Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Agung Jati Pramana, Pura Satu-satunya di Wilayah Cirebon

12 November 2019, 10: 42: 39 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Agung Jati Pramana, Pura Satu-satunya di Wilayah Cirebon

SEMBAHYANG: Pura Agung Jati Pramana, pura Satu-satunya di Wilayah Cirebon. (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

Share this      

Pura Agung Jati Pramana beralamat di Jalan Bali Nomor 4 Merbau Asih, Kota Cirebon, Jawa Barat (Jabar). Pura ini merupakan satu-satunya tempat ibadah umat Hindu di wilayah III Cirebon (Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan). Pura tersebut dibangun 1994 silam. Dibangun secara bertahap oleh warga Bali yang tinggal di sana.

 

I MADE MERTAWAN, Cirebon

 

BEGITU tiba di depan pura tersebut Selasa (5/11) siang, terlihat gapura stil Bali Di sebelahnya terdapat balai kulkul megah dengan ciri khas Bali. Terdapat dua kulkul, lanang-wadon. Melihat sejumlah orang datang, beberapa perempuan berlarian menuju pintu gerbang masuk areal pura. Mereka begitu tergesa-gesa ingin membuka gerbang yang terkunci dari dalam itu, karena yang datang sudah menyampaikan dari Bali. Yakni dari Pemkab Bangli. Rombongan ini dipimpin Sekda Bangli Ida Bagus Giri Putra. Tujuannya sembahyang setelah sebelumnya studi tiru kompensasi pemanfaatan air bersih di Pemkot Cirebon.

Namun karena kelamaan membuka pintu gerbang, akhirnya rombongan diarahkan masuk lewat belakang pura. “Biar lebih cepat,” kata seorang wanita. Pintu belakang itu biasa dilalui menuju pasraman yang masih berada di areal pura.

Sejumlah orang yang ada di sana menuturkan, pintu gerbang jaba sisi pura memang lebih sering dikunci. Tidak sembarang orang bisa masuk. Hal itu dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di pura setempat. “Kalau sudah bilang mau sembahyang, dengan senang hati dibuka,” terang Ni Putu Sri Widiani. Dulu, kata dia, pernah pintu gerbang tidak dikunci, ternyata banyak orang masuk tanpa permisi. Mereka tertarik melihat-lihat keberadaan pura hingga menjadikannya objek berfoto. “Tidak dibuka jadi objek wisata. Tapi banyak yang lewat, lalu singgah foto-foto. Sekarang sudah dikunci, jadi foto-foto dari depan saja,” ungkap perempuan asal Busungbiu, Buleleng itu dibenarkan pengempon pura lainnya.

Perempuan yang suaminya seorang anggota polisi itu menuturkan, pura tersebut dibangun 1994. Dibangun oleh warga Hindu yang menetap di sana. Pangemponnya sekitar 70 kepala keluarga (KK). Namun yang aktif hanya sekitar 50 KK. Tempat tinggalnya menyebar. Namun demikian, setiap hari ada saja pangempon berada di pura. Mereka biasa membantu pamedek yang hendak sembahyang. Seperti saat rombongan Pemkab Bangli hendak sembahyang siang itu. Sejumlah orang sibuk mengambilkan selendang dan sarana persembahyangan.   Di sana juga ada seorang pemangku. Namun saat rombongan tiba, pemangku tidak ada di tempat.

Sri Widiani menuturkan, hampir setiap hari ada saja umat Hindu sembahyang di sana. Baik yang kebetulan datang ke Cirebon maupun yang memang menetap di wilayah tersebut. Terdapat sejumlah pelinggih di pura itu. Di antaranya padmasana, taman sari, candi Prabu Siliwangi, dan lainnya. “Saat hari raya keagamaan biasanya ramai. Piodalan juga ramai,” jelasnya.

Piodalan di pura itu, bertepatan dengan rainan Tumpek Wayang. Piodalan dilaksanakan layaknya pura di Bali. Retetan upacara diiringi gamelan gong. Kulkul pun ditepak. “Kulkul itu bunyi hanya saat piodalan saja,” terang pangempon lainnya. 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia