Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Subak Desa Medahan Terapkan Pertanian Ramah Lingkungan

11 November 2019, 18: 42: 18 WIB | editor : Nyoman Suarna

Subak Desa Medahan Terapkan Pertanian Ramah Lingkungan

SUBAK : Suasana Pintu Masuk Subak Celuk Indah, Desa Medahan, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar akan terapkan pertanian ramah lingkungan, Senin (11/11). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS – Subak Celuk Indah, Desa Medahan, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar akan menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan. Selain itu, kawasan pertanian yang memiliki view pegunungan dan laut tersebut, berupaya mempertahankan budaya pariwisata subak. Hal itu diungkapkan Ketua Yayasan Mandara Riset Institute, Ida Bagus Sukarya, saat ditemui Senin (11/11).

Ia menyampaikan, yayasan yang dipimpinnya memang bergerak di bidang pertanian, lingkungan dan budaya pertanian. “Kami bergerak sejak dua tahun lalu, membidangi sertifikasi sektor pertanian, karena petani juga perlu pengakuan dan seorang pekaseh sebagai profesi yang mulia. Maka kami coba terapkan pertanian ramah lingkungan di Subak Celuk Indah,” jelasnya.

Ida Bagus Sukarya pun menyampaikan, saat ini tengah menggodok komponen pertanian yang ada di subak seluas 240 hektare tersebut, yaitu dengan membimbing para petani untuk menggunakan pupuk organik, memberikan bimbingan teknis agar mau membuka wawasan sebagai seorang petani sesungguhnya. Sehingga petani tidak hanya datang ke sawah untuk mengairi sawahnya air dan menjual padi saja, melainkan mengembangkan berbagai pertanian yang ada.

“Sebenarnya budaya pertanian kita sangat berpengaruh sekali terhadap sektor pariwisata. Tetapi sangat sedikit yang mau mempertahankan agar pertanian itu tetap ada. Terlebih banyak pemilik lahan mengalihfungsikan lahannya menjadi perumahan, padahal pertanian merupakan salah satu daya tarik wisata di Bali,” ungkapnya.

Dia juga sangat menyayangkan para akademisi pertanian yang belum mampu memperjuangkan pengakuan terhadap petani. Hal itulah, menurutnya, membuat profesi petani tidak banyak dilirik generasi muda. “Kapasitas yang menilai seorang petani itu kita harapkan, yaitu seperti legalitas. Perlu ada asesor dan penilai sampai pengakuan. Dengan pengakuan itu, mereka akan lebih percaya diri melanjutkan kembali menjadi seorang petani,” pungkasnya.

Sementara itu, di tempat yang sama, Pekaseh Subak Celuk, Desa Medahan, Ketut Sigra mengatakan, akan mengajak petani se-Desa Medahan untuk bangkit dari sertifikasi kompetensi organik. Mulai dari sana pihaknya dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia. Selanjutnya akan kembali lagi menggunakan pupuk kompos dan pestisida organik.

“Selain itu, kami juga akan buat terobosan baru dengan membuat warung beras pecah kulit dan jus kelor. Kulit ari beras itulah justru kandungan gisinya yang lebih banyak daripada beras yang biasa,”  imbuhnya.

(bx/ade/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia