Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Kain Poleng di Pohon Tanda Magis, Kekuatan, dan Pelestarian

12 November 2019, 09: 49: 51 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kain Poleng di Pohon Tanda Magis, Kekuatan, dan Pelestarian

MAGIS : Pohon yang dililit dengan kain poleng sebagai tanda magis, sehingga alam terjaga kelestariannya. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Terkesan angker. Itulah yang menjadi penilaian pertama bagi orang yang melihat kain poleng melilit di batang pohon beringin. Kesan ini tentu tidak salah. Lantas, seperti apa makna kain poleng (hitam-putih) ini, dan apakah setiap pohon bisa diisi kain poleng?

Kain  poleng adalah kain bermotif kotak-kota hitam-putih yang biasanya dipasangkan pada Palinggih Panunggun Karang. Selain di palinggih, pohon juga menjadi salah satu yang familiar menggunakan kain (wastra) poleng ini.


Menurut Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga, 50, kain poleng itu menyiratkan makna  tentang Rwa Bhineda,  menggambarkan hubungan baik-buruk, utara-selatan, dan lainnya yang berlawanan.


Zaman dahulu, hanya ada kain hitam dan putih saja yang  dipakai. Seiring berjalannya waktu, ada beberapa jenis kain poleng. Pertama, tentu saja kain poleng yang mewakili Rwa Bhineda (hitam-putih). Kedua adalah kain poleng Sudhamala (hitam, putih, dan abu-abu), yang mewakili keseimbangan dari hitam putih, munculnya warna abu-abu. Ketiga,  kain poleng Tridatu (merah, hitam, dan putih) yang mewakili sifat Tri Guna. Warna merah melambangkan Rajas, warna hitam untuk Tamas, dan warna putih bagi Sattwam.


Makna dari penggunaan kain poleng hitam putih ini, lanjut Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga,  sebuah tanda bahwa pohon itu memiliki daya magis. Kain  poleng ditempatkan pada pohon, lanjutnya, membuat orang tidak akan berani menebang pohonnya. Kain poleng  dalam penggunaanya sevagai tanda kekuatan untuk perlindungan dan apa adanya. “Coba lihat Palinggih Panunggun Karang yang memiliki makna kekuatan untuk melindungi area rumah, wastranya (saput) poleng. Dalam pawayangan, Bima dan  Hanuman juga menggunakan kain poleng yang melambangkan kekuatan,” ujarnya saat ditemui di Griya Natar Agung, Banjar Laplap, Desa Penatih Dangin Puri, Denpasar.


“Kalau melambangkan apa adanya, bisa dilihat juga pada tokoh Punakawan. Pecalang pun juga memakai saput poleng. Semua  itu makanya bahwa sebagai pecalang harus bisa membedakan baik dan buruk serta memiliki perlambang kekuatan untuk menjaga ketertiban desa pakraman tempat tinggalnya,” sambungnya.


Lebih lanjut, kain poleng hitam putih di pohon menjadikan orang yang melihat akan menghargai keberadaan pohon. Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga menuturkan bahwa orang pasti akan berpikir jika mau menebang pohon yang berisi wastra poleng. Umat  Hindu di Bali, lanjutnya, sangat menghormati keberadaan tumbuh-tumbuhan. Tidak hanya dengan memasangkan kain poleng, tetapi pada Tumpek Wariga (Saniscara Kliwon) umat Hindu mempersembahkan banten sebagai ungkapan terima kasih. “Jangan bilang ritual itu  berarti umat Hindu menyembah pohon. Ini lebih ke makna ungkapan terima kasih kepada Tuhan karena telah menciptakan pohon yang sangat berguna bagi kehidupan manusia,” papar pria yang memiliki nama welaka I Made Darma ini kepada Bali Express (Jawa Pos Group).


Keberadaan kain poleng yang lebih sering ditemukan pada pohon besar seperti Beringin, Kepuh dan Pule, jarena pohon tersebut mempunyai daya magis yang lebih. "Pembuatan pratima dan topeng pasti akan memakai salah satu dari pohon besar itu. “mJika ditelisik dibalik itu semua, pohon besar juga menjadi lebih familiar dilingkarkan kain poleng karena punya daya serap air yang besar,” urainya.


Letak pohon yang dilingkarkan kain poleng di area pura, tepi jalan ataupun hutan, terlepas dari siapa yang berstana di sana, tidaklah berbeda. Perbedaannya hanya dari letak tumbuhnya saja. Dari persfektif Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga, semua itu sama saja punya nilai magis. “Tetapi balik lagi bahwa semua itu demi penghormatan dan rasa menghargai keberadaan pohon di dunia,” ucap tokoh umat yang juga anggota Paruman Sulinggih di PHDI Kota Denpasar.
Soal  penghormatan tentang pohon, lanjut  Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga, dijelaskan dalam ajaran Sad Kertih, yakni enam konsep yang bermaksud menjaga keharmonisan alam. Enam konsep yang dimaksud adalah Jana Kertih yang bertujuan menjaga kualitas individu manusia agar harmonis dengan alam. Kemudian Jagat Kertih, yaitu konsep menjaga alam dengan keharmonisan hubungan sesama manusia dan juga dengan alam.  Samudra Kertih, yakni konsep dimana kelestarian laut juga harus dijaga oleh manusia.

Kemudian Danu Kertih, bermakna untuk menjaga kelestarian danau sebagai salah satu sumber air tawar di daratan. Selanjutnya  ada Atma Kertih, dimana manusia yang sudah meninggal juga punya pengaruh ke alam, sehingga dilakukan proses Ngaben. Terakhir adalah Wana Kertih, yang berkaitan dengan pepohonan. Karena konsep ini berkaitan menjaga kelestarian hutan. Hutan jenisnya dalam Hindu ada tiga, yakni Mahawana untuk hutan belantara, Tapawana untuk hutan yang dijadikan lokasi pertapaan orang suci, dan Sriwana merupakan jenis hutan yang digunakan untuk kesejahteraan manusia.


“Di hutan jenis Sriwana inilah, biasanya kain poleng dipasang. Kesejahteraan bukan saja lahiriah, tapi batin juga. Memasang kain poleng akhirnya menimbulkan kesejahteraan batin, sedangkan hasil dari kayu di hutan itu untuk kesejahteraan jasmani saja,” tambah Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga.


Intinya pemasangan kain poleng, lanjutnya,  sebagai tanda magis dan juga sebagai tanda umat Hindu sangat menghargai keberadaan pohon di dunia ini. “Dengan mempersembahkan  canang di depan pohon, bukan berarti  menyembah pohon. Namun, sebagai ungkapan syukur atas manfaat keberadaan pohon tersebut bagi umat manusia. Di sisi lain,  orang juga tidak akan berani menebang pohon itu. Bayangkan kalau banyak pohon seperti itu, mungkin alam Bali  pasti lebih asri,” pungkasnya.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia