok.

Upaya ini diklaim Mekel Yudi sebagai sarana yang ampuh untuk menyebarkan "virus positif" diet kantong plastik kepada warganya.

"Seminggu sebelum acara, mereka (mempelai, Red) datang ke rumah tiang. Menyampaikan ketertarikannya untuk mendukung program ini. Ya sudah, bagus. Ini sudah ada orang ya merespons, ya saya tepati janji," ujarnya.

Menariknya, pengelolaan sampah plastik ini  sudah dimasukkan ke dalam Peraturan Desa (Perdes) Desa Tembok. Perdes tersebut draftnya ditarget rampung pada November ini, dan diterapkan pada tahun 2020 mendatang.

Program diet kantong plastik inipun akan dimasukkan dalam Perdes tersebut. Menariknya, pihaknya akan merancang usaha penyewaan sarana upacara yang mengusung konsep ramah lingkungan. "Seperti baskom berbahan stainless, alumunium, bambu, pokoknya yang ramah lingkungan," imbuhnya.

Mekel Yudi menyebut dampak diet kantong plastik sekali pakai saat upacara pawiwahan cukup signifikan untuk menekan timbulan sampah plastik sekali pakai. Menurutnya, kini sampah yang dihasilkan hanya berasal dari dedaunan, khususnya daun pisang, sisa makanan hingga bekas tisu.

Lalu darimana dana untuk membeli Babi Hitam? Mekel Yudi menyebut jika dana pembelian Babi Hitam yang dijadikan reward untuk diberikan kepada mempelai bersumber dari donatur pihak ketiga. Utamanya dari para pengusaha yang bersifat CSR.

"Karena belum dianggarkan dari APBDes, maka sumbernya kami peroleh dari CSR. Dan ini juga mendapat respons positif dari masyarakat. Yang jelas reward kami berikan bukan untuk upacara perkawinan saja. Tapi semua jenis upacara Panca Yadnya," tukasnya.

Sedangkan terkait reward Akta Perkawinan, menurutnya itu hanya sebagai pelayann plus semata. Sebab, selama ini banyak mempelai yang tak sempat mengurus Akta Perkawinan pasca upacara pernikahan. Sebab, warganya langsung kerja merantau ke luar desa, sehingga kerap tak segera diurus.

"Nah, berangkat dari sana, kami memberikan pelayanan plus tersebut. Jadi Akta Perkawinan diserahkan saat acara resepsi. Dengan catatan, mereka wajib menyiapkan segala dokumen yang dibutuhkan dalam pembuatan akta," tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia