Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Harga Garam Amed Melambung, Capai Rp 17.500 per Kg

13 November 2019, 18: 33: 37 WIB | editor : Nyoman Suarna

Harga Garam Amed Melambung, Capai Rp 17.500 per Kg

PRODUKSI GARAM: Proses pembuatan garam di wilayah Pantai Amed, Banjar Lebah, Desa Purwakerthi Abang, Karangasem, Rabu (13/11). (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Petani garam di wilayah Amed, Kecamatan Abang, Karangasem saat ini bisa tersenyum lepas. Ini diakibatkan oleh harga garam di tingkat petani yang jatuh di kisaran Rp 17.500 per kilogram.

Menurut Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Garam Amed Bali, I Nengah Suanda, harga tersebut sudah tergolong baik di tingkat petani garam. Jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, harga garam per kilogram saat itu Rp 2.000-5.000.

"Ini sudah tergolong baik. Bahkan beberapa tahun terakhir bisa dikatakan meningkat. Ini baru harga di tingkat petani. Jika masuk di MPIG, lebih tinggi lagi, mencapai Rp 35.000. Memang lebih mahal karena ada prosis pemilahan, sortir sampai pengemasan," kata Suanda, Rabu (13/11).

Suanda menyebut kondisi pasar di Amed berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Penjualan garam dari Amed tidak bergantung pada kondisi ketersediaan stok di pasaran yang menumpuk atau tidak. Pihaknya tidak terpengaruh dengan impor garam yang mengakibatkan adanya kelesuan penjualan garam di daerah.

"Terus terang kondisi itu tidak kami alami. Kami punya pasar sendiri. Kami suplai ke hotel, restoran, bahkan kalau ada distributor di Jakarta. Mereka ambil lalu ekspor. Sementara apakah stok di pasaran menumpuk, penjualan kami masih aman," imbuhnya.

Selain Amed, wilayah Tianyar, Kecamatan Kubu, juga dikenal sebagai sentra penghasil garam di Karangasem. Namun Suanda mengklaim garam yang diproduksi di Amed memiliki kualitas berbeda.

Meski sama-sama asin, Suanda sepakat kalau garam Amed lebih gurih. Kadar keasinannya pas dan tidak menimbulkam kesan pahit di lidah. Metode produksi yang masih tradisional, disebut berdampak pada rasa. 

"Proses filter masih di tanah. Kemungkinan mineral tanah tercampur dan menyerap kadar pahit. Sementara untuk mengukur NaCl telah diuji di laboratorium Balai Besar Semarang, Jawa Tengah. Tingkat NaCl 94,7 persen. Bahkan lebih dari SNI. Garam yang sesuai SNI memang mengandung yodium. Garam kami natural dan yodiumnya rendah," bebernya.

Sekadar diketahui, petani garam di wilayah Amed mencapai 24 orang. Mereka lebih banyak berasal dari Banjar Lebah, Desa Purwakerthi, Abang, yang juga sehari-hari sebagai nelayan. Suanda mengakui jumlah pembuatan garam menurun. Dia menyebut, tahun 1990-an, saat pariwisata di wilayah setempat belum menggeliat, jumlah petani garam mencapai 200 orang. Jumlah ini lambat laun menyusut akibat banting setir ke bidang pariwisata.

Mereka yang bertahan sebagai petani garam memang memiliki waktu yang cukup. "Biasanya setelah melaut, sekitar tiga jam saat siang sampai sore hari, mereka membuat garam. Ini bagus untuk antisipasi jika produksi garam macet karena cuaca, seperti hujan," tegas Suanda.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia