Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Cok Ace: Jangan Utak-atik Pariwisata Bali

11 November 2019, 19: 49: 17 WIB | editor : I Putu Suyatra

Cok Ace: Jangan Utak-atik Pariwisata Bali

Cok Ace (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Pernyataan Menteri Pariwisata RI, Wishnutama Kusubandio, yang berencana menjadikan Bali dan Toba sebagai pariwisata ramah Muslim membuat Wakil Gubernur, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau Cok Ace, angkat bicara.

Sebagai orang yang cukup lama berkecimpung di dunia pariwisata, Cok Ace meminta agar kepariwisataan di Bali jangan diutak-atik lagi. Bahkan dia menyebutkan, pernyataan Menteri Pariwisata baru-baru ini terkesan menunjukkan Bali tidak ramah terhadap wisatawan Muslim.

“Jadi tidak elok jika ada pernyataan yang menunjukkan seakan-akan Bali ini tidak ramah terhadap wisatawan Muslim,” tegas Cok Ace dalam pernyataan sikapnya yang disampaikan pada Senin (11/11). Itu merupakan pernyataan pamungkas Cok Ace dalam kesempatan itu.

Sebelumnya, dia juga menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan masyarakat Bali telah sepakat menetapkan bahwa pariwisata yang dikembangkan di Bali merupakan pariwisata budaya. Bahkan, ini telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2012. “Tentang Kepariwistaan Budaya Bali,” jelasnya.  

Lebih jauh dia menjabarkan, kepariwisataan budaya Bali adalah kepariwisataan yang berlandaskan pada kebudayaan Bali yang dijiwai ajaran Hindu dan falsafah Tri Hita Karana sebagai potensi utama dengan menggunakan kepariwisataan sebagai wahana aktualisasinya.

“Sehingga terwujud hubungan timbal-balik yang dinamis antara kepariwisataan dan kebudayaan yang membuat keduanya berkembang secara sinergis, harmonis dan berkelanjutan untuk dapat memberikan kesejahteraan kepada masyarakat, kelestarian budaya, dan lingkungan,” imbuhnya.

Karena itu, Bali akan tetap menerapkan pariwisata berbasiskan budaya dengan kearifan lokalnya yang bernafaskan agama Hindu. Mengembangkannya dengan berbasiskan kearifan lokal dan mengedepankan filosofi “Tri Hita Karana”.

“Atau tiga hubungan keseimbangan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan Tuhan,” urai salah satu tokoh dari Puri Ubud ini.

Dia pun menjelaskan, pariwisata Bali sudah berlangsung cukup lama. Bahkan sudah diterima dan mendatangkan wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia. Begitu juga dari berbagai negara di dunia tanpa melihat agama dan latar belakangnya.

“Semua diterima sebagai wisatawan. Sudah sejak ratusan tahun silam krama Bali sangat ramah dan toleran terhadap pihak manapun yang datang ke Bali, tanpa memandang mereka pemeluk Budha, Muslim atau Kristen. Jangankan wisatawan, semeton Muslim yang sudah ratusan tahun berinteraksi di Bali pun tidak ada diskriminasi,” ujar Cok Ace.

Dia menambahkan, kondisi pariwisata Bali selama ini sudah berjalan dengan baik dan semua wisatawan yang datang bisa terlayani dengan baik.

“Bahkan reputasi wisata Indonesia mulai meroket saat Conde Nast Traveller 2019 Timur Tengah memberikan award untuk Bali sebagai Favorite Adventure Destination buat wisatawan asal Timur Tengah periode 2018/2019,” ungkapnya.  

Bahkan, dia juga mengingatkan kembali saat Raja Arab Saudi, Raja Salman, ke Bali hingga memperpanjang masa liburannya di Bali serta tidak ada keluhan sama sekali. 

“Pariwisata Bali tidak perlu diganggu gugat lagi, karena sudah berjalan dan dikelola dengan baik oleh masyarakat Bali,” tegasnya.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia