Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ketika Tumbal Tukad Songan Diputus, 10 Nyawa Melayang di Tegallinggah

12 November 2019, 19: 00: 34 WIB | editor : Nyoman Suarna

Ketika Tumbal Tukad Songan Diputus, 10 Nyawa Melayang di Tegallinggah

DARI KIRI-KANAN: Bendesa Adat Karangasem I Wayan Bagiarta, Kelian Adat Banjar Tegallinggah I Komang Sudanta, dan Prajuru Desa Adat Karangasem Made Bagiada. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS - Kejadian aneh kerap terjadi di jembatan Tukad (sungai) Songan, Banjar Tegallinggah, Desa Adat Karangasem. Konon warga setempat menyebut kawasan tersebut angker. Bahkan dalam kurun waktu 15 tahun sudah 10 nyawa melayang sia-sia di sana.

Sejak pukul 07.00, warga Banjar Tegallinggah, Desa Tegallinggah, Karangasem berkumpul di satu tempat kosong dekat Sungai Songan. Tempat itu jadi pusat digelarnya upacara Danu Kertih, upacara untuk menyucikan sumber mata air, khususnya sumber-sumber air tawar yang ada di Banjar Tegallinggah.

Beberapa warga terlihat ikut ngayah, membantu menyiapkan sarana upacara. Para wanita ikut menari. Begitu juga sebagian pria berusia tua ikut menari. Sebelum persembahyangan dimulai, upacara pembersihan dilakukan. Ida Pandita Rsi Bagawan Muninanda Saraswati yang memimpin upacara, memulai tahapan demi tahapan. 

Setelah rangkaian upacara selesai, banten-banten atau sarana upacara yang sudah dihaturkan, dihanyutkan ke sungai. Warga melantunkan nyanyian, sembari berteriak seperti memanggil para bhuta yang ada di sekitar lokasi.

Upacara Danu Kertih digelar atas inisiatif tokoh adat di Banjar Tegallinggah. Tujuannya menyucikan kembali semua sumber air. Ini sekaligus menyikapi peristiwa nahas yang kerap terjadi di area Sungai Songan. Pelaksanaannya bertepatan pada Purnamaning Sasih Kalima, Selasa (12/11).

Kelian Banjar Adat Tegallinggah Komang Sudanta menuturkan, dalam kurun waktu 15 tahun, sudah beberapa kali peristiwa nahas terjadi di Sungai Songan. Beberapa kejadian itu, bahkan sampai menelan korban jiwa. "Kejadiannya sudah banyak. Ada mobil terjun ke jurang, ada truk yang mundur akhirnya terjun ke sungai, ada yang tenggelam, ada yang terpeleset. Kami juga tidak tahu apa penyebabnya," tutur Sudanta, di sela-sela pelaksanaan upacara Danu Kertih.

Kabar akan adanya kejadian aneh-aneh juga tidak ditepis. Hanya saja, Sudanta enggan menyebut lebih detail. Yang jelas, warga setempat percaya bahwa kawasan yang kini menjadi jalur penghubung Kota Amlapura menuju Desa Tegallinggah, Bukit, dan Tumbu itu adalah kawasan angker.

Menurut Sudanta, Sungai Songan termasuk unik. Sumber airnya tidak diketahui. Bahkan hulu sungai juga tidak diketahui. Meski cuaca panas atau musim kering, air sungai tak pernah surut. Bahkan di sekitar aliran sungai terdapat banyak pancuran. Debit air pancuran juga tidak pernah mengecil.

Kawasan yang akrab disebut Tegal Kikid itu juga meninggalkan kesan historis. Menurut cerita tetua desa, kawasan sekitar sungai adalah tempat bagi bala tentara Kerajaan Karangasem mengkondisikan kekuatan perang. Sungai Songan juga menjadi saksi para pasukan mengikuti latihan fisik sebelum melakukan ekspansi. Maka tak heran, kalau wilayah tersebut kini dinamai Tegallinggah yang berarti hamparan kawasan yang luas. "Menurut cerita, pasukan Karangasem juga mandi di sungai tersebut. Jadi nilai historisnya sangat kuat," imbuh Sudanta.

Sudanta mengatakan, area sungai yang disebut Tegal Kikid adalah kawasan suci. Begitu juga aliran sungai yang melintasi wilayah Tegallinggah, dipercaya menjadi tempat dengan energi yang kuat. Maka, warga setempat tidak diperkenankan melakukan tindakan senonoh, apalagi mengotori kawasan sungai.

Sempat ada warga yang membuang sampah sembarangan di jembatan Sungai Songan. Itu sebabnya sungai menjadi kotor. Orang-orang tersebut sempat ditegur beberapa kali, tetapi tetap membuang sampah sembarangan.

Krama adat selanjutnya mengadakan paruman atau rapat. Untuk memberi efek jera, tokoh adat membuat awig-awig atau aturan adat terkait sampah. Siapa yang kedapatan membuang sampah, akan dikenai sanksi adat berupa menyerahkan 25 kilogram beras bagi banjar. Bagi siapa yang melihat, bisa melapor saat paruman.

Dia menambahkan, berbagai macam kejadian itu melatarbelakangi krama (warga) desa menggelar upacara Danu Kertih. Sesuai rapat dan rencana, upacara Danu Kertih akan dilakukan tiap lima tahun sekali. Secara otomatis, pelaksanaan upacara itu sejalan dengan visi-misi pemerintah Provinsi Bali dalam melakukan penyucian alam.

Pelaksanaan upacara juga disinergikan dengan pelaksanaan piodalan di Pura Puseh Banjar Adat Tegallinggah. "Warga kami cukup banyak. Ada sekitar 2.000 jiwa atau 450 kepala keluarga. Kami berharap setelah dilakukan upacara Danu Kertih, segala sesuatu yang bersifat negatif dapat dinetralisir. Wilayah kami aman," imbuh  Bendesa Adat Karangasem Wayan Bagiarta, didampingi Prajuru Desa Adat Karangasem Made Bagiada.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia