Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Beli Mobil Dulu, Perbaiki Jalan Kapan-kapan

Oleh: Made Adnyana Ole

16 November 2019, 10: 36: 35 WIB | editor : I Putu Suyatra

Beli Mobil Dulu, Perbaiki Jalan Kapan-kapan

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

SEBAGAI orang miskin dengan kadar intelektual rendah, saya menyadari satu hal: bahwa tidak setiap orang yang hendak membeli mobil selalu harus memikirkan kondisi jalan, apakah jalan itu hitam-mulus atau benyah-latig. Pengusaha muda kaya-raya di sebuah pulau kecil bisa saja punya 19 mobil mewah, yang dibelinya dengan harga rata-rata di atas satu miliar, meski ia tahu di pulau kecil itu masih banyak jalan umum compang-camping.

Hanya orang biasa dengan kondisi ekonomi biasa-biasa sajalah yang membeli mobil untuk digunakan sebagai alat transfortasi, pergi-pulang kantor, atau jalan-jalan bersama keluarga. Atau, hanya orang biasa-biasa sajalah yang memamerkan mobilnya di jalan-jalan umum, karena ia memang harus menjajal jalanan agar tiba dengan cepat dan tepat di tempat kerja.

Hanya para saudagar sayur kecil-kecilan, peternak ayam kecil-kecilan, termasuk penjual telur ayam kecil-kecilan, dan sejenis-sejenisnyalah yang membeli mobil untuk benar-benar digunakan sebagai alat bekerja, agar penghasilannya meningkat, meski tak pernah bisa melebihi pendapatan pengusaha besar, misalnya pengusaha hotel dan restoran yang saban hari membeli sayur mereka, ayam mereka dan telur ayam mereka. Para saudagar dan peternak kecil cukup punya mobil pick-up, karena hanya itulah yang berguna bagi pekerjaan mereka.

Kalau pun mereka punya mobil lain, kemungkinan besar bukanlah mobil mewah. Paling-paling yang mereka punya sejenis jip tanggung dengan bak cukup besar, agar bisa digunakan bersama istri, anak, ponakan, bibi, dan mertua, jika sesekali bersembahyang ke Pura Lempuyang atau Pura Besakih. Maka lihatlah di jalan-jalan besar pada hari-hari kerja. Mobil pick-up berseliweran, dipamerkan oleh orang-orang yang bekerja, dalam jumlah banyak. Kadang di bak belakang ada kandang ayam yang sudah robek-robek. Kadang-kadang lucu juga melihat ayam itu lepas dari kandang bak belakang, lalu ayam itu beterbangan dan berlarian di jalan-jalan raya. Saya benar-benar melihat, memang begitulah potret ekonomi kerakyatan di jalan raya.     

Nah, mereka itulah yang sesungguhnya memerlukan jalan bagus. Jalan bagus untuk mereka, salah satunya agar mobil mereka tak cepat ambruk. Kasihan, jika mobil mereka ambruk, pendapatan mereka bisa mendadak berkurang karena mobil harus masuk bengkel dalam waktu cukup sering, atau pendapatan bisa diambil dalam jumlah besar hanya untuk membeli mobil baru. Jika begitu adanya, kapan ekonomi kerakyatan bisa naik level menjadi ekonomi elit?   

Orang dengan jumlah kekayaan melewati batas sekala-niskala, tak perlu jalan bagus untuk memamerkan mobil mewahnya. Mobil cukup ditaruh di garasi, dan hanya sesekali dibawa keluar rumah, misalnya untuk konvoi di jalanan, tentu dengan petugas pengawalan dan navigator yang benar-benar tahu kondisi jalan. Selebihnya mobil tetap nongkrong di garasi. Dan, aneh bin ajaib, meski mobilnya jarang keluar rumah, orang-orang toh tahu pengusaha itu punya 19 mobil mewah. Ya, karena koran memberitakannya. TV menyiarkannya. 

Otak dan pikiran orang miskin dengan kadar intelektual yang rendah seperti saya tak akan tahu untuk apa mobil itu dibeli. Mungkin untuk meyakinkan bank bahwa ia masih kaya, dan tetap memiliki jaminan kalau-kalau kreditnya macet. Mungkin juga hobinya memang koleksi mobil mewah, mirip-mirip hobi anak saya yang suka koleksi mobil mainan sehingga honor saya sebagai penulis kodian selalu terpotong untuk beli mobil mainan setiap pergi ke pasar tradisional dan pasar modern. Jadi, jika mobil hanya koleksi dan hanya ditaruh di garasi, tak perlulah memikirkan apakah jalan semulus paha artis atau serumit kulit durian.

Tapi mobil tampaknya tak selalu menyesuaikan dengan jalan. Mobil bisa saja menyesuaikan dengan bentuk rumah. Jika rumahnya mewah dan megah, maka garasi juga harus dibuat megah. Garasi yang megah harus disi mobil yang mewah juga. Sekali lagi, itu tak ada hubungannya dengan jalan. Toh, jalan bisa dibuat kapan saja, dan tidak harus si pemilik mobil yang membuatnya. 

Ini sebuah cerita. Di sebuah desa terpencil mulailah tumbuh perumahan besar, vila mewah, pasar modern, dan segala tetek dan bengek tentang kemewahan dan kebesaran lainnya. Akses jalan dari kota menuju pemukiman itu sangatlah sulit. Jalan kecil, diaspal sekadarnya, dan cukup berliku. Tapi perumahan mewah itu tetap laris karena fasilitas di dalamnya sangat lengkap. Ada kolam renang dan lapangan golf-nya.  Orang-orang yang punya duit berlebihan berrebutan membeli rumah di perumahan mewah di tengah desa yang terpencil itu. Hitung-gitung inventasi, kata mereka. Perumahan itu pun penuh. Apalagi kemudian dibangunlah akomodasi pariwisata di sekitar perumahan di desa itu, banyak vila yang disewakan, banyak restoran bernuansa alam. Tentu ada juga yang membangun pasar oleh-oleh. Mobil para penghuninya, tentu saja, rata-rata mewah.

Apa yang terjadi? Jalan dari kota menuju perumahan di desa terpencil itu selalu macet. Apalagi kemudian banyak bus besar datang ke desa itu dengan rombongan penumpang yang mungkin hanya sekadar untuk makan siang di desa terpencil itu. Jalanan jadi kumuh. Apalagi saat hujan, banjir pun tak bisa dihindarkan. Bisa ditebak kemudian, entah siapa yang memulai, terdengar teriakan-teriakan lantang di media sosial dan di media massa. Teriakan itu, jika dirangkum secara sederhana berisi permintaan tegas kepada pemerintah, agar pemerintah, baik di tingkat daerah maupun nasional, segera membangun jalan.

“Pemerintah harus bagun jalan secepatnya, bila perlu bangun short-cut. Ini untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat!” kata seorang narasumber di sebuah media lokal.

Dan akhirnya, pemerintah pun membangun jalan, melebarkan jalan yang dulunya sempit, meluruskan jalan yang dulunya berliku. Masyarakat pun senang. Yang paling senang tentu saja para pengusaha yang lebih dulu membangun investasi di desa terpencil itu. Keuntungan mereka bisa berlipat. Yang juga senang bukan kepalang adalah orang-orang kaya yang telah membeli mobil mewah jauh-jauh hari sebelum jalan diperbaiki. Kini mobilnya sesekali bisa dikeluarkan dari garasi dan dipamerkan sesekali di jalan raya agar orang-orang biasa seperti saya menjadi tahu bahwa mereka punya mobil mewah seharga miliaran rupiah.

Orang-orang biasa, para petani sayur, saudagar kecil, peternak ayam, penjual telur, masih tetap membawa mobil pick-up, mobil yang digunakan sejak bertahun-tahun, karena mobil itulah yang mereka perlukan untuk bekerja. Dan, jangan salah. Mereka juga senang saat jalan-jalan disulap mulus seperti papan seluncur. Setidaknya jalan mulus telah membuat mobil pick-up mereka tak terlalu sering ngadat, dan tak menjadi langganan tetap bengkel-bengkel tradisional tepi jalan. Soal pendapatan mereka meningkat atau tidak, itu urusan Tuhan. (*) 

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia