Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Features

Pensiunan Guru Isi Harinya dengan Menulis Buku dan Langsung Dijual

11 November 2019, 17: 46: 05 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pensiunan Guru Isi Harinya dengan Menulis Buku dan Langsung Dijual

BUKU: Pande Dalang Ketut Kaca Winaya, pensiunan guru yang menjual buku saat ditemui di Kantor DPRD Gianyar, Senin (11/11). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS - Terik panasnya matahari semakin terasa di kulit seorang kakek, Pande Dalang Ketut Kaca Winaya. Pensiunan guru itu datang ke Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Gianyar sambil membawa tumpukan buku-buku yang ditulisnya. Pria asal Banjar Laplap, Penatih, Denpasar, itu pun langsung menjual hasil tulisannya tersebut setiap orang ditemuinya.

Saat memasuki pintu ruangan belakang kantor DPRD Gianyar, seakan ia merasakan segarnya hembusan AC setelah berjemur di jalanan. Sambil duduk di kursi yang ada di sana, ia selalu mencoba menjual buku-buku yang ia tulis setelah memasuki masa pensiun beberapa tahun lalu.

Pande Dalang menyebutkan dirinya tergerak membuat kamus populer. Itu pun dilandasi dengan banyaknya masyarakat yang belum mengetahui bahasa asing yang populer dalam percakapan sehari-hari berasal dari bahasa asing. “Yang kemudian menjadi bahasa Indonesia dan mencarikan padanan kata dalam Bahasa Bali,” jelasnya, Senin (11/11).

Ia menjelaskan sampai saat ini mampu menerbitkan sebanyak 10 buku yang isinya lebih banyak konten Bali. Sedangkan buku terakhir yang diterbitkannya adalah buku Kamus Populer Indonesia – Bali tersebut.

Beberapa kata asing yang disebutkannya adalah koperasi dan edukasi.  Kedua kata tersebut berasal dari bahasa asing, yang kemudian lumrah sebagai bahasa Indonesia dan menjadi bahasa Bali juga.

Dikatakannya karena Bali sebagai daerah tujuan wisata internasional, tentunya banyak istilah asing yang masuk dan kemudian menjadi bahasa percakapan sehari-hari. “Di sisi lain, saya juga ingin ikut melestarikan bahasa Bali, apalagi ada Pergub berbahasa dan berbusana Bali, tiap hari Kamis,” jelas pensiunan guru SMK Pariwisata Nusa Dua ini.

Untuk menyusun kamus popular bahasa Indonesia – Bali tersebut, dirinya membutuhkan waktu selama tujuh bulan untuk melengkapi perbendaharaan kata asing yang menjadi bahasa Indonesia. Hanya dikatakannya, buku terbitannya tidak dijual bebas di toko buku.

Dirinya memilih menjual buku tersebut secara indie (mandiri) kepada yang berminat. Bukunya tersebut dicetak sebanyak 700 eks dan sebagiannya sudah habis terjual. Buku lain yang sudah diterbitkan diantaranya Ramayana dalam Wayang Bali, Pari Basa Bali, Pidarta Basa Bali, Penuntun Kauripan dan buku lainnya.

Atas usahanya itu, Pande Dalang Winaya mendapat piagam penghargaan dari Pemprov Bali. Terdiri atas seperti Penghargaan Festival Dalang Ramayana Bali dan Penghargaan Pembina Seni Budaya bidang Sendratari.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia