Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Carut Marut Soal Sampah TPA Suwung, Begini Kata Koster

12 November 2019, 20: 22: 44 WIB | editor : Nyoman Suarna

Carut Marut Soal Sampah TPA Suwung, Begini Kata Koster

SAMPAH : Sampah menumpuk di beberapa titik Pantai Kuta. Kondisi ini akan menjadi preseden buruk Pariwisata Bali, karena penanganan sampah tidak bagus. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Kendati Gubernur Bali Wayan Koster sudah turun tangan, masalah sampah di TPA Suwung tidak serta merta reda. Gubernur Koster memberi lampu hijau untuk memanfaatkan aset lahan pemprov bagi Pemkab Badung untuk membuat dua TPA sekaligus, yaitu di Badung Utara dan Badung Selatan.

Persoalannya tidak hanya berhenti sampai mencari lahan yang pas. Pasalnya, Badung juga diberi batas waktu yang sempit. Hanya sebulan untuk bisa membuang sampah di TPA Suwung. Itu pun dengan kapasitas angkutan yang dibatasi, dari 30 truk menjadi 15 truk per hari.

Belum lagi muncul persoalan baru. Warga di Sobangan menolak wilayah mereka dijadikan lokasi TPA untuk wilayah Badung Utara. Sementara Pemprov Bali yang sudah kadung turun tangan, tetap pada opsi-opsi yang telah diuraikan Gubernur Koster beberapa waktu lalu.

Usai memberikan keterangan pers terkait penerbitan dua peraturan gubernur yang baru di Jayasabha, Selasa (12/11), Koster menegaskan bahwa urusan persampahan sejatinya kewenangan kabupaten/kota.

Namun, dia tetap menegaskan, opsi untuk memecahkan persoalan sampah TPA Suwung tidak berubah seperti yang telah disampaikannya beberapa waktu lalu. Salah satunya, Badung membuat dua TPA baru dan Pemprov Bali siap membantu menyiapkan lahannya, yakni dengan melepaskan aset lahan Pemprov Bali di Badung Selatan dan Utara.

 “Ini kewenangan kabupaten. Silahkan Kabupaten Badung, kalau ada tanah provinsi di sana, yang manapun juga, asal diterima masyarakat, silahkan digunakan untuk TPA,” ujar Koster.

Saat disinggung soal pertemuan antara Bupati Badung dengan Wali Kota Denpasar soal masalah sampah di TPA Suwung, Koster mengaku tidak mengetahuinya. “Wah saya belum tahu,” ujarnya.

Disinggung mengenai dinamika di masyarakat, khususnya beberapa penolakan yang terjadi, Koster menyarankan agar Bupati Badung melakukan pendekatan secara persuasif.

“Makanya harus diberikan pemahaman ke masyarakat. Kalau di tempatnya sendiri ditolak (Badung), masak disuruh Denpasar menerimanya, kan nggak bener. Dia sendiri menolak di tempatnya, Denpasar disuruh terima. Ya nggak bener. Harus diberikan pemahaman bahwa sampah itu bisa diolah. Nggak bau dia (sampahnya),” tukas Koster.

Sebelumnya, masalah sampah TPA Suwung ini menjadi polemik ketika kebakaran tak kunjung berhenti dan area untuk untuk menampung sampah sudah tidak ada. Warga sekitar TPA, khususnya Banjar Pesanggaran, Desa Pedungan Denpasar melakukan demo dan menutup TPA Suwung. Aksi ini membuat seluruh kabupaten/kota yang membuang sampah ke TPA Suwung kelimpungungan,  seperti Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan (Sarbagita).

Khususnya Denpasar dan Badung, sampah menumpuk dimana - mana. Akhirnya dilakukan pendekatan, beberapa pihak tetap tidak mau membuka TPA. Hingga akhirnya Gubernur Bali Wayan Koster menengahi masalah ini, terjadi perdebatan sengit dengan beragam opsi ditawarkan. Dan akhirnya yang disepakati oleh warga adalah hanya Denpasar yang boleh membuang sampah ke TPA Suwung, sedangkan Badung diberikan waktu satu bulan, namun hanya 15 truk saja per hari. Sedangkan Gianyar dan Tabanan mesti membuang di tempat masing- masing. Dengan keputusan ini, Denpasar langsung bisa menyelesaikan masalah tumpukan sampah yang tak terangkut beberapa hari.

Namun Badung mengalami masalah serius, lantaran sampah menumpuk dimana – mana. Bahkan pantauan Koran ini, sampah menumpuk di banyak titik di kawasan Kuta. Ini membuat citra buruk pariwisata. Di Pantai Kuta, sampah tak terangkut dan menumpuk. Jika masalah sampah belum tuntas, akan membuat tumpukan sampah tambah banyak lagi.

(bx/hai/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia