Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Wabup Suiasa Minta Penanganan Inflasi Harus Bersinergi

13 November 2019, 22: 39: 01 WIB | editor : Nyoman Suarna

Wabup Suiasa Minta Penanganan Inflasi Harus Bersinergi

FGD: Wabup Suiasa (tengah) menghadiri sekaligus membuka FGD tindak lanjut Rakornas TPID di Ruang Rapat Nayaka Gosana III Sekretariat Daerah Kabupaten Badung, Rabu (13/11). (ISTIMEWA)

Share this      

MANGUPURA, BALI EXPRESS - Badung sampai saat ini diklaim sudah mampu secara stabil menekan angka inflasi. Hal ini diharapkan terus dipertahankan. Demikian disampaikan Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa saat menghadiri sekaligus membuka FGD (Focus Group Discussion) tindak lanjut Rakornas TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) tahun 2019.

FGD dengan topik bahasan ‘Sinergi dan Inovasi dalam Mendukung Ketersediaan Pasokan dan Kelancaran Distribusi Pangan di Kabupaten Badung’, mengagendakan paparan perkembangan harga dan inflasi. Paparan dibacakan Kepala BPS Kabupaten Badung Ni Putu Minarni di Ruang Rapat Nayaka Gosana III Sekretariat Daerah Kabupaten Badung, Rabu (13/11).

Lebih lanjut, Wabup Suiasa mengatakan, permasalahan kepastian pasokan pangan harus disiapkan, termasuk pendistribusiannya serta inflasi di daerah dapat ditekan semaksimal mungkin. Untuk penanganan ini, konsep di Badung harus disinergikan dengan Pemprov Bali.

Dikatakan, di Badung sudah melakukan langkah-langkah yang sangat strategis. Namun demikian, kebijakan apapun yang dilakukan secara fragmatis, sebaik apapun serta sebesar apapun anggaran, tidak akan mempunyai dampak yang cukup besar dan luas. Karena dalam inflasi di Badung tidak ditentukan Badung saja, tetapi ditentukan oleh pihak lain.

Untuk itu, perlu dibangun sinergi yang menyangkut berbagai aspek, dari segi sektor, dari langkah dan upayanya. Sinergi dari penanganannya dan sinergi dalam hal menentukan penilaian. “Sektor-sektor dan bidang-bidang apa yang bisa disinergikan dan cara penanganan apa yang bisa disinergikan, langkah dan evaluasi apa yang bisa disinergikan. Itu akan lebih efektif jika ada inovasi atau cara yang dilakukan dalam membangun sinergi tersebut,” jelas Wabup Suiasa.

Sementara itu Kabag Perekonomian Setda Badung AA Sagung Rosyawati melaporkan, dari identifikasi masalah, terdapat sembilan komoditas pangan yang harganya sering berfluktuasi dan sebagai komoditas penyumbang inflasi. Perinciannya, yaitu beras, daging ayam ras, telur ayam ras, daging babi, daging sapi, bawang merah, cabai rawit, cabai besar dan ikan tongkol. Sedangkan melalui perangkat daerah terkait, telah dilakukan upaya-upaya untuk menjaga ketersediaan pasokan komoditas. Seperti upaya meningkatkan produksi beras, cabai dan bawang merah, upaya peningkatan produksi telur ayam ras melalui pengembangan ayam petelur yang merupakan kerjasama antara Pemkab Badung dengan kelompok ternak Giri Landuh Sari di Desa Pelaga dan kelompok ternak Manuk Sari di Desa Getasan Petang. Upaya peningkatan produksi daging ayam melalui pengembangan klaster ayam pedaging yang merupakan kerjasama Pemkab Badung dengan kelompok ternak Jaya Mandiri Perkasa Desa Taman Abiansemal dan Kantor Perwakilan BI Bali. Upaya peningkatan produksi daging sapi melalui pembibitan sapi di sentra ternak sapi Sobangan, budidaya sapi melalui kelompok-kelompok ternak sapi (Simantri, Tanimas dan Sentra Peternakan Rakyat/PSR) dan pengelolaan RPH Mambal. Upaya peningkatan produksi daging babi dengan memberikan bantuan bibit babi kepada kelompok ternak. Kemudian upaya peningkatan produksi ikan dengan memberikan bantuan sarana dan prasarana penangkapan ikan kepada kelompok nelayan yang sudah dikembangkan melalui inovasi aplikasi FishGo.

Lebih lanjut dikatakan, pengadaan alat CAS yang dikelola Perumda Pasar Mangu Giri Sedana sebagai upaya untuk dapat melakukan penyimpanan komoditas cabai dan bawang merah dalam jangka waktu yang lebih lama. Sehingga ketersediaan komoditas tersebut menjadi stabil.

Walaupun sudah dilakukan berbagai upaya, namun pada bulan-bulan tertentu komoditas mengalami fluktuasi harga. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal yakni tingginya alih fungsi lahan, pengaruh cuaca, masih tingginya ketergantungan pasokan bahan pangan dari luar, dan pengelolaan alat CAS (Cold Atmosphere Storage) belum optimal.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Plt Kadis Pertanian dan Pangan I Ketut Sudarsana, Perwakilan Kepala Bank Indonesia Provinsi Bali, Perwakilan Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan Provinsi Bali, Perwakilan Kepala OPD Kabupaten Badung, BULOG Badung, Perumda Pasar Mangu Giri Sedana Badung, KADIN Badung dan Perwakilan Bagian Perekonomian Setda Tabanan dan Bangli.

(bx/adi/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia