Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Diguncang Gempa 5,1 SR, Warga Seririt Panik

14 November 2019, 20: 53: 52 WIB | editor : I Putu Suyatra

Diguncang Gempa 5,1 SR, Warga Seririt Panik

MENGUNGSI: Sejumlah warga Pengastulan yang mengungsi ke Masjid pasca diguncang gempa dan adanya isu Tsunami yang dihembuskan oknum tak bertanggungjawab. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

SERIRIT, BALI EXPRESS -Kepanikan melanda warga Kecamatan Seririt pasca diguncang gempa pada Kamis (14/11) sekira pukul 18.21 Wita. Gempa yang berpusat pada posisi 21 KM barat daya Buleleng ini, membuat warga khawatir adanya Tsunami. Tak pelak, warga di Desa Pengastulan dan Kelurahan Seririt dibuat was-was hingga berusaha mencari dataran tinggi.

Berdasarkan imformasi yang dihimpun dari Badan Meteorologi, klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa bumi yang berkekuatan 5,1 SR dengan lintang 8.16 LS, bujur 114.90 BT dan kedalaman 10 KM, sangat dirasakan oleh masyarakat Buleleng terutama masyarakat yang tinggal di wilayah Seririt.

Kendati BMKG menyebut Gempa ini tidak berpotensi tsunami, namun masyarakat yang tinggal di wilayah Seririt, khususnya desa Pengastulan memilih mengungsi ke tempat aman untuk beberapa waktu, sembari memastikan kondisi sudah benar-benar aman dari gempa.

Hal ini seperti yang disampaikan salah seorang warga dari Desa Pengastulan, Agus Hadi, 49 ia menyebut hampir sebagian masyarakat yang tinggal di Desa Pengastulan terutama di pesisir pantai, memilih untuk mengungsi ke tempat aman.

Mereka takut gempa ini menimbulkan tsunami. "Banyak warga yang mengungsi, takut tsunami. kami mau mengungsi cari tempat aman," ujar Agus Hadi, kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Kamis malam.

Ketakutan warga sebut Agus Hadi sangat wajar. Mengingat, mereka masih trauma akan peristiwa gempa tahun 1976 lalu yang melululantahkan wilayah Seririt. "Warga kan masih trauma. Takut tahun 76 (1976, red) terulang lagi, dan apalagi infonya beredar pusat gempa sekarang dekat wilayah Seririt. Jadi wajar warga waspada," imbuh Agus.

Kekhawatiran juga dirasakan Haji Muhammad Sarif, 73. Warga Pengastulan itu merasakan guncangan gempa saat dirinya tengah memimpin shalat. Sarif pun langsung bergegas menyelamatkan diri mencari tempat yang lebih tinggi. pasalnya ada isu air laut di kawasan Pantai Pengastulan naik.

“Ya saya lari tadi, katanya ada isu air laut naik ada Tsunami. Langsung kami lari ke masjid. ya saya mohon sama Tuhan saja lah biar diberikan keselamatan,” ujar Sarif.

Lanjutnya peristiwa gempa tersebut mengingatkannnya pada gempa pada 14 Juli 1976. kala itu rumahnya di Pengastulan hancur diguncang gempa. “Saat itu saya sudah punya anak dua. rumah saya hancur. makanya agak trauma sekarang,” imbuhnya.

Sementara dikonfirmasi terpisah Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, Ida Bagus Suadnyana membenarkan, pusat gempa bumi yang terjadi berpusat di kedalaman 21 KM barat daya Buleleng. Untuk itu ia meminta, agar masyarakat tetap waspada.

Hingga berita diturunkan, pihaknya masih melakukan pendataan terhadap kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi ini. "Soal kerusakan akibat gempa, kami masih data. Jadi masyarakat jangan panik, dan tetap waspada. Kami dari BPBD akan terus memantau situasi," pungkas Ida Bagus Suadnyana.

Terkait isu sirine Tsunami yang berbunyi pihaknya kembali menegaskan jika informasi itu tidak benar. Sebab, sirine tersebut kendalinya ada di Pusdalops Bali. “Jadi itu hoaks. kalau masalah adanya korban luka akibat gempa, tim kami masih melakukan asesmen. kami juga sudah menyampaikan kepada masyarakat untuk kembali ke rumahnya,” pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dikonfirmasi Kamis malam melalui sambungan telepon menghimbau kepada masyarakat agar tetap tenang pasca diguncang gempa. Pihaknya pun meminta agar masyarakat tidak terpancing isu Tsunami yang dihembuskan oknum tak bertanggungjawab.

“Terhadap gempa yang baru saja terjadi di pesisir pantai Seririt, saya harap masyarakat tenang, karena ada isu Tsunami itu hoaks. masyarakat silahkan kembali ke tempat masing-masing, dan saya meminta agar aparat penegak hukum untuk ikut menjaga stabilitas keamanan pasca gempa,” pesannya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia