Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Enjoy Bali

Jalan-jalan di Desa Tua Tenganan Pegringsingan

18 November 2019, 11: 55: 58 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jalan-jalan di Desa Tua Tenganan Pegringsingan

POLA: Wisatawan yang datang ke Desa Tenganan tidak disuguhi dengan fasilitas wisata modern, tetapi diajak melihat pola perkampungan tradisional dan aktivitas keseharian warga Tenganan. (ISTIMEWA)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS  - Desa Tenganan Pegringsingan di Karangasem, menjadi destinasi wisata yang sangat diminati  wisatawan, karena  merupakan salah satu desa tua di Bali yang sangat kokoh mempertahankan adat dan tradisinya.

Wisatawan yang berkunjung ke Desa Tenganan Pegringsingan  akan disambut pemandu wisatawan lokal, yang siap  memandu untuk berkeliling di areal pemukiman Desa Tenganan.
Pemandu wisatawan lokal, Putu Suwirya, mengatakan,  wisatawan yang datang ke Desa Tenganan tidak akan disuguhi dengan fasilitas wisata modern, tetapi  diajak untuk melihat secara langsung pola perkampungan tradisional yang ada di Desa Tenganan. “Kami di Desa Tenganan, sampai saat ini masih menjalankan pola hidup seperti yang kami warisi dari generasi sebelumnya,” jelasnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) pekan kemarin.


Salah satu bentuk tradisi yang masih dijalankan dalam pola kehidupan masyarakat Tenganan  adalah pola pemukiman yang ada di Desa Tenganan. Dalam sistem perumahan di Desa Adat Tenganan ini, lanjut  Suwirya, masyarakat Desa Tenganan  masih mempertahankan pola pemukiman  seperti benteng.


Pola pemukiman seperti benteng ini diterapkan karena dalam sistem kepercayaan masyarakat Tenganan, masyarakatnya memuja dewa Indra sebagai dewa tertinggi. Dewa Indra dalam mitologi agama Hindu merupakan manifestasi Tuhan sebagai Dewa Perang.


Setelah melihat perumahan masyarakat, wisatawan selanjutnya akan diajak melihat secara langsung bagaimana proses pembuatan kain tenun Gringsing yang menjadi aktivitas rutin masyarakat Tenganan, khususnya kaum perempuan.


Kain Gringsing  merupakan satu-satunya kain tenun tradisional di Indonesia yang dibuat menggunakan teknik dobel ikat. “Umumnya masyarakat Tenganan menggunakan kain Gringsing  saat upacara keagamaan,” ungkapnya.


Dikatakan Suwirya, Gringsing  mengadung arti sebagai penolak bala. Kata Gringsing berasal dari dua suku kata, yakni 'gring' yang berarti sakit, dan 'sing' berarti  tidak, dan bila  digabungkan arti Gringsing menjadi tidak sakit. "Maksud yang terkandung dalam kata Gringsing  tersebut adalah seperti penolak bala," bebernya.


Setelah puas berkeliling di Desa Tenganan, selain membawa pulang oleh-oleh berupa foto dengan latar belakang rumah-rumah tradisional Tenganan, wisatawan juga bisa membawa pulang oleh-oleh berupa kalender lontar, telur hias, kerajinan ata, dan kain Gringsing.
Oleh-oleh khas Tenganan ini dijual mulai dari pintu masuk hingga di rumah-rumah penduduk, yang memiliki spot khusus untuk memajang beragam jenis kerajinan. “Untuk yang di rumah penduduk, produk kerajinannya biasanya diproduksi sendiri oleh masyarakat Tenganan,” jelasnya.


Selain di rumah-rumah penduduk, wisatawan juga bisa membeli oleh-oleh di toko-toko yang ada di areal parkir kendaraan yang ada di luar teritori Desa Tenganan.  Kalender lontar yang terbuat dari daun lontar ini, berisi urutan waktu yang sesuai dengan sistem penanggalan kalender Bali pada umumnya. Selain dibuat kalender,  gulungan lontar ini juga ada yang ditulisi cerita pewayangan, seperti Ramayana dan Mahabarata. Kalender Bali ini dibanderol dengan harga Rp 100 ribu sampai  Rp 500 ribu, tergantung kualitas dan  kerumitan gambarnya. “Selain kalender, di sini juga dijual beragam oleh-oleh lain, seperti pembatas buku, gantungan kunci dan beragam jenis pernak-pernik yang terbuat dari daun lontar atau anyaman ata,” pungkas Suwirya.

(bx/gek/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia