Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Kisah Pemangku di Pura Taman, Kekeran (2)

Tanam Semangka Ditipu Rp 80 Juta, Lihat Manusia tanpa Badan

16 November 2019, 10: 31: 12 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tanam Semangka Ditipu Rp 80 Juta, Lihat Manusia tanpa Badan

KISAH: Jro Mangku I Wayan Murjana membeber kisahnya saat ditemui di kediamannya di Mengwi. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

MENGWI, BALI EXPRESS - Setelah menjadi pemangku, Jro Mangku I Wayan Murjana berharap jalan hidupnya lebih tenang. Namun, kenyataannya cobaan terus datang. Bahkan, usahanya bangkrut hingga pernah muncul rasa penyesalan.

Berhenti bekerja, mulai kehidupan baru sebagai seorang yang tidak punya pendapatan tetap, bukan hal yang mudah. Begitulan hidup Jro Mangku I Wayan Murjana saat pertama kali menjadi pemangku. Hanya ada uang tabungan dan uang pesangon dari perusahaan di tangannya.


Menurutnya, sebagai manusia, walau jadi pemangku, tidak bisa berdiam diri mengharap rezeki akan datang dari langit begitu saja.


Zaman sekarang, tanpa uang tidak akan bisa hidup. Apalagi kini dia punya tanggungan anak-anak yang sekolah, ayah dan ibunya juga sakit, sehingga perlu uang yang tidak sedikit.  Berbekal tekad ingin juga mengamankan soal keuangannya, dia pun mencoba  membuka usaha. “Waktu itu kami sewa lahan, buat tanam semangka. Kebetulan saya suka bertani, jadi ya pekerjaan ini bisa dilakukan sambil ngayah jadi pemangku,” ujar Jro Mangku I Wayan Murjana yang diiyakan oleh sang istri.


Berjalan dengan mulus pada awalnya. Hasil usaha pun menjanjikan. Panen besar di depan mata, Jro Mangku I Wayan Murjana menjual hasilnya lewat sang partner. Kala panen, semua hasilnya dibawa oleh sang partner ke Jawa. Sesuai kata pepatah, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, semua hasil panen semangka yang mestinya dia dapatkan, tidak pernah dibayarkan. Lapor polisi pun sudah ia lakukan.

“Kerugian saat itu sampai Rp 80 juta, bangkrut saat itu usaha saya,” ujarJro Mangku I Wayan Murjana dengan nada kecewa.


“Suami saya tidak kasih tahu saya pada awalnya. Setelah saya tahu, bingung mau gimana lagi kami. Andai uang itu masih ada, pasti bisa buat biaya sekolah anak ya,” timpal Jro Mangku Istri Ni Wayan Sri Artini.

Lantaran kejadian itu, keduanya merenung dalam penyesalan karena telah melepaskan pekerjaan yang lama. “Sudah fokus ngayah mau jadi pemangku, justru hasilnya malah  ditipu orang. Nasib ya namanya,” ujar Jro Mangku Istri asal Seririt, Buleleng ini. “Saya merasa ini seperti ujian, karena baru ngayah,” timpal sang suami.


Selang beberapa lama keduanya berpikir, muncul kesadarannya bahwa sebenarnya mereka berdua dikuatkan juga oleh Ida Bathara menghadapi masalah ini. Jro Mangku I Wayan Murjana merasa andai belum ngayah jadi pemangku, masih seperti orang biasa pada umumnya, pasti  bisa stroke.

“Bener saya pikir waktu itu kalau belum jadi pemangku, tak tahu nasib saya gimana menerima kejadian saya tertipu itu sampai modal tak  tersisa,” ungkapnya lagi kepada Bali Express (Jawa Pos Group) saat ditemui di kediamannya, pekan kemarin di Mengwi.

Tidak mau berdiam diri, dengan uang tabungan yang tersisa, Jro Mangku I Wayan Murjana memutuskan berkebun di sawah warisan keluarga yang tidak terurus sebelumnya. Saluran irigasi yang tidak lancar ke sawahnya, ia benahi sendiri. Bersama sang istri, akhirnya mereka sepakat menanam bunga gumitir.

Hasilnya pun dijual sendiri, dan tidak berani mencari patner lagi. “Kami pun mulai menanam selang-seling tumbuhan palawija. Tapi, kami tertipu lagi untuk kedua kalinya. Hasil jual jagung yang seharusnya Rp 4 juta, hanya dibayarkan dua juta rupiah saja. Anehnya jagung kami dijual habis,” papar Jro Mangku I Wayan Murjana.

Menghadapi cobaan kedua ini, dirinya merasa sudah lebih kuat. Pria yang sebelumnya kerja belasan tahun di Bandara ini pun berprinsip bahwa jangan membandingkan rezeki orang lain dengan rezeki pribadi. Kini di musim kemarau panjang, ia dan istri hanya memanfaatkan lahan di dekat rumahnya yang tidak seberapa.

“Sawah kan kering ya, jadi belum bisa ditanami apa-apa juga,” ucapnya.

Selama jadi pemangku pun dirinya  mengalami banyak kejadian di luar logika. Suatu malam, ia dan rekannya meditasi di Pura Taman, tepatnya di Gedong Ratu Biyang saat malam hari.


Saat khusyuk meditasi, tiba-tiba hujan datang mengguyur. Namun, hujan hanya ada di sekitar pura saja. “Teman saya yang bilang ya, saya sih gak tahu benar atau tidak. Kalau wajah saya terlihat berbeda, bukan seperti biasanya. Hingga dia tidak berani membangunkan,” tambahnya.


Jro Mangku I Wayan Murjana mengaku memang terasa ada hujan membasahi badannya, tetapi tidak ada keinginan untuk beranjak mencari tempat berteduh.

Pengalaman janggal lainnya adalah saat dirinya tiba-tiba tengah malam dipanggil oleh suara gaib untuk datang ke Pura Taman. Sang istri pun melarang, karena waktu sudah malam sekali, tetapi panggilan itu nyata terasa baginya.

Mengendarai sepeda motor, dia lantas pergi ke pura tengah malam itu juga. “Saya segera menyalakan dupa untuk sembahyang. Ketika baru berdoa setengah kalimat, tiba-tiba tanpa sadar saya langsung berjalan keluar pura. Berjalan menuju ke Pura Beji yang jauhnya dua kilometer dari pura, hanya dengan jalan kaki saja,” urainya.


Melewati pematang sawah, dirinya seolah tidak sadar berjalan kesana. Singkat cerita sampai di Pura Beji dekat Tukad (sungai) Ulaman, dia melihat kepala, kaki, dan tangan, tanpa badan,  melakukan gerakan salto. “Saya melihatnya aneh, tidak merasa takut. Bahkan, tiba-tiba muncul banyak makhluk gaib di belakang saya. Saya langsung masuk ke dalam pura saja. Sampai di dalam, menoleh ke belakang, namun hilang semuanya,” urainya.


Jro Mangku I Wayan Murjana pun sembahyang di empat Palinggih Pura Beji itu. Usai sembahyang dia kembali ke Pura Taman melewati sawah dan sungai. Tiada ketakutan yang ia rasakan malam itu. Sampai di Pura Taman, ia mulai sadar secara penuh, dan mulai merasa ada yang janggal terhadap dupa yang dipegang.

“Harusnya mati setengah jam lalu, namun masih menyala. Saya juga melihat keris tanpa gagang menempel di dupa sepanjang genggaman tangan,” tutur Jro Mangku I Wayan Murjana sambil menyeruput kopinya.


Jro Mangku I Wayan Murjana pun berdoa untuk diizinkan mengambil keris itu. Selesai berdoa dia mengambil keris dan membungkusnya dengan kain kasa. Kemudian ia masukkan ke dalam baju keris kecil itu. Hendak pulang dari Pura Taman, ia pegang keris itu. “Aneh hanya ada kain kasanya saja, kerisnya hilang. Sambil menghela napas saya ikhlaskan, agar tidak menjadi beban pikiran,” ucap pria yang ayahnya meninggal dua tahun lalu ini.


“Begitulah kejadian yang saya alami. Semakin meneguhkan hati untuk fokus ngayah. Ekonomi keluarga  sudah stabil, walau saya kini memilih bertani,” tutupnya. (habis)

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia