Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Pak Oles: Guru Threesome, Fenomena Mengerikan Dunia Pendidikan

11 November 2019, 11: 27: 10 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pak Oles: Guru Threesome, Fenomena Mengerikan Dunia Pendidikan

Gede Ngurah Wididana alias Pak Oles (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Kasus menghebohkan meledak di bumi Panji Sakti. Sebuah kasus yang sangat membuat miris. Yaitu seorang guru bersama pacarnya, mengajak satu siswinya untuk threesome.

Bagi tokoh Gede Ngurah Wididana alias Pak Oles, kasus perilaku seks menyimpang mengantarkan seorang oknum guru honorer bernama Ni Made Sri Novi Darmaningsih, 29 ke balik jeruji bersama pacarnya bernama A.A Putu Wartayasa, 36 yang adalah pegawai kontrak di lingkungan Pemkab Buleleng. Mereka mengajak V,15 untuk berhubungan badan. V tak lain adalah siswi dari Ibu Guru Novi. Sebuah fenomena miris dalam dunia pendidikan. “Kasus ini adalah kasus yang sangat miris dalam dunia pendidikan di Bali. Ini fenomena yang mesti medapatkan tidakan tepat dari pemerintah,” jelas politisi asal Bengkel Buleleng.

Baginya dengan kasus ini, ada mental – mental yang rusak dari tenaga pendidik. Sekolah bukan lagi tempat yang aman bagi siswa siswinya. Bahkan guru malah menjadi predator yang mengerikan bagi siswanya. “Guru malah menjadi predator bagi siswanya. Ini fakta yang mengejutkan di Bali,” ungkap politisi Demokrat yang menjabat Ketua Bapilu DPD Demokrat Bali ini.

Baginya Pemerintah mesti melakukan langkah – langkah untuk penekanan budi pekerti terhadap semua guru. “Jangan sampai terulang, ada guru melecehkan siswanya, ada guru malah mengajak siswinya  threesome. Ini dimana posisi pendidik kalau malah guru menjerumuskan siswanya,” sambung Mantan Ketua DPD Hanura Bali ini.

Tak hanya itu, Mantan Calon Wakil Gubernur Bali ini mengatakan bahwa selama ini siswa dijejali pendidikan budi pekerti namun guru malah yang mengajarkan, tetapi berbuat kriminal. Baginya baik guru dan siswa mesti dijejali budi pekerti. Mesti diberikan pemahaman, bahkan korban akan menjadi manusia yang akan seumur hidup mengalami trauma psikis yang mendalam. “Korban akan menjadi orang yang akan trauma seumur hidupnya, setelah mendapatkan perlakukan ini,” sambung salah satu pengusaha sukses Bali ini.

Dengan kondisi ini, pemerintah mesti mengambil langkah – langkah agar ada pemahaman bersama. Bahwa sekolah adalah tempat membangun SDM, bukan malah menjadi tempat yang menjerumuskan generasi masa depan bangsa. “Kemana lagi tempat yang aman, ketika sekolah yang menjadi tempat membangun generasi bangsa malah dihancurkan oleh gurunya atau salah satu oknum gurunya,” pungkas alumnus Faculty Of Agriculture Universitas Of The Ryukyus Jepang ini.

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia