Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Filosofi Lawar Bali; Dijadikan Simbol Perbedaan yang Menyatu

12 November 2019, 10: 07: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Filosofi Lawar Bali; Dijadikan Simbol Perbedaan yang Menyatu

Ilustrasi (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Lawar adalah salah satu kuliner yang sudah terkenal di Bali. Tanpa lawar, hidangan pada saat hari raya akan terasa tidak lengkap. Apa lagi saat momen Hari Raya Galungan. Lawar merupakan salah satu kuliner yang disajikan saat rahina Panampahan Galungan, di samping sebagai salah satu kelengkapan upakara.

Dalam menikmatinya, suguhan lawar biasanya dirangkai dengan kuah balung, tum, sate, komoh, serapah, kima, dan kuliner lainnya serta yang tak kalah penting adalah nasi putih. Pun akan terasa nikmat bila dimakan dengan cara magibung agar suasana kebersamaan dan kekeluargaan terasa semakin erat. Meski tradisi magibung ini tidak berlaku umum di Bali, namun tidak ada salahnya untuk dicoba di rumah.

Sebenarnya ada beragam jenis lawar yang dibuat oleh masyarakat, namun sebagai kelengkapan upakara umumnya terdiri dari lawar merah dan lawar putih. Lawar merah tentunya berwarna merah yang dihasilkan oleh darah setengah matang dari hewan yang dagingnya digunakan dalam lawar tersebut, seperti babi atau ayam. Sedangkan lawar putih adalah lawar yang tidak menggunakan darah, sehingga warnanya putih. Namun demikian, ada pula lawar lainnya yang merupakan kreasi seperti lawar daun belimbing, lawar kacang, lawar nangka, dan sebagainya yang memasukkan unsur sayur-sayuran sebagai penambah cita rasa.

Secara pokok, lawar terdiri dari beberapa bahan. Pertama adalah daging. Kedua adalah bumbu yang terdiri dari buah-buahan, dedaunan, serta umbi-umbian (pala bungkah dan pala gantung). Jika dikaitkan dengan Catur Dala (empat dewa sesuai empat arah mata angin), maka beberapa bahan bisa mewakilinya. Pertama, kelapa yang berwarna putih adalah simbol Dewa Iswara, penguasa arah timur. Kedua, darah berwarna merah merupakan simbol Dewa Brahma yang menjadi penguasa arah selatan. Selanjutnya bumbu-bumbu yang berwarna kuning merupakan simbol Dewa Mahadewa penguasa arah barat, sedangkan warna hitam seperti terasi merupakan simbol Dewa Wisnu penguasa arah utara.

Di samping itu, dari segi rasa, terdapat berbagai macam rasa yang menyimbolkan pengalaman hidup, yakni rasa manis dari gula merah, asam dari buah asam, asin dari garam, pahit tapi harum dari dari buah limau, pedas dari cabai, hingga agak busuk dari terasi. Semuanya menjadi satu-kesatuan sehingga merasakan cita rasa yang khas.

Menurut Prof. Dr. Drs. I Wayan Suarjaya, M.Si, lawar merupakan kuliner yang unik karena berupa satu-kesatuan bahan yang diaduk dan menjadi hidangan yang nikmat untuk disantap. “Secara filosofi, masyarakat Indonesia, khususnya Bali terdiri dari beraneka ragam latar belakang. Semuanya menjadi satu dan saling melengkapi,” ungkapnya.

Ia mengatakan bahwa jika bahan lawar tersebut dimakan satu per satu tentunya tidak akan terasa enak. “Begitu pula hidup kita yang terdiri dari berbagai macam unsur yang membentuk lingkungan,” jelasnya.

Salah satu penikmat lawar tersebut melanjutkan bahwa meskipun lawar tersebut nikmat, namun bagi orang tua atau yang sudah berusia uzur hendaknya mengurangi unsur daging pada lawar yang dibuat demi kesehatan dan sesuai ajaran Agama Hindu. “Tapi kalau masih muda, silahkan. Lawar itu bagus untuk menghasilkan energi dan semangat,” ujar mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha tersebut.

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia