Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Tirthayatra Itu Penting, Lebih Mantap dengan Brata dan Upawasa

12 November 2019, 10: 32: 49 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tirthayatra Itu Penting, Lebih Mantap dengan Brata dan Upawasa

Ilustrasi (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Sebagai umat Hindu tentunya tidak asing dengan istilah “Tirthayatra”, yakni suatu kegiatan mengunjungi sejumlah tempat suci dalam satu rangkaian untuk melakukan persembahyangan. Terlebih dalam momen Hari Raya Galungan seperti saat ini atau hari suci tertentu seperti purnama dan tilem. Tirthayatra merupakan salah satu kegiatan yang kerap dilaksanakan oleh umat Hindu sebagai wujud bhakti kepada Tuhan dan leluhur.

Tirthayatra berasal dari bahasa Sanskerta, yakni terdiri dari kata “Tirtha” yang berarti air atau sungai suci dan “Yatra” yang berarti perjalanan suci.. Dengan demikian, tirthayatra berarti suatu perjalanan suci untuk memperoleh air suci. Air suci tersebut diyakini sebagai salah satu media yang digunakan Tuhan ataupun leluhur dalam memberikan anugrah. Sehingga jika dikaitkan dengan Agama Hindu di Bali, tirtha merupakan salah satu sarana pokok dalam ritual. Oleh karena itu Agama Hindu juga kerap disebut Agama Tirtha.

Dalam kitab Sarasamuccaya, khususnya sloka 277-279 dijelaskan mengenai Tirthayatra sebagai salah satu kewajiban umat Hindu. Sloka 277 menyatakan bahwa orang yang tidak dirasuki kemarahan, mencintai kebenaran, tetap teguh pada brata, dan memiliki kasih sayang terhadap segala makhluk, akan memperoleh pahala tirthayatra. tirthayatra adalah pergi berkeliling dengan niat mengunjungi tempat-tempat suci. Selanjutkan sloka 279 menyatakan bahwa tirthayatra tersebut sangat suci, bahkan lebih utama daripada penyucian dengan yajña dan dapat dilakukan oleh orang miskin sekalipun. Berdasarkan sloka tersebut, maka tirthayatra sangatlah tinggi nilainya dalam implementasi ajaran Agama Hindu.

Menurut salah seorang dosen IHDN Denpasar, Drs. I Made Sugata, M.Ag, tirthayatra merupakan salah satu kegiatan rohani umat Hindu yang hendaknya dilaksanakan atas dasar kesadaran dan ketulusan yang murni. “Pada prinsipnya ada dua tujuan tirthayatra bagi umat Hindu, yakni sebagai proses penyucian diri dan mengenal tempat-tempat suci,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Dijelaskan oleh Sugata bahwa tirthayatra merupakan bagian penting dari proses pendakian spiritual umat dalam mencari ketenangan dan kedamaian secara jasmani dan rohani. Oleh karena itu, tirthayatra hendaknya dilaksanakan secara sungguh-sungguh dengan memaknai setiap momen dalam perjalanan sebagai proses yang sakral.

Lebih lanjut pembina dan instruktur Yoga tersebut mengatakan bahwa untuk melaksanakan tirthayatra tentunya ada hal pokok yang harus ditaati oleh umat Hindu, yakni brata atau pengendalian dan upawasa atau puasa.

Brata yang dimaksud tentunya berkaitan dengan Tri Kaya Parisudha, yakni pengendalian pikiran, perkataan, dan perbuatan. Selama tirthayatra hendaknya umat tidak berpikir yang buruk, berkata-kata tidak pantas, dan berbuat pelanggaran atau kejahatan. Lebih bagus lagi jika selama tirthayatra umat bisa melakukan upawasa. “Jadi Brata dan Upawasa itu penting untuk menjaga kesucian,” ungkapnya. Di samping itu, tentunya kebersihan jasmani juga harus dijaga sehingga selama tirthayatra tubuh tidak kotor dan mengundang penyakit.

Saat tirthayatra, sesungguhnya ada banyak hal yang dapat dilakukan sebagai wujud bhakti terhadap Tuhan, seperti menyanyikan atau kidung suci, melafalkan japa mantra, menghormati orang suci, menghaturkan dana punia, kerja bhakti seperti membantu membersihkan pura, dan sebagainya. Oleh karena itu, tirthayatra merupakan kegiatan yang banyak manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain dan lingkungan. Maka tidak salah tirthayatra sarat dengan pahala.

Selanjutnya mengenai tempat suci yang dikunjungi tentunya ada banyak. Sugata mengatakan tempat suci yang kerap dikunjungi adalah yang memiliki nilai sejarah, karena menyimpan keunikan dan kaitan dengan keberadaan umat. Sejarah tersebut bisa berkaitan dengan leluhur, orang suci zaman dahulu, penguasa pada masa lalu, dan sebagainya. Selain itu ada pula yang berkaitan dengan mitologi-mitologi yang masih diyakini oleh masyarakat hingga kini.

Di samping itu, tirthayatra kini tidak lagi terkendala jarak. “Bahkan tirthayatra tidak hanya dalam batas satu pulau saja. Kini banyak masyarakat yang melaksanakan tirthayatra hingga ke luar daerah atau antar pulau,” tambah Sugata. Yang penting menurutnya adalah tempat suci manapun yang dikunjungi, hendaknya umat tetap menjaga etika dan kesucian tempat tersebut.

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia