Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Bayi asal Subagan Alami Gizi Buruk, Dirujuk ke Sanglah, Tak Ada Biaya

14 November 2019, 19: 33: 12 WIB | editor : Nyoman Suarna

Bayi asal Subagan Alami Gizi Buruk, Dirujuk ke Sanglah, Tak Ada Biaya

DIJENGUK BUPATI: Bupati IGA Mas Sumatri menjenguk bayi Krisna Dewi di RS Karangasem, Kamis sore (14/11). (ISTIMEWA)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Baru berusia dua bulan, Ni Putu Krisna Dewi harus menerima kenyataan pahit. Putri pertama pasangan Gede Gading Ariasa, 36 dan Desak Gede Sasih, 35, mengalami kesulitan bernapas. Memang bayi cantik itu terlihat baik, tetapi Krisna Dewi kabarnya menderita gizi buruk dan gangguan jantung.

Ni Putu Krisna Dewi seharian digendong ibunya, Desak Sasih di salah satu ruang Sal Melati, RSUD Karangasem. Bayi mungil itu mendapat perawatan intensif. Selang oksigen terus dikenakan di hidung untuk membantu bernapas. Begitu pula selang infus menempel di pergelangan tangannya.

Bayi tersebut tampak lemah. Desak Sasih juga murung melihat putri kecilnya yang hanya mampu tersenyum sedikit. Syukur dia tidak banyak rewel. Bayi Krisna Dewi tidak banyak berkedip. Sang ibu terus menggendong bayi itu sambil memberikan susu. Krisna sangat kuat hingga nambah minum susu.

Raut wajah Desak begitu berat. Dia tidak bisa menahan pedih tatkala melihat buah hatinya bernapas tersengal-sengal. Bayi Krisna Dewi didiagnosa mengalami gizi buruk dan ganguan jantung. Sebelumnya juga disebut mengalami infeksi paru-paru. Tidak heran, napas bayi mungil tersebut terputus-putus.

"Pas diperiksa saat kehamilan, gak ada tanda-tanda (gejala) aneh. Baru tahu saat diperiksa di Puskesmas. Dibilang ada infeksi di paru-paru. Saya gak tahu harus gimana waktu itu. Sempat diminta menunggu biar dapat pemeriksaan lagi. Tunggu dipanggil (dihubungi) Puskesmas," tutur Desak Sasih.

Kata Desak, putrinya lahir dengan berat 2,9 kg. Sebelum lahir memang tidak ada tanda-tanda aneh. Begitu lahir hingga menginjak bulan berikutnya juga sama. Namun kecurigaan Desak muncul sejak awal Nopember. Putrinya yang kuat saat diberikan asupan susu, justru berat badannya tidak naik signifikan. Hingga beberapa waktu kemudian, gejala susah napas mulai terlihat. Desak dan Gading memeriksakan putrinya ke Puskesmas.

Saat ini berat si bayi diketahui meningkat sedikit menjadi 3,4 kg. Obat-obatan telah diberikan pihak Puskesmas. Ini sedikit meringankan beban orangtua Krisna. Maklum pasangan suami-istri asal Banjar Cita Winangun, Kelurahan Subagan, Kecamatan Karangasem itu bekerja sebagai buruh serabutan. Kadang mereka mengambil pekerjaan sebagai buruh tani di sekitar tempat tinggalnya. Mereka membantu memanen mentimun, kacang-kacangan, dan sayur-mayur.

Pemilik lahan meminta mereka bekerja jika panen. Kalau tidak sedang panen, pasangan ini mengambil pekerjaan apa saja asal tidak nganggur. Lahan pertanian di tempat tinggalnya rata-rata bera. Bahkan ada yang sudah panen. Makanya tidak ada kegiatan bagi Desak dan suaminya.

Upah yang didapat tidak tentu. Mereka kadang diberi Rp 25 ribu satu kali panen. Bahkan ada pula yang memberi upah Rp 50 ribu. Tergantung luas lahan perkebunan yang digarap. "Ya pendapatan saya gak tentu. Malah kurang," imbuh Desak.

Dia mengakui, penghasilan yang didapat tentu menjadi beban pikiran, terutama memikirkan kesembuhan si buah hati. “Saya ingin anak saya sembuh. Rencana mau dirujuk ke (RSUP) Sanglah,” ucapnya. Namun di tengah semangatnya itu, Desak kembali dihadapkan pada masalah biaya. Sementara untuk hidup dan makan sehari-hari saja mereka masih kerap berutang. 

Ironis, Desak dan suaminya tidak punya KTP dan Kartu Keluarga (KK). Permasalahan ini sudah didengar Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri, yang langsung memerintahkan Disdukcapil mengurus KTP dan Kartu Keluarga bagi pasangan ini dalam waktu dua jam. 

Bupati Mas Sumatri juga menyempatkan menjenguk Krisna Dewi di RS. "Kami (Pemkab Karangasem) sudah membantu pengobatan bayi ini. Rencananya akan dirujuk ke RSUP Sanglah. Saya akan pantau terus perkembangannya,” tegas bupati wanita pertama Karangasem ini.

Keluarga Desak dan Gading juga dibantu biayanya. Dinas Sosial akan membuatkan rekening untuk memudahkan transfer bantuan dana tersebut. Bantuan akan ditransfer, baik dari pemerintah maupun donatur.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia