Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Hyang Api Buahan; Misteri Payung Terbang yang Kerap Menghilang

14 November 2019, 14: 42: 47 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Hyang Api Buahan; Misteri Payung Terbang yang Kerap Menghilang

UTUH: Gapura pura dan palinggih di Pura Hyang Api yang ada batunya, hingga kini masih tertata utuh. (I KOMANG GEDE DOKTRINAYA/BALI EXPRESS)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS - Meski berada di pinggir jalan cukup ramai, namun kawasan berdirinya Pura Luhur Hyang Api, Desa Buahan, Tabanan dikenal angker. Di sekitar tempat suci yang dipercaya bisa untuk memohon kesembuhan ini, sering terjadi penampakan tedung (payung) terbang secara niskala, kemudian lenyap di lokasi tempat pura yang dibangun.

Warga Desa Adat Buahan mungkin sudah tak heran lagi, jika mendengar wilayah mereka dianggap angker. Selain karena termasuk desa tertua di bilangan Tabanan, desa ini juga terletak di pinggiran kota yang tampak masih rimbun dengan berbagai macam pepohonan. Bertani menjadi salah satu mata pencaharian penduduk setempat sejak dulu, karena tanah desa terbilang sangat subur. Perihal lokasi pura, pertama kali diketahui oleh warga setempat yang sedang mencari kelapa. “Setiap naik kelapa, warga itu pasti melihat tedung terbang dan turun di sebuah tempat yang dikenal dengan Pura Luhur Hyang Api sekarang ini,” ujar Jero Mangku Ketut Jajar, yang lebih dikenal dengan nama Mangku Hyang Api, September 2016.

Warga yang tidak disebutkan namanya itu, lantas turun dan melihat dari dekat, tempat yang diperkirakannya sebagai lokasi turunnya tedung itu. “Ketika sampai di tempat yang diduga jatuhnya tedung itu, dia hanya menemukan batu,” ucapnya. Selain batu, tak ada satu pun benda lainnya ditemukan di kawasan itu. Kejadian ini terjadi berulang-ulang, lanjut Mangku Jajar, namun dia tak pernah percaya dengan apa yang dilihatnya.

Ketika disinggung, bagaimana kemudian tempat itu bisa menjadi sebuah pura, Mangku Jajar mengatakan berawal dari sakitnya warga yang juga pemilik tanah itu. “Karena tidak percaya ada yang berstana di batu itu, akhirnya dia sakit-sakitan,” tuturnya.

Mengetahui perihal itu, Ketut Jajar pada masa mudanya yang turut terlibat dalam sebuah partai, mengaku ketakutan saat ada pembantaian anggota partainya. Lalu, dia datang ke tempat tersebut dan memohon perlindungan dan keselamatan. Mangku Jajar tak hanya seorang diri memohon disana. Dia bersama anggota partai lainnya yang masih terhitung ada hubungan keluarga dengannya. “ Saya mohon perlindungan di sana, terkait dengan pembunuhan besar-besaran saat pemberontakan G30S/PKI alias Gestok,”akunya.

Bersyukur saat situasi genting itu, keluarganya yang berada di kawasan pura itu selamat dari amuk pembantaian. Merasa mendapatkan perlindungan dari yang berstana di kawasan itu, Mangku Jajar bersama rekan dan keluarganya, lalu membuat semacam panyengker yang mengelilingi batu dari bahan seadanya. “Saat itu tetangga saya bahkan sempat mengira saya sudah dibunuh,” tutur Mangku Jajar mengenang masa lalunya yang kelam.

Sesuai dengan janjinya saat memohon dulu, bahwa dia akan ngayah dengan merawat tempat tersebut bila diselamatkan dari pembunuhan, Mangku Jajar lantas membangun tempat pemujaan di sana. Lambat laun kabar ini tersiar ke seluruh penjuru desa. Pemilik tanah yang lama menderita sakit itu, akhirnya memohon kesembuhan di batu yang dulunya ia tak yakini ada yang berstana.

Benar saja, berselang beberapa saat warga tersebut sembuh tanpa obat,, dan tanah tempat berdirinya palinggih kecil tersebut akhirnya direlakan sebagai tempat dibangunnya pura.

Maka mulailah berdatangan warga yang percaya dengan cerita misteri itu. “Biasanya warga yang datang selalu dalam keadaan sakit, dan mohon kesembuhan di pura ini,” pungkasnya. Warga yang mohon kesembuhan tersebut akan menyertai permohonannya dengan janji bahwa dia akan ngayah di pura, bila dikabulkan keinginannya dan disembuhkan. “Tak sedikit warga yang telah disembuhkan sejak saat itu,” bebernya. Lebih lanjut dikatakannya, pura yang dulunya hanya dirawat dua orang ,yaitu dirinya dan seorang keluarganya, kini telah memiliki lebih dari 60 orang pangempon yang tergabung dalam pemaksan Pura Luhur Hyang Api.

Mangku Jajar mengatakan, untuk mohon penyembuhan atas penyakit (utamanya sakit niskala), dapat dilakukan dengan hanya membawa banten pejati peras daksina saja. Serta yang paling penting adalah permohonan yang tulus. Pujawali pura yang jatuhnya pada Anggarkasih Tambir ini juga diyakini memiliki pasangan niskala, dan kebetulan pura yang terletak di bagian Utara dan pinggir jalan ini, merupakan yang perempuannya. Sedangkan pura yang berdiri di bagian Selatan dan hanya diempon oleh satu keluarga, dipercaya sebagai yang lanang (laki).

Seiring dengna perjalanan waktu, Ida Bhatara yang berstana di pura ini pun menuntut dibuatkan tapakan. Akhirnya setelah melalui rapat panjang dibuatkan tapel rangda sebagai patapakan Ida Bhatara. Anehnya setiap kajeng kliwon tempat tapakan Ida Bhatara yang berupa Rangda tersebut selalu terbuka sendiri. Terang hal ini membuat heran dirinya. Namun, belum terungkap tabir keanehan tersebut, tapakan Ida Bhatara hilang entah kemana.

Warga pemaksan pura kembali membuatkan patapakan yang baru, namun kini jumlahnya diperbanyak menjadi tiga patapakan yaitu Ratu Gede, Ratu Ayu, dan patapakan Rarung.

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia