Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Kesulitan Bayar Rumah Sakit, Keluarga Korban Tewas Penusukan Mengadu

13 November 2019, 21: 12: 55 WIB | editor : Nyoman Suarna

Kesulitan Bayar Rumah Sakit, Keluarga Korban Tewas Penusukan Mengadu

MENCARI SOLUSI: Para pihak terkait berkumpul di Ombusdman mencari solusi biaya rumah sakit yang menimpa korban penusukan. (NORIS SAPUTRA FOR BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Keluarga mendiang Gusti Ayu Sriasih, 21 mengeluh karena harus menanggung biaya rumah sakit Sriasih selama dirawat hingga meninggal. Ia pun lantas mengadu ke pihak terkait lantaran LPSK hanya mau membayar Rp 3 juta dari Rp 21 juta yang ditagih pihak RSUP Sanglah.

Untuk mengingatkan, Sriasih adalah perempuan yang ditusuk oleh mantan suaminya, Ketut Gede Ariasta alias Separ, 23. Kasus ini terjadi pada 17 Oktober lalu. Usai ditusuk, kondisinya kritis dan akhirnya menemui ajal di RS Sanglah.

Orang tua Ayu Sriasih kini bertambah susah, setelah ditinggal oleh putrinya itu. Biaya korban selama dirawat di RSUP Sanglah, ternyata tidak ditanggung oleh pihak yang berwenang mengklaim biaya korban.

Pihak Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Denpasar yang semestinya menanggung klaim biaya korban, ternyata hanya mengklaim sebesar Rp 3 juta dari total Rp 21 juta biaya di RSUP Sanglah. Keluarga korban yang bingung karena harus membayar biaya sebesar itu, akhirnya mengadu ke berbagai pihak melalui surat yang kemudian menyebar ke media sosial.

Dari surat yang beredar, ayah korban, I Gusti Ngurah Pandu meminta dukungan semua pihak untuk menuntaskan kasus tagihan rumah sakit yang melilitnya. Surat tersebut ditujukan ke berbagai pihak, mulai dari Gubernur Bali, Ombusdman Provinsi Bali, hingga jurnalis.

Ombudsman langsung mengambil langkah dengan mengumpulkan pihak-pihak terkait seperti Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Bali dan Dinas Perlindungan Perempuan Provinsi Bali, BPJS Kesehatan pada Rabu (13/11). Sayangnya, dalam pertemuan ini pihak LPSK tidak hadir.

Usai pertemuan di aula Ombusdman, Kepala TP2A Provinsi Bali Luh Anggraini membeberkan hasil pertemuan yang dilakukan dengan berbagai pihak. "Tadi kami bertemu untuk mencari solusi masalah yang menimpa keluarga korban penusukan, karena keluarga korban orang miskin, kemudian korban seperti ini tidak ditanggung BPJS Kesehatan," beber Luh Anggraini.

Ketika dikonfirmasi hasil pertemuan, apakah menghasilkan solusi bagi korban, Luh Anggraini membeberkan, hasil pertemuan untuk mendesak LPSK mengatasi biaya rumah sakit. "Kami merekomendasikan LPSK untuk mengatasi masalah ini, karena BPJS tidak mungkin, terkendala UU. Secara UU, mestinya LPSK, tetapi LPSK beralasan ada aturan yang mengatakan LPSK tidak menanggung biaya korban sebelum hari dilaporkan. Kami baru tahu itu. Jadi kasian keluarga korban. Sudah ditinggal anak, sekarang harus menanggung utang," beber Luh Anggraini.

Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Provinsi Bali dr. Kadek Iwan Darmawan. "Secara UU memang menjadi tanggung jawab LPSK, karena dalam UU berbunyi seperti itu. Jika kemudian ada aturan internal yang mengatakan tidak berlaku mundur sejak dilaporkan, itu tidak kami tahu," jelas dr. Iwan.

Ketika dikonfirmasi ketidakhadiran LPSK dalam pertemuan, tidak ada yang mengetahui penyebab absennya lembaga tersebut. "Kemarin (Selasa-Red) sih ada, dan mengatakan tidak bisa mengklaim semua. Hanya bisa membayar Rp 3 juta dengan alasan status Ayu sebagai korban semenjak dilaporkan, bukan sejak kejadian," jawab Luh Anggraini.

Sementara itu Ketua Ombusdman Provinsi Bali Umar Ibnu Khattab saat dikonfirmasi mengatakan, Ombusdman merekomendasikan kepada pihak terkait untuk lebih meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat. "Dari pertemuan tadi kami menyampaikan kepada BPJS, Faskes maupun kepada pemerintah mana yang dijamin dan mana yang tidak dijamin," jelas Umar. "Ke depan perlu duduk bersama dengan leading sektor PPA, membahas korban kekerasan, dengan BPJS, Dinas Kesehatan dan Kepolisian, agar Faskes ada MOU dengan LPSK," tutupnya.

Sekadar mengingatkan, peristiwa penusukan yang menimpa Sriasih terjadi lantaran mantan suaminya, Ariasta emosi gara-gara unggahan status korban di media sosial (medsos). Kamis (17/10) sekitar pukul 01.00 bertempat di kamar kos korban di Jalan Gunung Sanghyang Nomor 124, korban didatangi pelaku.

Dia merasa diremehkan korban karena disebut tidak mampu memberikan biaya hidup berumah tangga. Cekcok mulut antara pelaku dengan korban tak terhindarkan. Pelaku yang emosi akhirnya menusuk korban di bagian pinggang kanan dan kiri. Ironisnya, setelah melakukan penganiayaan, pelaku mengunci pintu kos korban dan langsung kabur.

(bx/ris/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia