Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Politik

Marjana Hentikan Langkah Menuju Bangli I, Beber Beberapa Alasan

14 November 2019, 19: 46: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Marjana Hentikan Langkah Menuju Bangli I, Beber Beberapa Alasan

SAMPAIKAN SIKAP: Ketut Marjana (kiri) didampingi Ketut Mandia menegaskan sikapnya yang menghentikan langkahnya menuju Bangli I. (CHAIRUL AMRI SIMABUR/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Dinamika politik di Bangli setahun menjelang Pilkada Serentak 2020 sudah penuh dengan kejutan. Belum lama ini, adik Bupati Bangli, Made Subrata, tiba-tiba menarik diri dari penjaringan di internal PDIP lalu mengajukan diri sebagai calon bupati melalui Golkar.

Dan kejutan terbaru datang dari tokoh Bangli yang juga mantan Direktur Utama PT Pos Indonesia, Ketut Marjana. Tokoh dari Kintamani ini yang semula digadang bakal maju menuju Bangli I justru memberikan penyataan mengejutkan pada Kamis kemarin (14/11). Bahwa, dirinya tidak akan ikut-ikutan dalam proses penentuan calon Bupati Bangli dalam Pilkada tahun depan.

“Mungkin saya menyampaikan sesuatu yang sedikit mengagetkan barang kali,” kata Marjana saat mengawali pernyataannya soal ketidakikutsertaannya dalam ajang suksesi kepemimpinan di Bangli tahun depan.

Diakuinya, selama ini dirinya sudah sampai turun ke tengah masyarakat untuk bisa menuju Bangli I. Bahkan, konsolidasi di internal timnya juga sudah dilakukan untuk mencapai hal itu. Namun di satu sisi dirinya juga menjabat sebagai Ketua Umum Mahagotra Catur Sanak Bali Mula dengan jumlah penglingsir terdiri dari 16 orang.

“Saya selalu konsultasi dengan penglingsir saya di pasemetonan. Pada intinya, mereka menginginkan saya untuk konsentrasi di pasemetonan. Terlebih sekarang ini pasemetonan sudah punya Yayasan Pusat Bali Mula,” ungkapnya.

Terlebih lagi, sambung Marjana, pasemetonan yang diketuainya saat ini juga sudah memiliki perusahaan. Yakni PT Bali Mula Amerta yang tujuan utamanya membangkitkan sisi ekonomi masyarakat Bali Mula. Bukan hanya di Bangli semata, namun Bali dan Indonesia.

“Belum lagi saran-saran dari para sahabat dekat saya agar lebih fokus membangun ekonomi umat. Mendorong ekonomi Bali ini lebih bangkit,” imbuhnya.

Di samping, sebagai Ketua PHRI Bangli, dirinya juga sempat berkonsultasi dengan Ketua PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana atau Cok Ace. “Beliau menyarankan untuk hitung-hitungan lagi. Lebih baik konsentrasi pada bidang kepariwisataan karena punya Toya Devasya,” ungkap Marjana seraya menyebutkan perusahaan yang dipimpinnya saat ini.

“Dari proses ini, saya merenungkan apa kira-kira manfaatnya kalau saya maju (sebagai calon Bupati Bangli). Setelah saya pikir-pikir, saya lebih baik pakai baju ungu. Toya Devasya itu kan warna ikonnya ungu. Kalau pakai baju ungu, ke merah saya dekat. Ke Biru saya dekat. Kalau saya pakai baju kining, nanti teman-teman merah akan jaga jarak. Saya tetap ingin betul-betul independen. Eksistensi saya sesuai talenta saya,” katanya.

Di kesempatan itu, dia menepis kabar bahwa keengganannya untuk maju bertarung dalam perebutan kursi Bangli I karena adanya ketakutan kepada pihak-pihak tertentu.

“Sama sekali tidak (takut). Kalau masalah strategi, semua orang punya strategi. Mau (strategi) blow up, sho of force, silent operation, sampai mendekati kalangan muda. Bukan juga masalah saya diblok (di partai tertentu). Dalam konteks ini, rasa-rasanya saya berani. Tapi ini benar-benar urusan spiritual,” tegasnya.

Bukannya kalau menduduki posisi teratas di eksekutif akan lebih mudah menjalankan misi membangun Bangli? Disanggah dengan pertanyaan itu, Marjana yang malang melintang dalam dunia manajemen, mengakuinya. Menurut dia, dalam persepsi umum, menjadi eksekutif akan lebih mudah untuk menentukan keputusan.

“Dalam satu aspek, mungkin iya. Tapi saya duduk di pasemetonan ini juga hal yang penting buat saya. Kalau saya di eksekutif, membuat keputusan, itu sudah masa lalu. Saya sudah cukup punya experience (pengalaman) untuk itu,” tegasnya.

Soal petuah para Panglingsir yang disebutkan Marjana itu dibenarkan Sekretaris Pasemetonan Mahagotra Catur Sanak Bali Mula, Ketut Mandia. Menurutnya, waktu proses konsolidasi dilakukan Marjana, di saat yang sama juga pihaknya mencari nasihat kepada para Panglingsir di pasemetonannya.

“Dari 29 Oktober sampai 5 November 2019 kemarin, kami keliling minta petuah terkait rencana Ketua Umum kami (Marjana). Mengenai keinginannya untuk membangun Bangli. Bukan bertarung,” unkap Mandia yang kemarin turut memberikan penjelasan terkait keputusan Marjana tersebut.

“Tapi masukan yang didapatkan adalah agar Pak Ketua (Marjana) fokus mengangkat potensi Bali Mula. Masyarakat Bali Mula masih banyak yang berpotensi, tapi tinggal di daerah terpencil dan ekonominya masih lemah,” imbuhnya.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia