Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Seniman Sastra Tabanan I Nyoman Jegog Berpulang

19 November 2019, 20: 13: 24 WIB | editor : Nyoman Suarna

Seniman Sastra Tabanan I Nyoman Jegog Berpulang

Seniman Sastra Tabanan I Nyoman Jegog semasa hidup. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS - Tabanan kehilangan satu orang senimannya. I Nyoman Jegog, meninggal dunia pada usia 77 tahun. Jegog merupakan seniman sastra yang dikenal dengan karya sastranya yang mengagumkan. Sejak kecil Jegog juga sudah menekuni berbagai bidang seni, baik seni tabuh, tari dan tentunya sastra Bali Purwa. Atas prestasinya, Jegog pun mendapatkan penghargaan Dharma Kusuma dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali tahun 2018.

Anak ketiga almarhum, I Nyoman Sardhula Wikridhita mengatakan, seniman tersebut menghembuskan napas terakhir, Minggu (17/11) pukul 12.30 Wita dalam perjalanan ke rumah sakit. Kala itu almarhum yang juga seorang pemangku tiba-tiba sesak napas. "Sebelumnya memang sakit, sempat panas lalu sedikit disentri. Setelah diberikan obat, sudah baikan. Tetapi bapak kemudian sesak napas dan dinyatakan meninggal dunia setelah sampai di rumah sakit," paparnya saat ditemui di rumah duka, di Banjar Tunjuk Tengah, Desa Tunjuk, Kecamatan Tabanan, Selasa (19/11).

Kepergian sang ayah pun membuat ia dan seluruh keluarga benar-benar merasa kehilangan. Raut wajah kesedihan tak bisa ia sembunyikan. Kendatipun demikian, ia mencoba ikhlas melepas kepergian sosok yang selama ini menjadi panutannya.

Ia menuturkan, karya-karya almarhum lebih banyak dalam bentuk buku geguritan atau kekawin, khususnya menerjemahkan geguritan dan kekawin dari bahasa Sansekerta ke tulisan latin sehingga lebih mudah dipahami masyarakat. Almarhum sudah menulis sejak tahun 1998 dengan mengarang buku geguritan yang mengambil cerita pewayangan.

 "Ada yang dicetak dan ada yang tidak. Yang dicetak oleh Pemda Tabanan, di Denpasar juga ada. Jumlahnya cukup banyak. Seingat saya, di Tabanan saja ada sampai 7 judul buku," imbuhnya.

Adapun buku yang paling dikenal adalah berjudul Patra Yadnya. Hingga saat ini koleksi buku-buku almarhum masih tertata rapi di ruang kerjanya. Almarhum juga memiliki perpustakaan pribadi yang bernama Ceraki. "Beliau menulis buku lebih ke untuk ngayah, agar bisa bermanfaat bagi masyarakat. Tidak semata-mata untuk keuntungan saja," lanjut Wikridhita.

Selain aktif di bidang sastra, almarhum juga aktif didunia seni tari, khususnya penopengan dan bergabung dengan Sekaa Wayang Wong Tunjuk.

I Wayan Jegog dilahirkan di Desa Tunjuk, 6 Agustus 1942 dan berkarir sebagai guru. Ia pernah bertugas di Kerobokan, lalu SDN di Beng, Tunjuk yang kini bernama SDN 4 Buahan, kemudian menjadi kepala sekolah di SDN 5 Dajan Peken sampai pensiun tahun 2001.

Pasca pensiun, almarhum yang menjadi pemangku di Pura Belong itu tetap menjalankan hobinya dalam menulis sastra. Bahkan setiap hari, beliau bangun pukul 04.00 untuk menulis. "Anak-anaknya sering mengingatkan agar banyak istirahat, jangan bangun terlalu pagi. Namun menurut beliau, inspirasinya banyak datang pada pagi hari," lanjutnya.

Dedikasinya pada seni sastra, tari hingga tabuh membuatnya menjadi salah satu penerima penghargaan Dharma Kusuma di Provinsi Bali pada tahun 2018. Adapun buku terakhir yang diterbitkan almarhum berjudul Ceraki Tingkeb.

"Beliau sering kali mengetik menggunakan mesin ketik. Ada 2 mesin ketik yang sering dipakai oleh beliau untuk membuat karya-karya tersebut," sambungnya.

Almarhum pergi meninggalkan seorang istri bernama Ni Wayan Sulatri, 71, dengan tiga orang anak yakni Ni Made Sikarini, 51, I Nyoman Sardhula Wikridhita, 49, dan I Ketut Sanda Adnyana, 46, serta tujuh orang cucu dan cicit.

Darah seninya menurun pada putrinya Ni Made Sikarini yang juga menggemari seni sastra. Begitu juga dengan anak bungsunya yang piawai melukis. Di sampingi itu, anak dari Wikridhita juga sering kali diajak nopeng oleh almarhum.

Keluarga akan menggelar pengabenan terhadap almarhum pada hari Jumat (22/11) yang diawali dengan prosesi nyiramang layon, Kamis (21/11). Sesuai pesan almarhum sebelum meninggal, seluruh cucunya diminta untuk mesangih (potong gigi,Red). 

"Tentunya sosok beliau tidak akan pernah tergantikan, karya-karya beliau juga akan selalu dikenang," pungkasnya.

(bx/ras/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia