Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Caru Manca Sata Selaraskan Energi dan Kendalikan Makhluk Gaib

13 November 2019, 11: 28: 25 WIB | editor : I Putu Suyatra

Caru Manca Sata Selaraskan Energi dan Kendalikan Makhluk Gaib

CARU : Ritual Caru Manca Sata, ditujukan untuk menstabiliser energi lima unsur, angin, api, sinar, air, dan bumi, agar bisa menjadi lebih sejuk, aman, nyaman, dan tenteram untuk wilayah setempat. (ISTIMEWA)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS - SMAN 1 Selemadeg menggelar upacara macaru Manca Sata
Jumat (8/11) lalu, untuk harmonisasil lingkungan, sekaligus mencegah terjadinya gangguan niskala, karena lingkungan sekolah cukup sakral. Apalagi bulan lalu ada sejumlah siswa yang kesurupan  (trance).

Kepala Sekolah SMAN 1 Selemadeg, Made Wardita mengatakan,  bulan lalu
pihaknya melakukan penataan lahan kosong di belakang sekolah, yang nantinya bisa dibangun untuk ruang kelas atau aula.

Sebelum penataan lahan dilakukan, lanjut Made Wardita, sekitar satu bulan yang lalu saat alat berat mulai bekerja, sejumlah siswa memang sempat karauhan atau kesurupan, namun masih dibawah 10 orang. Guna mengatasi masalah tersebut, pihak sekolah melaksanakan pacaruan Manca Sata yang  dilaksanakan Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana, Guru Nabe Budiarsa.
Pria yang juga penuntun ajaran Wahyu Siwa Mukti ini, mengakui  kerap ada siswa karauhan di SMAN 1 Selemadeg, Tabanan. Kasus tersebut muncul dikarenakan ada  memperluas areal sekolah, pemugaran dan pembongkaran lahan dengan alat berat, juga  penebangan pohon pohon besar, sehingga menyebabkan kekacauan energi yang ada di kawasan sekolah.


Saat memperluas wilayah tersebut, lanjut Guru Nabe Budiarsa, mungkin masih ada yang  kurang, sehingga memunculkan kegaduhan dan emosional para makhluk gaib yang ada di wilayah setempat yang konon memiliki kesakralan dan termasuk karang keramat, karena memiliki beberapa bangunan suci yang berstatus seperti pura swagina, namun berada di lingkungan sekolah.

Menurutnya, sekolah mestinya hanya membangun tempat suci Padmasana dan Palinggih Panunggun Karang. Namun, di SMAN 1 Selemadeg ini memiliki bangunan suci mirip dengan pura swagina, sehingga sekolah menjadi areal tempat suci. "Ketika murid dan guru, khususnya wanita  haid, maka akan merasa tidak nyaman berada di lingkungan sekolah dan menyebabkan bangkitnya kekuatan negatif yang mengundang makhluk gaib datang mengganggu sekolah," paparnya.

Guna mengatasi masalah tersebut, Guru Nabe  Budiarsa melaksanakan upacara penyelarasan energi lima unsur dan kendali makhluk gaib dengan proses Pacaruan Manca Sata dan banten suci alit untuk harmonisasi alam Bhuana Agung dan Bhuana Alit akibat kejadian kesurupan massal yang terjadi beberapa minggu sebelumnya. Dengan rirual tersebut diharapkan nantinya  tidak lagi mengganggu orang yang ada di lingkungan sekolah. "Semoga ke depan siswa dan  guru merasa lebih aman dan nyaman di sekolah dan berharap tidak pernah terjadi lagi kesurupan. Apalagi dalam beberapa hari berikutnya  siswa akan menghadapi ulangan umum. Kami berharap siswa bisa aman nyaman berada di lingkungan sekolah,"ujarnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) pekan kemarin di Tabanan.

Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana ini  melaksanakan ritual Caru Manca Sata  yang sangat sederhana,  karena hanya menggunakan olahan carunya saja, tanpa banten pelengkap lainnya seperti caru pada umumnya, dan banten suci alit asoroh untuk  meritual lahan seluas 2 ha ini.
Dijelaskan Guru Nabe  Budiarsa, upacara Caru Manca Sata digunakan untuk menstabiliser energi lima unsur, angin, api, sinar, air, dan bumi, yang memiliki suhu panas cukup tinggi, di samping karena memang faktor alam yang meningkat suhu panasnya. Di sisi lain, lanjutnya, secara geografi letak dan kedudukan sekolah memang memiliki aura sakral dan keramat (bukan angker), yang semua itu menjadi lebih panas setelah adanya pembukaan lahan perluasan wilayah. Ditekankannya, lokasi  SMA Negeri 1 Selemadeg bukanlah areal angker yang menakutkan, tetapi areal keramat yang banyak makhluk gaibnya.

"Apabila kita tidak melanggar dan tidak mengusik mereka, maka kita tak akan pernah diganggu oleh makhluk itu. Jika kita mengusik mereka seperti yang telah dilakukan tempo hari  dengan membongkar lahan yang menjadi rumah makhluk itu dengan alat berat, tanpa tahu tata cara pengkondisian makhluk-makhluk astral tersebut lewat ritual yang benar, maka pasti akan berontak karena rumahnya dihancurkan," beber Guru Nabe Budiarsa. Namun, jika paham tata pola proses, lanjutnya, maka tak ada kekuatan gaib yang tak terkendali karena  manusia adalah sang pengatur seisi alam bumi ini,  sebagai makhluk Tuhan tertinggi. "Secara teori semua seakan mudah, namun  tidak mudah dalam praktiknya," paparnya.

Ritual Caru Manca Sata, ditujukan untuk  menstabiliser energi lima unsur, angin, api, sinar, air, dan bumi, agar bisa menjadi lebih sejuk, aman, nyaman, dan tenteram untuk wilayah setempat.
Situasi kurang bagus muncul karena dampak kombinasi energi panas alam di musim panas dan pengaruh panas pekarangan sekolah, akibat pemugaran pembongkaran tanah serta penebangan pohon, yang menyebabkan hawa panas lebih panas dari biasanya.

"Hal  ini bisa mengganggu saraf tubuh, terutama pada kepala, yang bisa menyakiti kepala, bisa membangkitkan emosi serta merasa kurang betah di sekolah, kurang nyaman dan kurang aman, " urainya.

Dengan ritual Caru Manca Sata akan memroses angin panas menjadi angin sejuk, menurunkan intensitas panas dari unsur bumi, menurunkan intensitas terik matahari, serta meningkatkan dingin dari unsur air, menyebabkan hawa di sekitar sekolah seketika terasa lebih sejuk walaupun berada pada kondisi panas jam 12. 00 siang. Bahkan, ada peserta sampai ketiduran karena energi sejuk dingin yang datang pada saat doa diucapkan.

Selanjutnya adalah mengubah sifat dan kekuatan mahluk astral yang sebelumnya bersifat keras dan kasar sampai mengganggu manusia hingga kesurupan, agar berubah menjadi tenang dan damai, serta memiliki sifat kasih pada manusia, energi welas asih patuh ingkup dan bersahabat tidak tempramemtal mengganggu dan merusak kehidupan manusia, 'Tan hana sarwa Butha, sarwa detya anyengkala anyengkali, angrusak angrumeda amuk mawiroda, teka patuh ingkup wateking butha kabeh, patuh ingkup manusa pada'.

Selanjutnya juga dimaksudkan untuk mengumpulkan kekuatan para makhluk astral tersebut menyatu dan berkumpul di satu tempat di bawah kendali Bhatara Sakti Mangku Bumi, agar tidak liar di areal sekolah.

Dijelaskan Guru Nabe Budiarsa, upacara Suci Alit untuk melakukan proses kendali energi Panca Bayu Murti turun ke bumi untuk menstabiliser dan standardisasi energi lima unsur, yaitu Cakra Bayu, Cakra Gni, Cakra Kalimosidhi, Cakra Sidhi, Cakra Buana.
Cakra Bayu adalah kekuatan Bhatara Bayu untuk mengendalikan energi angin dan detya l Anggapati dan Dhurga Petak bersama 55 gaib pengikutnya. Sedangkan Cakra Gni adalah kekuatan Bhatara Yama untuk mengendalikan detya I Merajapati dan Dhurga Bang bersama 99 kekuatan gaib pengikutnya. Kemudian Cakra Kalimosidhi merupakan  kekuatan Sanghyang Licin untuk mengendalikan detya I Banaspati dan Dhurga Jenar bersama 77 kekuatan gaib pengikutnya. Selanjutnya Cakra Sidhi yang merupakan kekuatan Sanghyang Taya menciptakan kekuatan cakra sidhi untuk mengendalikan detya I Banaspati Raja dan Dhurga Ireng bersama 44 kekuatan gaib pengikutnya. Dan, yang kelima adalah Cakra Buana, yakni kekuatan Bhatara Indra untuk mengendalikan detya I Wija dan Dhurga Manca Warna bersama 88 kekuatan gaib pengikutnya.


Selanjutnya  Sanghyang Panca Bayu Murti memberikan anugerah kepada Sang Panca Detya bersama pengikutnya untuk beralih fungsi menjadi pelindung dan penjaga sekolah serta mengendalikan energi negatif agar menjadi positif.

Menurut kajian sastra Dasa Aksara dan Kanda Empat tentang tata pola olah energi dan kelola astral, maka ritual tersebut akan berdampak pada energi lingkungan sekolah akan terasa lebih sejuk dan nyaman bagi siapapun yang ada di dalamnya. Kemudian, seluruh kekuatan gaib astral akan terkendali dan bersifat kasih, seluruh sifat kasar keras dan bringas akan hilang. Efek selanjutnya, siswa akan merasa lebih tenang nyaman dan lebih fokus pada pelajaran serta lebih bisa saling menghargai dan menghormati antarsesama, sehingga terhindar dari perselisihan karena munculnya energi kasih sayang antarmanusia, antarmakhluk gaib dan antarenergi alam.

"Semoga sejak usai ritual tidak lagi terjadi kesurupan massal seperti beberapa minggu lalu. Dan, untuk itu diperlukan kemampuan khusus untuk mengatasi konflik energi di wilayah setempat agar bisa terhindar dari hal hal yang tidak diinginkan," paparnya.

Dikatakan Guru Nabe Budiarsa, menghadapi Buthakala atau makhluk gaib, walaupun dikatakan tunduk dengan manusia dan bisa diusir menurut teori, tapi belum tentu menurut bukti, apalagi ingin mengalahkan gaib, karena sehebat-hebatnya manusia bisa menundukkan makhluk gaib, tapi makhluk gaib tak bisa mati. "Sesakti saktinya manusia mampu mengendalikan gaib, mengelola energi, tapi manusia bisa mati. Jadi, manusia dibanding gaib, kelemahan manusia adalah bisa mati.

Karena itulah manusia tidak seharusnya sombong, angkuh dan serakah, merasa paling hebat ketika berhadapan dengan gaib. Gaib bisa menghancurkan manusia dari berbagai segi tanpa kita ketahui, walaupun diri sakti hebat bagai dewa,"urainya.

Menurut Guru Nabe Budiarsa, bukanlah kekuatan dan kesaktian yang dibutuhkan untuk melakukan proses kendali gaib dan olah energi, tetapi kecerdasan, ketepatan, dan kebenaran, agar semuanya  jadi lebih baik. "Seluruh gaib takut akan kebenaran, bukan takut akan kehebatan dan kesaktian, karena yang hebat dan sakti itu adalah Tuhan," paparnya.

Sesungguhnya kejadian siswa kesurupan  bukan kali pertama terjadi di sekolah tersebut. Beberapa tahun lalu juga pernah terjadi hal serupa dan pada waktu itu Guru Nabe Budiarsa juga  melakukan ritual serupa, namun dengan format olah energi yang berbeda. Dan, sejak ritual itu sekolah tersebut merasa aman dan nyaman. Namun di akhir tahun 2019, karena adanya pemugaran dan pembongkaran lahan dengan alat berat serta penebangan pohon, maka kembali terjadi kekacauan gelombang energi dan gangguan makhluk astral karena ritual awal pembongkaran kurang selaras dan seimbang lagi,  sehingga banyak makhluk astral yang tidak terima, lalu kembali menggangu siswa.'"Mari kita yakini bahwa semua itu terjadi karena kuasa Tuhan di atas segalanya. Jauhkan rasa takut dan khawatir agar hati tenang dan damai, karena hanya ketenangan dan kedamaian itulah kekuatan yang paling tinggi untuk menghadapi apapun," sarannya.

Guru Nabe Budiarsa meminta untuk meyakinkan diri bahwa tak akan pernah terjadi apa-apa bila hati tenang, pikiran  positif, perbuatan dan kata kata  baik dan benar.

"Jangan suka mengada ada, suka bicara kasar dan kotor di tempat suci sekolah. Damaikan hati, tenangkan pikiran,  maka semua akan jadi aman karena  tempat itu adalah tempat suci, maka rajinlah sembahyang, dekatkan diri pada Tuhan niscaya semua akan lebih baik, " ujarnya.
Jadi, jangan suka mengusik alam gaib agar alam kita tidak diusik oleh para gaib.


Diingatkannya, sesungguhnya ketika manusia memasuki alam mereka (gaib), jauh lebih menggangu lagi karena makhluk gaib hanya memiliki sifat dan kekuatan satu jenis energi. Misalnya energi angin atau energi api, sehingga tidak bisa menerima energi lain. Sedangkan manusia memiliki lima jenis energi, yaitu angin  api, sinar, air, dan bumi. "Jelas energi manusia sangat mengganggu energi makhluk halus, sehingga manusia ditakuti oleh makhluk halus jika punya kebenaran, dan akan dimusuhi makhluk halus jika salah, sombong, angkuh, dan serakah, " pungkasnya.

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia