Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Features

Santigi; Akrab dengan Sebutan Neng Santi, Salah Rawat, Terancam Busuk

14 November 2019, 12: 25: 14 WIB | editor : I Putu Suyatra

Santigi; Akrab dengan Sebutan Neng Santi, Salah Rawat, Terancam Busuk

SANTIGI: Bonsai santigi yang tengah proses pruning (cukur) di salah satu stand pameran Puspem Badung, Rabu (13/11). (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)

Share this      

Bonsai tengah digemari oleh semua kalangan. Tua, muda, laki-laki bahkan perempuan saat ini gila tanaman kerdil ini. Mulai dari bonsai berbahan tanaman yang familiar, hingga langka. Semisal santigi (Phempis accidula). Pohon yang sudah cukup langka ini memiliki penggemar tersendiri.

SURPA ADISASTRA, Mangupura

GUNTING Ruli menyusuri cabang santigi perlahan. Begitu menemukan cabang atau daun yang tak sesuai, langsung dipotong. Tangannya yang tampak cekatan menandakan, pria paro baya ini cukup berpengalaman menangani bonsai. “Sudah puluhan tahunlah,” jawabnya ketika ditanya lama berkecimpung merawat bonsai oleh Bali Express (Jawa Po Group). “Tapi masih tetap jadi buruh, belum jadi bos,” kelakarnya ditemui di stand pameran, Puspem Badung, Rabu (13/11).

Santigi, ungkap Ruli memang memiliki penggemar tersendiri. Sebab menghidupinya susah-susah gampang. Susah jika tak mengerti. Bisa jadi gampang kalau paham. Salah penanganan, pohon yang lambat dalam pertumbuhan ini berisiko busuk. Kalau sudah busuk, kematian menanti. “Tapi kalau telaten dan merawatnya tepat, sangat bagus hasilnya. Karena batangnya yang keras dan kesan tuanya dapat,” terang pria asal Situbondo, Jatim ini.

Yang perlu diperhatikan hampir pada tiap bonsai adalah media tanam. Khusus untuk santigi, tak boleh ada air yang mengendap dan merendam akar. Inilah salah satu pemicu busuk. “Jadi media tanamnya, usahakan yang tak menahan air. Biasanya pasirnya lebih banyak, sehingga air baik hasil penyiraman atau hujan, bisa dengan mudah lewat,” ujar Ruli sambil mengatakan penggemar Santigi kerap menyebut jenis bonsai ini Neng Santi.

Nah, mengimbangi pasir agar santigi tetap dapat nutrisi, perlu cukup pupuk. Tidak boleh lebih juga, karena bisa merusak tanaman. “Sebetulnya santigi ini tak perlu banyak air. Sebab akrab dengan habitat panas berangin. Jadi penambahan pupuk yang tepat dosisnya akan mendukung pertumbuhannya,” jelasnya.

Meski begitu, asupan air harus tetap teratur. Sebab, kekurangan air akan menyebabkan pohon berdaun mungil ini layu, kekeringan, lalu mati. “Intinya, diatur asupan airnya. Tak boleh berlebihan atau kekurangan,” tegasnya.

Selanjutnya, perawatan cabang juga perlu diperhatikan. Dalam pembentukan mesti hati-hati lantaran cukup renyah, sehingga rawan patah. Harus bersabar dan perlahan. Jangan sampai pula asal potong. Sebab, pertumbuhannya yang lamban akan memakan waktu jika ingin mengembalikan cabang yang terlanjur dibuang. Sementara, soal batang, bisa diperlakukan dengan membuang sebagian kulit untuk menambah kesan berumur. Bahkan ada yang membuat ukiran dengan alur tertentu, sehingga menjadi lebih indah. “Dibutuhkan kesabaran,” katanya.

Beberapa santigi yang dipamerkan pihaknya adalah hasil dongkelan. Hal itu sebelum santigi dilindungi seperti saat ini, lantaran cukup langka. Khususnya santigi laut, yang banyak 'diburu' untuk dipelihara. Menempel di tebing berkarang, biasanya batangnya cukup besar dan kokoh. Bisa sebesar paha orang dewasa. Ada pula hasil budidaya, namun ukurannya masih kecil. Mulai dari sekelingking orang dewasa.

Soal harga, bergantung ukuran dan bentuk. Jangan salah, yang ukurannya sekelingking, bisa mencapai ratusan ribu. Jika sudah besar, apalagi tua, tentunya bisa mencapai belasan, puluhan hingga ratusan juta. “Harga tergantung ukuran dan bentuklah. Hampir sama dengan bonsai lain,” tandas Ruli. 

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia