Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Kisah Pemangku Pura Taman, Kekeran (1)

Sebelum Jadi Pemangku, Peluk Penodong di Sunset Road, Muncul Keajaiban

15 November 2019, 10: 57: 21 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sebelum Jadi Pemangku, Peluk Penodong di Sunset Road, Muncul Keajaiban

RATU : Jro Mangku I Wayan Murjana di depan Gedong Ratu Biyang. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

MENGWI, BALI EXPRESS - Hidup berkecukupan, gaji pun lumayan, namun hidup harus dengan laku baru. Bak disambar petir di siang bolong,  I Wayan Murjana yang sedang di puncak karirnya, tiba-tiba diminta jadi pemangku.

Jro Mangku I Wayan Murjana, 45, dan istrinya tidak pernah menyangka bahwa takdir untuk menjadi pengayah sebagai pemangku datang begitu cepat. Sebagai anak dari seorang pemangku, keduanya tahu bahwa mereka akan ngayah jadi pemangku. Tidak ada pilihan lain selain dirinya, karena menjadi satu-satunya anak lelaki sang ayah.

Semua berawal ketika sang ayah jatuh sakit. Tangan kirinya tidak bisa digerakkan, sehingga tidak bisa telaten lagi ketika melaksanakan tugas kepemangkuan. Sang ibu pun mengidap  diabetes, dan tidak mampu menggantikan posisi sang ayah. “Sekitar  sembilan tahun lalu, saat piodalan di Pura Taman, kami sedang duduk mengikuti upacara agama tersebut,” ujar Jro Mangku Istri Ni Wayan Sri Artini, 37, dengan ramah.

Sebelum Jadi Pemangku, Peluk Penodong di Sunset Road, Muncul Keajaiban

DITUNJUK : Jro Mangku I Wayan Murjana, 45, bersama Jro Mangku Istri Ni Wayan Sri Artini, ditunjuk jadi pemangku oleh orang karauhan saat piodalan di Pura Taman. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)


Tiba-tiba tangannya dan suaminya ditarik oleh pamedek yang karauhan di Pura Taman, Desa Kekeran, Kecamatan Mengwi, Badung. Suasana piodalan pura yang berlokasi di tengah sawah itu menjadi berubah sedikit menegangkan.

Ni Wayan Sri Artini dan I Wayan Murjana yang masih belum menjadi pemangku dibawa ke depan Gedong Ratu Biyang. Orang yang karauhan selanjutnya mengambil keris dan mengarahkan ujung keris di atas ubun-ubun keduanya.

“Ini yang menjadi pemangku selanjutnya,” ujar Jro Mangku Wayan Murjana mengingat kejadian itu.


“Saya dan istri mendapatkan cap menjadi pemangku, selanjutnya menggantikan sang ayah. Semua tentu menyambut senang, karena akan ada pemangku yang baru,” sambungnya.

Orang yang karauhan tersebut kemudian memberikan  waktu kepada I Wayan Murjana dan istrinya untuk mempersiapkan diri ngayah nantinya.

Semenjak itu, I Wayan Murjana yang memiliki dua anak yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD) dan Taman Kanak-Kanak (TK), ini berpikir keras. Sebagai pekerja di ACS (perusahaan masakan catering) Bandara Internasional Ngurah Rai, dirinya tidak bisa membagi waktu ngayah dan kerja.

Selama beberapa bulan, dirinya mengaku melamun di tempat kerja. Memikirkan apa yang harus dia lakukan. Sebagai seorang manusia biasa, dia sebelumnya memikirkan rencana sekolah anak sampai dewasa dan ngayah jadi pemangku, ketika usia sudah matang dan tabungan cukup.

“Saya maunya ketika anak sudah SMA (Sekolah Menengah Atas) tabungan akan cukup untuk membiayi mereka, saya pun bisa fokus ngayah. Tetapi saat itu belum ada uang cukup, apalagi ayah ibu juga sedang sakit dan butuh biaya,” urainya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) saat ditemui di kediamannya, pekan kemarin.


Jro Mangku I Wayan Murjana pun bimbang, kemudian mengungkapkan keinginan pindah posisi kerja agar bisa ngayah sekaligus menjadi pemangku. Namun, kala itu tidak ada lowongan kosong di posisi yang lain.

“Akhirnya saya meminta tempo  ke Ida Bhatara yang berstana di Pura Taman agar bisa bekerja  untuk membiayai anak-anak yang masih kecil,” ucapnya.

Dua hari pasca meminta permohonan ke Pura Taman, Jro Mangku I Wayan Murjana didatangin oleh rencang (sosok gaib) yang malinggih  di Palinggih Prekangge. Rencang itu membawa senjata  tombak. Dirinya mengaku diminta menghadap ke rencang tersebut. “Dibilang mimpi, tapi terasa nyata. Rencang itu berpesan kepada saya. Pesannya kalau tidak mau ngayah, maka urip (napas) mau ditarik. Mungkin bukan ancaman ya, memang ditakdirkan jadi pemangku,” urainya.


Dari semenjak kejadian itu, Wayan Murjana makin bimbang. "Jika saya berhenti kerja, lalu siapa yang biayai anak. Memang saya pikir, mungkin jalan saya sebagai keturunan pemangku,” imbuhnya.


Akhirnya Wayan Murjana  memilih berhenti dari pekerjaannya. Tidak ada posisi di perusahaan yang lowong yang memungkinkan merangkap tugas, membuat ia tekadkan bulat untuk berhenti kerja.

“Proses berhenti bekerja pun memakan waktu beberapa bulan sampai benar-benar berhenti bekerja,” terang pria yang menikah tahun 2001 ini.

Enam bulan pasca ditunjuk menjadi pemangku, Jro Mangku I Wayan Murjana dan istrinya datang ke pura. Status masih belum menjadi pemangku, membuat pangempon pura bingung. Mereka berpikir kenapa dirinya dan istri  belum juga jadi pemangku. “Ya kita masih mikir belum siap, bagaimana membiayai anak-anak masih kecil,” terang Jro Mangku Istri Ni Wayan Sri Artini kepada pamedek yang menanyakan keputusannya.

Enam bulan kemudian, kembali saat piodalan. Sebelum ke pura, Jro Mangku I Wayan Murjana dan istrinya sepakat di rumah, dan akan meminta tempo lagi. Kesiapan belum ingin melepas pekerjaan karena anak-anaknya masih kecil. Ternyata, hal berbeda terjadi, dirinya dan istri justru sepakat  dan siap jadi pemangku.

“Saya dan istri sampai bingung usai piodalan ketika di rumah. Kok bisa kita bilang iya dan siap sekarang jadi pemangku. Ayah dan ibu saya di rumah kala itu akhirnya menasihati kami. Mereka meminta kami menerima karena ini takdir, seandainya punya saudara pria yang lain, tentu bisa punya opsi,” papar pria bungsu dari enam bersaudara ini.

Selama proses sebelum mawinten resmi menjadi pemangku, pengalaman yang semakin memantapkan dirinya menjadi pemangku adalah ketika mengalami proses penodongan.


Waktu itu, ia berangkat kerja ke Bandara sekitar pukul 05.00 pagi. Tiba di Jalan Sunset Road, ia didekati seorang pria, dan menghentikan Jro Mangku I Wayan Murjana. “Saya ditodong. Pasrah saya karena dia membawa pisau. Saya peluk saja dia, karena saya sudah pikir mau mati waktu itu,” ungkapnya.

Sambil memeluk yang menodongkan pisau, ia berdoa jika harus meninggal sekarang karena musibah ini, ia pasrah. Dirinya ngacep (berucap doa) ke Sasuhunan di Pura Taman, kalau mau bantu, mohon bantu sekarang.

“Tiba-tiba penodong mengendorkan niatnya, dan melihat dompet saya  yang hanya ada uang Rp 150 ribu saja. Anehnya bukan kesal, dia minta saya ke ATM ngambil uang," akunya.

Ia lantas pergi meninggalkan penodong yang sepertinya mengurungkan niatnya, karena tak mengambil uangnya juga.  "Sungguh janggal, saya merasa diselamatkan kala itu. Dari sana saya percaya, semakin mantap untuk ngayah jadi pemangku. Sejak jadi pemangku tak pernah sakit lagi, seperti sebelum jadi pemangku. Kami langsung menyanggupi semasa tempo yang diberikan Ida. Sudah merasa tidak enak dan takut juga jika kami menolak jadi pemangku,” tutup Jro Mangku I Wayan Murjana.

Akhirnya setelah berhenti dari pekerjaan, dia pun fokus ngayah sebagai pemangku sambil bertani. Tetapi, semua tidak berjalan mulus, banyak hal menggoyahkan dirinya ketika sudah melepas pekerjaan dan memilih menjadi pemangku saja. Apa saja hal aneh yang dialaminya? Ikuti tulisan berikutnya. (bersambung)

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia