Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Taman Desa Kekeran, Tempat Mohon Taksu Balian

11 November 2019, 12: 23: 48 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Taman Desa Kekeran, Tempat Mohon Taksu Balian

MANGKU : Jro Mangku I Wayan Murjana, 45, sudah delapan tahun jadi pemangku di Pura Taman, Desa Kekeran, Kecamatan Mengwi, Badung. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

MENGWI, BALI EXPRESS - Ingin menjadi Balian (supranatural) dan belajar ilmu usada agar bisa menyembuhkan orang? Coba datang ke Pura Taman di Desa Kekeran, Mengwi, Badung untuk meminta restu dari Ida Batara Ratu Biyang.

Pura Taman jaraknya  sekitar 500 meter dari Pura Baterateng,yang juga berlokasi di Desa Kekeran, Kecamatan Mengwi, Badung. Pangempon atau penyungsungnya tinggal di Desa Nyambu, Kecamatan Kediri, Tabanan. Sebagai Pura Taman Beji, pura ini menjadi tempat pasucian  Ida Batara Ratu Gede Putus dari Pura Baterateng.

Menurut pemangku Pura Taman, Jro Mangku I Wayan Murjana, 45,  posisi Pura Taman sebagai perlambang istri dari Ida Batara Ratu Gede Putus. Hal ini bisa dilihat dari  kemiripan palinggih yang ada di Pura Baterateng dengan Pura Taman. Mulai dari utamaning mandala terdapat Palinggih Jro Mangku yang sama persis dengan di Pura Baterateng. “Itu sebagai stana Ratu Niang, beliau memelihara lingkungan tiga pura di sini,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin.

Pura Taman Desa Kekeran, Tempat Mohon Taksu Balian

PENJAGA : Palinggih Jro Mangku, sebagai stana Ratu Niang penjaga kawasan pura. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Keterkaitan lainnya adalah Gedong Ratu Biyang dan Padmasana Ratu Biyang. Ketika piodalan di Pura Taman, maka secara niskala Ratu Biyang konon akan pindah menuju Padmasana dan Gedong akan ditempati oleh Ratu Gede Putus. Tidak hanya itu, beberapa palinggih, yakni Palingih Ratu Nyoman dan Ratu Ketut yang posisinya paling barat, Palinggih gedong Ratu Gede dan Ratu Made disebelah timur gedong Ratu Biyang,  dianggap secara niskala adalah okan (anak) dari Ratu Biyang dengan Ratu Gede Putus. “ Semua itu adalah tutur turun temurun pembeberan dari para tetua,” papar Jro Mangku I Wayan Murjana.

Ada beberapa palinggih lainnya di utamaning mandala pura, yakni  Palinggih Prekangge Ratu Nyoman dan Ratu Ketut, sebagai tempat rencang Ida Batara tinggal. Rencang di pura ini antara lain macan gading, naga, dan asu (anjing). Keberadaan naga pernah dilihat warga saat melihat ayam di sekitar pura. Warga yang penasaran mengejar ayam itu naik ke palinggih. “Saat naik itu konon kaki ayamnya berubah seperti kaki naga. Orang yang melihat kejadian itu langsung sakit, dan akhirnya nebusin (mabanten) ke sini," urainya. Kalau rencang macan, lanjutnya,  didapat dari jejak kaki di semen yang masih basah.

Palinggih Ratu Ayu Alit sebagai anak termuda yang dipercaya, sebagai kepala pasukan niskala di Pura Taman. Terakhir ada Palinggih Manik Galih sebagai perlambang kemakmuran.
Areal pura ini unik.

Saat musim kemarau rerumputan dan tanaman yang ada di pura ini tetap hijau. Telaga di sebelah utara dan timur pura, tetap memiliki air yang  mengalir menuju ke jaba pura. Jro Mangku I Wayan Murjana, menunjukkan bahwa di bawah pura ini mengalir air menuju ke telaga yang membuat tanaman tetap hijau di pelataran pura.

Jro Mangku I Wayan Murjana memberitahu, walaupun Pura Taman punya kelebutan ( sumber mata air) , tetapi tidak melakukan pasucian di sini.

"Ratu Biyang ten kayun (tidak ingin) tempat pasuciannya sama dengan sang suami  Ratu Gede Putus,"'paparnya.

Lantaran itu,  pangempon pura ketika pasucian pergi menuju Pura Beji yang cukup jauh di Selatan.

Ida Ratu Biyang sebagai Batara yang utama berstana di Pura Taman ini, dikatakan mempunyai kawisesaan (kekuatan) dalam bidang pengobatan dan taksu menjadi sutra (pembuat banten). Jro Mangku I Wayan Murjana, membeberkan bahwa ada orang yang ingin belajar menjadi Balian untuk pengobatan datang ke pura. Mereka fokus  bersembahyang di depan Gedong Ratu Biyang. “Saya juga kurang tahu ya mereka tahu dari mana, mereka datang memberitahu saya ke sini mau jadi Balian,” aku pria dengan dua anak ini.

Jro Mangku I Wayan Murjana juga menceritakan bahwa dahulu pernah ada orang yang sakit, badannya kurus sekali, kemudian munas tamba (mohon obat) ke pura dan berjanji menjadi sutri (pembuat banten) untuk di Pura Taman, dan orang tersebut akhirnya sembuh seperti sediakala, padahal sudah berobat ke berbagai dokter.

“Kini dia sudah jadi sutri ntuk pemangku Pura Taman. Sampai sekarang pun banyak yang datang nunas tamba dengan membawa sarana pajati. Umumnya datang karena hasil dari nunas baos (meminta petunjuk). Sering malah yang ke sini tidak tahu tentang Pura Taman sebelumnya,” imbuhnya.

Ida Batara yang malinggih di Pura Taman, diakui  Jro Mangku I Wayan Murjana, tidak suka menunda pekerjaan. Pekerjaan di pura jika sudah mapikeling (meminta izin) kepada Ida Batara, harus langsung dimulai hari itu juga. Namun, kalau ditunda akan ada masalah.  “Pengalaman ini pernah terjadi, kala ingin memotong pohon di jaba pura. Saya sudah mapikeling dan meminta rencang yang tinggal di sana pindah ke sisi timur jaba pura. Pekerjaan memotong pohon dilakukan beberapa hari kemudian, hasilnya diuar dugaan tidak lancar sama sekali,” ungkap Jro Mangku I Wayan Murjana.

Pohon yang ditebang kala itu  adalah pohon pitako,  karena dekat dengan bale gong yang akan dipelaspas. Jro Mangku I Wayan Murjana mengatakan, saat menebang mesin pemotong kayu mati. 18 Orang yang  bertugas menarik pohon agar tidak jatuh ke sisi bale gong, tidak berdaya menarik pohon.  Pria yang sudah 8 tahun jadi pemangku ini, bersama  warga tetap berusaha, meski kebingungan. Usaha berhasil, namun sayang bale gong malah tertimpa pohon dan rusak. “Nunas baos (meminta petunjuk akhirnya), didapati hasil seperti saya bilang sebelumnya, karena Ida tidak suka melihat pekerjaan ditunda kalau sudah meminta izin,” paparnya.

Hal unik lainnya bahwa Pura Taman memiliki piodalan yang khas. Jika Pura Baterateng yang secara niskala piodalan jatuh saat purnama selepas Wuku Sinta. Pura Taman piodalannya jatuh pada tilem selepas Wuku Sinta. Begitupun piodalan alitnya. Jika Pura Baterateng jatuh pada tiap bulan saat purnama, Pura Taman setiap tilem. “Seperti saling melengkapi, karena mereka terkait ya secara niskala,” pungkasnya.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia