Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Gunung Payung Tempat Mohon Berkah Pemimpin dan Pedagang

19 November 2019, 13: 13: 13 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Gunung Payung Tempat Mohon Berkah Pemimpin dan Pedagang

TERKAIT : Pura Gunung Payung di Banjar Batu Lumbung, Desa Adat Tuka, Kecamatan Kuta Utara, ada kaitannya denga Pura Gunung Payung di Kutuh. (AGUS SUECA MERTA/BALI EXPRESS)

Share this      

KUTA UTARA, BALI EXPRESS - Pemimpin adalah  jabatan dengan tanggung jawab berat. Tak jarang orang yang diberikan jabatan penting itu, justru dibayangi keragu-raguan. Jika hal itu terjadi, ada solusi niskala, salah satunya  mohon doa restu di Pura Gunung Payung di Banjar Batu Lumbung, Desa Adat Tuka, Kuta Utara.

Pura Gunung Payung merupakan pura yang cukup bersejarah. Menurut Pemangku Pura Gunung Payung, Jro Mangku I Gede Sudana, 58, pura dibangun ketika masa Dang Hyang Nirartha melakukan perjalanan ke Bali. Kala itu Dang Hyang Nirartha melangsungkan perjalanan dari bukit selatan di Kuta Selatan menuju ke bukit yang berada di Petang.


Dalam perjalanan ke utara, Dang Hyang Nirartha melakukan meditasi di beberapa tempat, yang salah satunya di Desa Adat Tuka. “Beliau membangun juga Pura Gunung Payung di Tuka, mirip dengan Pura Gunung Payung di Kutuh,” ujar Jro Mangku I Gede Sudana ketika ditemui Bali Express ( Jawa Pos Group) di wantilan pura, pekan lalu.

Palinggih di Pura Gunung Payung diakuinya  sama dengan yang ada di Kutuh, Kuta Selatan. Area Pura Gunung Payung memiliki konsep Dwi Mandala. Utamaning mandala terdapat Bale Papelik, Palinggih Melanting  untuk stana Ratu Mas Meketel. Kemudian ada Meru tumpang tiga sebagai  stana Ratu Bagus, Meru Tumpang Dua stana Ida Dang Hyang Niratha,  Palinggih Manik Galih dan Palinggih Rambut Sedana. Di jaba ada balai gong, Palinggih Ratu Ngurah Sakti Pangenter Jagat dan Palinggih Ratu Niang. Di sebelah timur pura terdapat juga Pura Beji sebagai temat patirtan ketika piodalan berlangsung.

Menurut Jro Mangku I Gede Sudana, arti dari nama Gunung Payung adalah sebagi peneduh atau pangayom jagat. Karena diangap sebagai peneduh jagat, lanjutnya, membuat orang banyak mencari taksu dalam bidang kepemimpinan. Orang yang ingin menjadi pemimpin yang baik dan menjadi pengayom, sering kali meminta taksu di Pura Gunung Payung. “Biasanya ketika seorang jadi pemimpin merasa belum bisa dengan baik, maka orang bersangkutan  datang untuk berdoa ke sini,” ujar Jro Mangku I Gede Sudana.

Sarana yang dibawa berupa banten pajati. "Saya tidak ingin memberatkan umat yang hendak meminta tuntunan beliau dalam memimpin,” tambah pria yang menjadi mangku menggantikan ayahnya ini.

Diakuinya, banyak yang kembali untuk bersembahyang karena terkabul doanya. Tidak hanya berasal dari pangempon saja, diluar itu pun banyak yang datang. Biasanya orang yang meminta taksu (aura positif)  tersebut datang ketika purnama dan tilem, karena ada sembahyang bersama.
Selain bisa memohon taksu menjadi pemimpin, lanjutnya, pamedek ( umat yang datang)  sembahyang ke pura ini juga memohon taksu berdagang. Sarana yang dibawa oleh pamedek pun sama dengan memohon taksu untuk berdagang. “Sangat bagus juga di pura ini, jika seorang pedagang ingin memohon taksu karena memang ada Palinggih Rambut Sedana dan Melanting,” terang Jro Mangku I Gede Sudana.

Jika memohon taksu kepemimpinan, maka pamedek tersebut akan fokus dalam pemujaan ke Palinggih Meru Tumpang Dua yang menjadi stana Ida Dang Hyang Nirartha. Jika untuk berdagang maka ke Palinggih Rambut Sedana dan Melanting. “Kalau taksu berdagang itu saya juga buktikan, banyak pedagang yang datang sembahyang ke sini,” ujar pria yang mempunyai usaha koperasi ini.

Sebagai sebuah pura yang sudah berdiri lama, ada juga kisah magis. Dikatakannya, ada  seorang warga dahulu  mendapat anugerah berupa paica (benda bertuah) dari Ratu Ngurah Sakti Pangenter Jagat.  "Setelah mendapat paica tersebut, orangnya menjadi pintar mengobati. Tidak tanggung-tanggung dia bisa menyembuhkan orang patah tulang.  Dia terkenal sekali bisa mengatasi  keseleo hingga patah tulang. Rumahnya ada dekat dengan kawasan pura,” ucapnya sambil menunjuk posisi  rumah pria yang mendapat paica tersebut.

Namun, orang tersebut kini sudah meninggal. "Hingga kini belum tahu siapa yang akan mewarisi keahliannya itu,” imbuh Jro Mangku I Gede Sudana.


Dijelaskannya, Pura Gunung Payung diempon (ditangani) oleh 10 Kepala Keluarga (KK), dimana 7 KK dari Desa Adat Tuka dan 3 KK dari Buduk.  Di pura ini terdapat Pratima (sosok yang disakralkan) berupa singa dengan sayap. Piodalannya jatuh pada Purnama sebelum Tumpek Uye,  sehingga  tidak menggunakan pawukon ataupun sasih sebagai dasar penentuan piodalan. “Ketika piodalan di Pura Gunung Payung yang ada di Kutuh, saya selalu mengajak pangempon di sini untuk tangkil. Mengingat yang di Kutuh adalah pusatnya Pura Gunung Payung,” pungkasnya.

(bx/sue/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia