Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Misteri Pasar Sanglah, Bekas Kandang Sapi Dijaga Raksasa dan Asu

18 November 2019, 22: 02: 24 WIB | editor : Nyoman Suarna

Misteri Pasar Sanglah, Bekas Kandang Sapi Dijaga Raksasa dan Asu

RAKSASA DAN ASU: Palinggih penjaga Pasar Sanglah berupa patung raksasa dan asu. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR,  BALI EXPRESS - Ada yang unik di Pasar Sanglah, Desa Dauh Puri Kelod, Kecamatan Denpasar Barat, Denpasar. Sebab, selain Pura Melanting, di sana ada  dua “pelinggih” khusus yang dipercaya sebagai “satpam” niskala pasar tersebut. Pelinggih itu berupa patung yang menyerupai raksasa dan seekor anjing yang sedang duduk tepat di pintu masuk pasar.

Pemangku Pura Melanting Pasar Sanglah Jero Perijata yang biasa disapa Jero Mangku Melanting menceritakan bahwa sejak i dulu Pasar Sanglah sudah dikenal angker oleh orang-orang sekitarnya. Bahkan pasar yang dulunya merupakan kandang sapi ini, memiliki banyak cerita di luar nalar manusia.

Setelah menjadi pasar, dahulu ada pedagang yang mengalami kesurupan. Pada saat kesurupan, pedagang diminta membuat pelinggih untuk penjaga pada saat pasar sepi. Atas petunjuk tersebut, kepala pasar membelikan patung asu (anjing) dan patung raksasa yang sampai saat ini dipercaya sebagai penjaga atau satpam niskala di pasar tersebut.

“Dulu pasar ini merupakan kandang sapi, kemudian dialihfungsikan menjadi pasar. Setelah dijadikan pasar, seorang pedagang kesurupan, kemudian meminta dibuatkan pelinggih untuk penjaga niskala ketika pasar dalam keadaan sepi. Maka dibelikanlah patung asu yang sekarang ada di depan pintu masuk,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Jero Mangku yang sudah ngayah sejak 1991 di pasar tersebut mengulas tentang kejadian-kejadian yang banyak dialami para pedagang di pasar. Di antaranya pernah ada yang melihat sapi yang bertarung. Ada juga pedagang yang membawa anak ke pasar, maka anak tersebut menangis karena di pasar tersebut ada banyak penghuni anak-anak. Namun setelah menghaturkan pejati, si anak akan berhenti menangis. Kemudian pernah juga terjadi antara pedagang berkelahi. Bahkan dirinya sering tidak sadarkan diri dan tiba-tiba sudah di rumah sakit tanpa diketahui apa sebabnya.

Dengan beberapa kejadian tersebut, Jero Mangku memohon petunjuk kepada orang pintar.  Maka turunlah penghuni gaib di pasar tersebut, meminta agar diberikan upah serta agar dibuatkan piodalan di Pura Melanting setiap 6 bulan sekali yang jatuh pada rahina Buda Kliwon Pagerwesi.

“Sebelum diadakan piodalan, banyak sekali ada kejadian aneh di sini sehingga tiang (saya ) memohon petunjuk di Candi Narmada, sebagai tempat pemujaan Ida Ratu Niang Lingsir Sakti. Kemudian didapat petunjuk bahwa Beliau tidak mau odalan dilaksanakan setiap setahun sekali. Melainkan Beliau ingin piodalan di Pura Melanting Pasar Sanglah dilaksanakan setiap 6 bulan sekali, nemonin Buda Kliwon Pagerwesi. Semenjak itu kejadian aneh tidak pernah terjadi lagi di sini,” paparnya.

Jero Mangku yang kesehariannya menjadi pengayah di Pasar Sanglah tersebut mengaku, patung asu tersebut tidak pernah meminta harus diberikan persembahan yang wajib setiap hari. Namun sebagtai penjaga nisakala, pada saat hari-hari tertentu meminta persembahan berupa tipat gong.

Piodalan untuk kedua palinggih tersebut tidak ada. Namun bertepatan dengan odalan di Pura Melanting, kedua penjaga gaib tersebut meminta suguhan berupa pejati, nasi rongan, dan be karangan. Persembahan sehari-harinya, para pedagang biasanya menghaturkan canang sari, ajeng saiban dan permen.

“Kedua palinggih tidak ada odalan, namun odalan hanya dilaksanakan di Pura Melanting, Ratu Gede dan Penunggun Karang. Pada saat piodalan, baru palinggih asu dan patung raksasa tersebut diberikan persembahan berupa pejati, nasi rongan, dan be karangan. Sementara untuk sehari-hari hanya dihaturklan canangsari, saiban, dan permen,” imbuhnya.

(bx/dar/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia