Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Dalem Petiles Tempat Meditasi Anak Ida Dalem Batukaru

11 November 2019, 12: 31: 19 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Dalem Petiles Tempat Meditasi Anak Ida Dalem Batukaru

MEDITASI : Batu Petiles tempat meditasi Ida Panembahan, putra dari Ida Dalem di Pura Batukaru. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS - Pura Dalem Petiles di Banjar Batanduren, Desa Cepaka, Kediri, Tabanan ini,  pangemponnya justru  berasal dari Desa Tumbak Bayuh, Mengwi, Badung. Banyak kisah mistis terjadi di kawasan pura yang menjadi tempat meditasi  ini.

Pemangku Pura Dalem Petiles,Jro Mangku I Ketut Kandra, 60, mengajak Bali Express (Jawa Pos Group) kemari, tangkil (berkunjung) berjalan kaki ke pura melalui jalan pintas, agar lebih cepat. Bila pakai motor justru lama karena harus memutar cukup jauh. Menyusuri jalan setapak melewati jalan menurun,  kemudian melintasi jembatan kecil dari bambu yang cukup rapuh. Harus waspada melintas di jembatan ini.  Usai melewati jembatan, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri pematang sawah. Sekitar 200 meter akhirnya  sampai di sebuah jalan pintas masuk perumahan.

Jro Mangku I Ketut Kandra lantas mengambil sebuah kayu panjang, yang ternyata digunakan untuk menghalau anjing  yang cukup banyak ada di perumahan.

Pura Dalem Petiles Tempat Meditasi Anak Ida Dalem Batukaru

KERING : Telaga di utamaning mandala kering karena musim kemarau. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Pria yang menjadi pemangku sejak tahun 2006 ini, mengatakan anjingnya memang galak-galak. Setelah melewati perumahan, baru terlihat Pura Dalem Petiles.


Kondisi pura terlihat dari luar nampak biasa saja, ada pohon celagi besar di pojok jaba tengah pura. Ada juga papan nama tertempel di tembok Pura Dalem Petiles.


Masuk ke area pura, mata langsung tertuju pada sebuah palinggih dengan batu dan dua buah patung macan.


Jro Mangku I Ketut Kandra  menjelaskan bahwa batu tersebut konon adalah tempat petiles (meditasi) dari anak Ida Panembahan yang merupakan anak dari Ida Dalem Batukaru yang melakukan perjalanan ke Batu Bolong, namun berhenti sejenak di area pura yang dahulunya masih hutan. Ida Panembahan tersebut merasa lelah, kemudian memilih untuk bersemedi (metiles rage).  “Semua itu terungkap dari hasil nunas baos (meminta petunjuk) dari tokoh supranatural,” ungkapnya. Dalam nunas baos, juga didapati konon panglingsir dari Jro Mangku I Ketut Kandra bertemu dengan Ida Panembahan tersebut. Dari sana, akhirnya diketahui pura ini mulai ada. “Entah berapa abad lalu, saya juga tidak bisa memastikan, karena itu hasil nunas baos,” terangnya. Lebih lanjut, diketahui juga bahwa ada dua macan yang berjaga di sekitar batu, yakni macan ireng dan macan gading. Hal inilah yang menyebabkan di batu palinggih ada dua patung macan di sampingnya. Jro Mangku I Ketut Kandra menceritakan bahwa dahulu kondisi pura belum seperti yang terlihat seperti sekarang.

Bahkan, Jro Mangku I Ketut Kandra mengaku sedih mengingat kondisi pura  kala itu. “Pagarnya  pakai pagar hidup (tumbuhan), jumlah pangemponnya juga menurun, hingga akhirnya sekarang menjadi 27 Kepala Keluarga (KK) saja,” papar Jro Mangku I Ketut Kandra.


Pura dan tamam bejinya akhirnya bisa diperbaiki karena ada uluran tangan developer yang membangun perumahan dekat lokasi pura.


Jro Mangku I Ketut Kandra mengaku sangat bersyukur karena dengan bantuan developer tersebut, pura bisa tertata dengan baik. Walaupun kondisi di dalamnya masih belum bagus, karena pelataran pura masih dari tanah. Bekas kayu hasil memotong dahan pohon celagi pun ditaruh di bawah pohon, sehingga kurang elok kelihatanya. “Ida tidak merestui menebang pohon celagi dan pohon lainya, karena dijadikan sebagai tempat tinggal dari rencang (penjaga gaib) Ida Batara. Kami potong dahannya saja, soalnya terlalu berisiko pohon di tengah perumahan. Bisa kena rumah orang kalau cabang pohonnya jatuh ke atas rumah warga,” urai pria yang dikarunia dua anak ini, dimana satu anaknya sudah meninggal.


Pura yang  piodalannya jatuh saat Anggara Kasih Medangsia ini, memiliki konsep Tri Mandala. Di utamaning mandala terdapat gedong stana Ratu Mas Agung dan  gedong untuk stana Ratu Manik Angker.


Ada juga Padmasana, Pelik Sari, Taksu, dan Sambayangan. Di area madyaning mandala terdapat Palinggih Ratu Nyoman dan Palinggih tempat batu petiles  dengan dua patung macan di sampingnya.


“Posisi Batu Petiles sebelumnya tidak di atas, namun di bawah. Kami pindahkan saat perbaikan pura,” ucap Jro Mangku I Ketut Kandra.


Batu Petiles dipindah ke atas, lanjutnya,  karena pernah diduduki oleh orang yang sedang berburu. Ketika pura  belum memiliki pagar, perumahan juga belum ada,  area sekitar pura jadi tempat orang berburu. Istri dari Jro Mangku I Ketut Kandra melihat kejadian tersebut, dan pemburu  mengaku tidak menyangka  kalau batu tersebut bukan batu biasa. “Waktu itu kan pura masih pakai pagar hidup (tumbuhan)  jadi orang bebas masuk keluar pura,” ucapnya.


Di kawasan Pura Dalem Petiles ada juga Pura Beji yang jaraknya  sekitar 100 meter, letaknya  di perbatasan perumahan dengan sawah. Pembangunan pura ini pun juga mendapat bantuan developer pengembang perumahan. Di Pura Beji dibangun palinggih stana Dewa Wisnu dan ada sumur yang digunakan untuk pasucian Ida Batara kala piodalan. Lantaran lokasinya dekat sawah, ada warga yang membuang sampah sembarang. Namun akhirnya  meminta maaf di pura, karena merasa ada yang menghantui dan takut. Semenjak peristiwa itu, lanjutnya, dibuat tulisan melarang orang membuang sampah dekat pura.


Dikatakannya banyak kejadian mistis terjadi  di Pura Dalem Petiles, yang tak hanya dilihat pemangku, tapi juga warga.


Jro Mangku I Ketut Kandra mengaku  tanpa sengaja melihat dua ekor ular datang dari arah berlawanan di area pura. Dia menduga ular tersebut akan berpapasan, namun setelah itu ular tersebut hilang dari pandangannya.


"Saya heran dan sempat  mengecek kemana kedua ular itu menghilang. Tidak ada lubang, yang bisa jadi tempat masuk ular bersembunyi.Keduanya menghilang begitu saja,” ucapnya dengan nada keheranan.


Selain itu, ada juga kejadian aneh yang dialami  para pekerja yang membawa pasir. Mereka melihat di area pura ada kain kasa putih meliuk-meliuk. “ Dua  orang yang melihat kejadian tersebut benar-benar ketakutan. Ada kain kasa terbang meliuk di atas pura,  sesuatu yang tidak masuk akal,” papar pria yang menjadi pemangku utama Pura Dalem Petiles ini.


Di pura ini  ada tiga orang  pemangku lainnya dengan tugas masing masing. Jro Mangku I Ketut Kandra akan muput (memimpin) piodalan.  “Kami satu purus (satu keturunan),  kami membagi tugas menjadi pemangku,” ujarnya.


Tiga pemangku lainnya adalah Jro Mangku Putu Sirka ( anak dari sepupu Jro Mangku I Ketut Kandra), yang jadi pemangku bersama di utamaning mandala. Pria yang menginjak usia kepala enam ini mengaku membagi tugas, jika dia ke Pura Beji untuk pasucian, maka Mangku Putu Sirka muput di utamaning mandala. Kemudian ada Jro Mangku Ketut Werna (adik sepupu) dan Jro Mangku I Made Sujana (saudara) yang muput di area madyaning mandala Pura Dalem Petiles.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia