Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Kisah Komang Widya, Mahasiswi yang Jadi Penari Joged Bumbung

17 November 2019, 22: 46: 35 WIB | editor : Nyoman Suarna

Kisah Komang Widya, Mahasiswi yang Jadi Penari Joged Bumbung

MENARI: Widya saat menarikan tarian Joged Bali klasik di salah satu perhelatan budaya di Buleleng (ISTIMEWA)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Sosok mahasiswi cantik ini sudah menekuni tari joged bumbung atau joged Bali klasik sejak SD. Pemilik nama lengkap Komang Widya Sekar Dewi ini, memiliki tujuan mulia untuk tetap memposisikan tari joged lepas dari citra negatif.

Ia mengawali karir sebagai penari joged dari panggung ke panggung, kemudian didaulat mewaliki Kecamatan Kubutambahan di acara Buleleng Festival. Namun ia juga pernah mewakili Buleleng di ajang Pesta Kesenian Bali dari tahun 2015 hingga 2018. Bahkan menjadi juara 2 menari joged klasik mewakili Buleleng di provinsi pada tahun 2016 bertempat di lapangan Puputan Margarana, atau Monumen Perjuangan Rakyat Bali (lebih dikenal Lapangan Bajra Sandi) Renon, Denpasar.

Walaupun sudah mendapatkan beberapa prestasi tersebut, ia masih tetap ingin menekuni hobi yang sudah dia jalani selama 9 tahun tersebut dengan lebih dalam. Agar bisa menghidupkan kembali tarian joged klasik yang sudah mulai ditinggalkan oleh para remaja khususnya karena isu negatif yang masih melekat di masyarakat tentang tarian joged porno.

Namun gadis kelahiran 17 Februari 1999 tersebut selalu mencoba menjawab persepsi negatif terhadap tarian joged dengan cara menarikan tarian joged yang memang sesuai pakem sebenarnya di setiap pentas, agar nilai negatif terhadap penari joged kembali positif seperti sebelumnya, "Memang masih ada beberapa yang menarikan tarian joged porno, namun sekarang kembali ke penarinya masing-masing. Kalau saya selalu berusaha menampilkan tarian joged klasik sesuai dengan pakem aslinya," tegas Widya.

Widya Sekar yang menceritakan bahwa dirinya sudah menjadi penari joged sejak dari kelas 5 Sekolah Dasar hingga sekarang, banyak sekali suka duka yang sudah dirinya temui pada saat menari joged baik itu pengibing yang ricuh saat mengambil giliran untung ngibing, berbuat tak senonoh saat ngibing.

Namun, menurutnya, hal tersebut kembali ke penarinya, bagaimana penari bisa mengontrol pengibing, mengundang penonton yang akan ngibing agar bisa berbuat baik saat ngibing. Semua itu tergantung penarinya.

Saat ditanya sukanya menjadi penari joged, ia mengatakan bahwa ada kesan senang telah bisa menghibur dan melestarikan kesenian tari joged dengan pakem yang sebenarnya tanpa ada unsur pornonya. “Dukanya ya terkadang bertemu pengibing yang ricuh, nakal saat ngibing. Namun hal tersebut tergantung bagaimana cara kita mengundang penonton untuk ngibing saat kita menari. Sukanya, bisa memberikan hiburan ke masyarakat dengan menarikan tarian joged yang sesuai pakemnya, tanpa ada unsur porno," jelasnya kepada koran ini.

Penari cantik asal Desa Tamblang yang saat ini menjalani kuliah di salah satu perguruan tinggi di Singaraja juga menjelaskan, sebagai penari joged harus memiliki taksu. “Biasanya sebelum menari ada persembahan yang dihaturkan terhadap gelungan yang akan dipakai menari agar taksunya muncul,” urainya

Mahasiswa yang saat ini masih duduk di semester 5 tersebut juga mengungkapkan bahwa selama menjalani hobinya sebagai seorang penari joged, ia juga merasa senang karena bisa menambah uang saku untuk bekal kuliahnya. Sebab dalam seminggu ia mendapatkan job menari selama 3 kali dengan tarif sesuai dengan jarak tempuh tempat yang menjadi lokasi menari. "Ya untuk seminggu biasanya 3 kali dapat job. Jadi lumayan untuk mengurangi sedikit beban orang tua untuk biaya kuliah. Tarifnya juga tergantung jarak tempuh, misalnya dekat dari rumah itu hanya Rp 300 ribu, tapi kalau sampai ke luar dari Buleleng beda lagi tarifnya," pungkas Widya.

(bx/dar/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia