Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Bunga Pecah Seribu, Ceruk Ekonomi Warga Tamblingan

10 November 2019, 22: 31: 10 WIB | editor : Nyoman Suarna

Bunga Pecah Seribu, Ceruk Ekonomi Warga Tamblingan

SUMBER PENGHASILAN: Bunga pecah seribu merupakan salah satu sumber penghasilan para petani di Dusun Tamblingan, Desa Munduk, Kecamatan Banjar. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Bunga pecah seribu masih menjadi ceruk ekonomi bagi warga Dusun Tamblingan, Desa Munduk Kecamatan Banjar. Hanya saja para petani bunga ini harus berjibaku saat musim kemarau untuk menyiram tanaman bunga. Pasalnya, sumber air satu-satunya hanya diperoleh dari memompa air Danau Tamblingan.

Salah seorang petani bunga, Nyoman Netra, 63 mengatakan, membudidayakan bunga pecah seribu ini sudah dilakukan sejak puluhan tahun silam. Di lahan seluas 30 are inilah, Netra menggantungkan ceruk ekonominya sebagai petani bunga. “Saya hanya menggarap lahan. Lahan ini milik orang lain,” ujar pria paruh baya ini sembari memetik bunga.

Dikatakan Netra, harga bunga tergolong fluktuatif. Saat hari normal, harganya di kisaran Rp 6 ribu per kilogram. Sedangkan saat hari raya keagamaan seperti Galungan dan Kuningan, harganya di pasaran bisa tembus Rp 35 ribu per kilogram.

Lanjutnya, bunga pecah seribu ini dipanen sebulan tiga kali. Setiap panen ia mampu menghasilkan sedikitnya 1 kwintal. Itu berarti, jika harganya Rp 6 ribu per kilogram, maka Netra bisa membawa uang pulang mencapai Rp 1,8 juta.

Namun, hasil penjualan itu belum dipotong biaya operasional, seperti beli bensin untuk pompa air danau yang menggunakan sprinkle. Ia harus menggelontorkan uang Rp 40 ribu tiap tiga harinya untuk membeli bensin.

“Operasional bisa Rp 400 ribu sebulan. Itu buat beli bensin agar bisa memompa air saat kemarau. Kalau tidak disiram, takutnya mati,” imbuhnya lagi kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Sabtu (9/11) siang di kebunnya.

Kendati hasilnya jauh dari kata memuaskan, Netra tetap memilih budidaya bunga pecah seribu dibandingkan menanam kopi, cengkih maupun jeruk. Menurutnya, kopi yang sifarnya musiman, lama bisa menghasilkan menjadi uang, sedangkan ia harus menghidupi keluarganya tiap hari.

“Kalau jangka pendek, ya cocoknya bunga. Kopi butuh waktu lama untuk menghasilkan uang. Bahkan hasilnya kurang bagus. Pernah juga menanam jeruk, tetapi tidak ada yang beli. sulit jual jeruknya,” bebernya.

Terlebih, perawatan bunga pecah seribu tak memerlukan perawatan khusus, selain menyiram. Ia menyebut, bunga ini hanya sekali tanam dan terus menghasilkan. “Kecuali mati karena kekeringan, baru harus diganti dengan tanaman baru. Jadi hanya sekali tanam saja. Maka terus menghasilkan,” tutupnya.

Seperti diketahui, bunga pecah seribu menjadi bunga favorit bagi masyarakat di Bali untuk membuat sesajen, mulai canang hingga banten. Pasalnya, bunga ini mudah didapat serta warnanya menarik, sehingga kerap digunakans sebagai sarana upakara.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia