Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Mesti Paham Ilmu Wariga, Untuk Pahami Simbol–simbol Tika

15 November 2019, 21: 14: 56 WIB | editor : Nyoman Suarna

Mesti Paham Ilmu Wariga, Untuk Pahami Simbol–simbol Tika

KUNO : Salah satu Tika koleksi Museum Subak Sanggulan, Tabanan yang terbuat dari kayu. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS – Pada zaman sekarang ini, umat Hindu mungkin sudah dimudahkan dengan adanya Kalender Bali konvensional maupun Kalender Bali online yang lengkap dengan rerahinan, tri wara, sad wara, wuku hingga dewasa ayu. Beda dengan leluhur Bali, menggunakan Tika. Seperti apa?

Pada  zaman dahulu para leluhur kita menggunakan sebuah benda yang umumnya terbuat dari kayu untuk melihat hari, rerahinan dan menentukan dewasa ayu atau hari baik. Benda itu disebut Tika atau sering disebut dengan kalender kuno yang digunakan oleh umat Hindu di Bali.

Tak ada yang tahu pasti bagaimana sejarah Tika secara pasti, namun beberapa sumber menyebutkan Tika adalah tatanan wariga, yang memuat wuku dan wewaran yang dituliskan dalam bentuk simbol-simbol. Maka dari itu, untuk membaca Tika, diperlukan pengetahuan tentang ilmu Wariga dan pemahaman terhadap gambar atau simbol yang ditampilkan pada Tika tersebut.

Salah seorang narasumber dalam Diskusi Terpumpun tentang Tika di Museum Subak Tabanan, Rabu (13/11) Dipl.-Ing I Made Suatjana menerangkan, bentuk dasar Tika adalah gambar dari 30 kolom wuku dan 7 baris yang menggambarkan 7 hari panjang masing-masing wuku. Tujuh hari dalam gambar dasar wuku tersebut merupakan rumah dari pada Sapta Wara, wewaran yang siklusnya 7 hari. 

"Salah satu tujuan dari pada pembuatan Tika adalah untuk memudahkan menemukan beragam wewaran atau gabungan wewaran dalam pawukom atau wuku. Oleh karena itu, jumlah simbol yang dicantumkan dibatasi," ujarnya.

Sedangkan cara penentuan dewasa pada Tika didasari dengan pengetahuan tentang rumus pedoman dewasa sesuai dengan rumusannya. Dalam ilmu wariga, termuat pedaoma  pedewasan berdasarkan wewaran, berdasarkan pawukon, berdasarkan tanggal-panglong, berdasarkan sasih, dan berdasarkan dauh. "Akan tetapi terkait dengan keberadaan Tika yang hanya memuat wewaran, pawukon dan ingkel, maka penentuan padewasan pada Tika hanya terbatas pada dewasa yang berdasarkan wewaran, pawukon dan ingkel. Sedangkan padewasan yang berdasarkan tanggal, sasih, dan dauh tidak tercantumkan," papar narasumber lain, I Gede Marayana.

Di samping itu, Tika sangat erat kaitannya dengan subak di Bali. Jika menengok kembali masyarakat agraris Bali pada zaman dahulu, sebelum tahun 1940, petani Bali dalam melaksanakan aktivitas bertani di sawah atau di tegalan selalu memperhitungkan keberadaan cuaca dan waktu (padewasan) dalam mengelola tanah pertanian dari awak pengerjan tanah sawah sampai pasca memanen padi. Padewasan selalu menjadi perhitungan, dengan maksud dan tujuan agar hasil pertanian yang didapat maksimal. "Jadi para petani menggunakan Tika karena mereka menganggap Tika dapat mempermudah memperhitungkan hari-hari tertentu untuk mengawali suatu pekerjaan, terutama pekerjaan mereka di sawah," tegas narasumber, Ida Kade Suarioka.

Sementara itu, Kepala UPTD Museum Subak Sanggulan Ida Ayu Ratna Pawitrani menjelaskan bahwa museum juga memiliki fungsi kajian, sehingga setiap museum wajib melakukan kajian terhadap koleksinya. Kajian ini dimaksudkan untuk memperkaya pengetahuan tentang koleksi itu, agar benda tidak hanya menjadi benda mati, tapi berbicara banyak, apa sebenarnya yang ada di balik benda itu. "Tika merupakan salah satu koleksi yang ada di Museum Subak," jelasnya.

Ditambahkannya, Tika yang ada di Museum Subak berkaitan erat dengan agraris. Jadi sedikit berbeda dengan Tika umum. Koleksi Tika yang ada di Museum Subak ada 2, yakni terbuat dari kayu dan satu lagi dari kertas fotocopy. "Tika yang ada di Museum Subak ini yang dikaji dan kemudian didiskusikan. Selanjutnya akan dijadikan buku agar masyarakat luas dapat mengetahui dan mempelajarinya," papar Pawitrani.

Lebih lanjut dikatakannya, kalender kertasnya dibuat sekitar tahun 1979, pada saat pendirian museum dan merupakan replika dari Tika asli. "Sayangnya, untuk Tika kayunya tidak ada angka tahunnya," tandasnya.

(bx/ras/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia