Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Politik

Pak Oles: Jangan Paksa Bali Untuk Pariwisata Halal

18 November 2019, 10: 31: 38 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pak Oles: Jangan Paksa Bali Untuk Pariwisata Halal

Gede Ngurah Wididana (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Kadang menteri baru membuat kebijakan baru. Ketika sebelumnya ada arah membawa Bali sebagai pariwisata halal, muncul lagi istilah baru dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama memunculkan rencana Bali dan Toba menjadi pariwisata ramah muslim.

 

Menurut Gede Ngurah Wididana alias Pak Oles kondisi ini sangat bertentangan dengan Pariwisata Budaya Bali yang sudah berkembang dan sudah sangat diterima oleh dunia. “Bali sudah berkembang dengan model pariwisata yang cocok yaitu pariwisata budaya. Dengan dasar dan pondasi budaya Bali yang berbasis agama Hindu,” jelas politisi asal Bengkel, Buleleng ini.

Dengan kondisi ini, menurut Ketua Bapilu DPD Demokrat Bali ini, jangan Bali dipaksa dengan jargon wisata halal, wisata ramah muslim. Karena Bali malah sudah sangat ramah, bahkan sangat toleran terhadap muslim. Tidak perlu lagi diragukan, dari zaman kerajaan orang muslim diterima sangat bagus di Bali. Aktivitas toleransi beragama saat ini di Bali berjalan sangat bagus dan saling menghargai. “Bali sudah memiliki satu areal, dengan semua tempat ibadah,” jelas mantan calon Wakil Gubernur Bali ini.

Tak hanya itu, Bali juga sudah terbukti mampu sangat ramah dengan wisatawan muslim. Tokoh besar muslim yaitu Raja Salman misalnya, sebagai penguasa Arab mampu betah dan sangat nyaman liburan di Bali. Bahkan sampai memperpanjang waktu liburan. “Apa artinya, ketika Raja Salman misalnya nyaman dan memperpanjang waktu liburan di Bali. Artinya Bali sudah sangat ramah muslim, itu sudah terjadi dan tidak perlu lagi diotak-atik,” sambung mantan Ketua Hanura Bali ini.

Misalnya restoran dengan sertifikasi halal sudah ada, pembatasan minuman keras sudah ada. Sudah sangat lama di Bali menerapkan kebijakan tidak semua minimarket menjual minuman keras. “Bali sudah berjalan, pariwisata Bali sudah memiliki bentuk. Urusan ramah, Bali ramah dengan siapapun, bahkan tamu dianggap sebagai pihak yang melebihi raja. Bahkan dianggap ibarat tuhan, karena tamu memberikan rejeki juga bagi Bali, dan orang yang mencari kerja di Bali,” pungkas alumnus Faculty of Agriculture Universitas of The Ryukyus Jepang ini. 

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia