Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Malukat Identik dengan Makanan Rohani, Kian Sering, Makin Bagus

18 November 2019, 13: 15: 28 WIB | editor : I Putu Suyatra

Malukat Identik dengan Makanan Rohani, Kian Sering, Makin Bagus

MELUKAT: Pamedek malukat di Pancuran Tri Mala dan Panca Mala, Pura Beji Selati, Bangli, ramai berdatangan, apalagi saat hari penting umat Hindu. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Menjaga kebersihan dan kesucian adalah salah satu kewajiban sebagai umat beragama. Demikian pula halnya sebagai umat Hindu, kebersihan dan kesucian berpengaruh pada sraddha dan bhakti. Dengan kebersihan dan kesucian yang terjaga, maka umat Hindu memiliki fisik dan mental yang lebih prima dalam melakukan aktivitas keagamaan maupun kehidupan sehari-hari.

Salah satu cara yang kerap ditempuh untuk mendapatkan kebersihan dan kesucian adalah dengan cara panglukatan. Bagi umat Hindu di Bali, jika mendengar tentang panglukatan, maka secara otomatis terbayang dengan air, karena pada prinsipnya praktik agama Hindu di Bali tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan air sebagai salah satu sarana ritual.

Air yang telah disucikan disebut dengan tirtha. Tirtha tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan maksud dan tujuan melalui proses ngarga tirtha. Salah satu bentuknya adalah tirtha panglukatan yang digunakan untuk menyucikan pelaku maupun sarana upacara.

Jika umat Hindu hendak sembahyang ke pura, tirtha panglukatan bisa ditemui ketika akan memasuki areal pura. Tirtha panglukatan tersebut biasanya ditaruh sedemikian rupa dengan wadah berupa sangku. Apabila pamedek sedang ramai, biasanya ada pamangku yang langsung nyiratang tirtha panglukatan. Akan tetapi bila sedang sepi, maka pamedek nyiratang tirtha secara sendiri-sendiri. Setelah mendapatkan tirtha tersebut, dianggap bahwa pamedek telah disucikan dan boleh masuk ke areal pura yang suci.

Menurut Ketut Gede Suatma Yasa yang popular dengan nama Guru Mangku Hipno, panglukatan adalah salah satu prosesi untuk menyucikan pikiran, hati, dan tubuh. Praktisi spiritual tersebut menjelaskan bahwa panglukatan ada dua jenis, yakni yang bersifat membersihkan dan bersifat menyucikan. “Panglukatan yang sifatnya pembersihan seperti mandi di campuhan, yang notabene menggunakan sarana yang sudah ada di dunia, sedangkan penyucian menggunakan sarana yang belum ada di dunia, namun kita mohonkan kekuatan Tuhan agar menurunkan kekuatan demikian,” ujarnya.

Guru Mangku Hipno melanjutkan bahwa malukat sangat penting bagi kehidupan manusia, karena setiap hari hampir 78 persen pikiran, perasaan, dan tindakan seseorang cenderung memiliki unsur negatif, dalam artian setiap hari manusia cenderung menyebarkan vibrasi negatif. “Oleh karena itu, penyucian adalah salah satu jalan untuk membersihkan diri sendiri dan lingkungan, yakni semesta secara langsung,” jelas Mangku Hipno yang tinggal di Perumahan Gunung Sari Indah, Kebo Iwa Utara, Denpasar.

Lebih mendalam, pemilik Brahmakunta Centre tersebut, mengatakan, secara metafisika, malukat dengan tujuan pembersihan dapat dilakukan di campuhan, yakni titik pertemuan dua aliran sungai. Bagi umat Hindu, campuhan merupakan salah satu tempat yang mengalirkan energi positif. Di samping itu, panglukatan ini bisa pula dilaksanakan di beji (sumber air suci) dan pantai. Sementara itu, jika hendak melakukan penyucian, maka untuk lebih sederhana Guru Mangku Hipno menyarankan malukat di sanggah surya yang bertempat di kamulan. “Saat malukat ring surya, kita mohonkan panyucian dari atas, yakni Akasa,” paparnya.

Guru Mangku Hipno mengatakan, di Bali selama ini antara pembersihan dan panyucian terkadang disamakan, namun secara metafisika itu berbeda. Sejauh ini, pria kelahiran Singaraja tersebut mengatakan, dari segi fungsi pembersihan, panglukatan yang telah dilaksanakan di Brahmakunta bertujuan untuk mengatasi penyakit jasmani. “Pembersihan untuk mengatasi penyakit yang berhubungan dengan sekala, seperti kesalahan pola tindakan, kesalahan pola makan, dan melanggar aturan agama secara fisik,”jelasnya. Sedangkan panyucian dilakukan untuk mengatasi penyakit rohani atau niskala. “Kalau panyucian bertujuan untuk mengatasi penyakit yang berhubungan dengan perasaan dan pikiran,” imbuhnya.

Saat ditanya hari yang paling baik atau tepat untuk melaksanakan panglukatan, Guru Mangku Hipno menyarankan memilih purnama atau tilem (bulan mati) karena saat tersebut energi alam lebih besar dibandingkan biasanya. Demikian pula waktu yang paling baik adalah pagi hari, sebelum matahari terbit atau malam. Jika dilakukan pagi hari, maka dimohonkan anugrah kepada Dewa Surya. “Pagi adalah waktu yang baik karena banyak sulinggih yang melakukan yoga dan nyurya sewana, sehingga vibrasi bagus,” jelasnya. Sedangkan jika dilakukan setelah matahari tenggelam, lanjutnya, mohon anugerah dari Sang Hyang Candra Lintang Trenggana (bulan bintang).

Ia melanjutkan bahwa panglukatan tersebut sebaiknya dilakukan secara rutin. “Dianjurkan 15 hari atau 30 hari sekali. Karena kalau tidak dilukat, cenderung yang timbul adalah vibrasi negatif,” jelasnya. Adapun vibrasi negatif yang dimaksud utamanya timbul dari tiga hal, yakni nafsu, ambisi, dan emosi yang tidak terkendali. Apabila terus dibiarkan, maka menurutnya akan berakibat kepada sakit pikiran, perasaan, dan tubuh.

Mengenai sarana, Guru Mangku Hipno mengatakan, jika pembersihan biasanya tidak memerlukan sarana khusus karena cenderung mengandalkan energi alam. Sedangkan jika penyucian, sarana utamanya adalah bungkak nyuh gading. Selanjutnya diperlukan pula bunga warna lima dan pejati. “Pejati itu lambang kesujatian, bahwa sungguh-sungguh kita nunas,” ujarnya.

Jika yang melukat lebih dari satu orang, lanjutnya, pejatinya tetap satu dengan syarat orang-orang tersebut masih satu keluarga. “Yang sesuai dengan jumlah orangnya adalah bungkaknya,” jelasnya.

Guru Mangku Hipno menegaskan bahwa malukat adalah hal yang penting. “Melukat itu adalah “makanan rohani”. Makin banyak makanan rohani, maka semakin baik,” tambahnya. Bagi umat yang hendak dituntun dalam panglukatan, Mangku Hipno mempersilakan datang ke Brahmakunta Centre.

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia