Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Lumpuh Akibat Kesetrum Listrik, Yarsa Berobat ke Balian

19 November 2019, 22: 46: 14 WIB | editor : Nyoman Suarna

Lumpuh Akibat Kesetrum Listrik, Yarsa Berobat ke Balian

LUMPUH: Nyoman Yarsa tengah duduk di kursi roda, ditemani sang ibu Ni Nengah Puri. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS - I Nyoman Yarsa, seorang lelaki yang kini menginjak 24 tahun, hanya bisa duduk di kursi roda. Dokter menyebut, saraf pemuda asal Datah, Kecamatan Abang, Karangasem itu  telah rusak akibat kesetrum listrik beberapa tahun lalu.

Suasana rumah Yarsa di Banjar Juuk, Desa Datah, Kecamatan Abang, Karangasem tampak sepi. Di sana hanya ada sang ibu, Ni Nengah Puri, yang setia menunggui pemuda malang itu. Ketika itu, Yarsa tengah duduk di kursi roda, sembari mengunyah makanan kesukaannya. Sedangkan sang ibu terus menyuapi sampai Yarsa mengangguk, tanda sudah kenyang.

Kehangatan keluarga kecil itu cukup terasa. Apalagi kalau sang ayah, Wayan Sari, ada di sana. Namun sayang, Sari tengah pergi ke ladang. “Ada keperluan,” kata Puri saat ditanya keberadaan suaminya. 

Sementara, Yarsa hanya tersenyum simpul. Tidak banyak berucap, apalagi satu kata. Tampaknya dia berusaha mengajak orang berkomunikasi lewat senyumnya. Maklum, Yarsa sudah tidak mampu bergerak sejak dia mengalami musibah sekitar tujuh tahun silam.

Puri menceritakan, anaknya mengalami kelumpuhan setelah 10 hari koma dalam perawatan di RSUP Sanglah, beberapa tahun silam. Kata dokter, saraf-sarafnya sudah rusak lantaran tersengat listrik saat mengerjakan proyek bangunan hotel di Denpasar. “Sebet keneh titiang nolih Yarsa sekadi niki (Sedih saya melihat Yarsa seperti ini),” ucap Puri lirih.

Dulu, sebelum musibah menimpa, Yarsa dikenal sebagai pemuda lincah. Kemana-mana selalu siap, apabila ditawari pekerjaan apapun. Yarsa sendiri sebelumnya menempuh pendidikan di SMK Amlapura, Karangasem.

Selepas tamat sekolah, dia mulai membantu ayah dan ibunya bekerja sebagai buruh bangunan. Yarsa pun belajar dengan mengamati orangtuanya bekerja. Hingga lama-lama, dia menjadi terbiasa mengerjakan sesuatu.

Hingga pada akhirnya keluarga ini mendapat tawaran bekerja di sebuah proyek pembangunan hotel di Denpasar. Kedua orangtua Yarsa yang sudah lama jadi buruh bangunan, juga ikut bekerja di tempat itu. Yarsa ibarat junior yang baru menguasai beberapa keterampilan, juga ambil bagian bekerja di proyek itu. Dia pun mencoba membantu memasang keramik di kolam renang, di lokasi proyek tempatnya bekerja.

Namun musibah tak bisa ditolak. Saat bekerja di kolam renang itulah, tubuh pemuda malang itu tiba-tiba terpental sejauh dua meter. Semua pekerja yang ada di lokasi proyek panik, termasuk kedua orangtuanya yang langsung lari mendekati Yarsa yang sudah tidak sadarkan diri.

“Tiang saat itu kerja di toilet. Anak saya di kolam renang,” tutur Puri, seraya mengatakan, musibah itu terjadi lantaran kabel penyambung aliran listrik menuju alat potong keramik yang dipegang Yarsa mengenai air. 

Yarsa dilarikan ke rumah sakit dekat lokasi proyek. Lantaran keadaan makin gawat, dia dirujuk ke RSUP Sanglah. Selama 10 hari lebih dirawat, Yarsa tak kunjung siuman. “Sampai saya menyesal, kenapa anak saya ikut di proyek,” sesal wanita paruh baya ini.

Beberapa hari setelah itu, Yarsa siuman. Namun keadaannya berbeda. Pemuda itu lemas. Badannya tak bisa digerakkan. Tidak itu saja, untuk berucap saja, Yarsa sudah tidak mampu. Pasutri ini langsung syok mengetahui kondisi putranya yang mengalami kelumpuhan.

Segala pengobatan telah ditempuh. Namun tetap tidak berhasil. Bahkan ada pikiran, Yarsa kena penyakit ilmu hitam. Hingga kedua orangtuanya membawa ke banyak tempat penekun spiritual, bahkan ke banyak balian. “Ya sudah saya pasrah. Sudah tidak bisa lagi (normal),” kata Puri.

Keluarga Yarsa sendiri saat ini hidup sederhana. Rumahnya masih berdinding batu yang disusun dan tidak disemen. Atapnya memakai seng yang sudah bolong-bolong di hampir semua sisi. Sebagian dinding ada yang ditutup triplek. Triplek yang cukup untuk membendung debu yang disapu angin.

Ekonomi keluarga ini juga tergolong rendah. Semenjak Yarsa sakit, Sari dan Puri berhenti sebagai buruh bangunan. Itu dilakukan untuk mengubur rasa trauma. Sementara mereka bekerja serabutan. Sari kerap menyabit lahan orang lain. Di samping itu kerap memberi makan sapi-sapi milik seorang saudagar di dekat rumahnya. Sedangkan Puri bertugas menjaga si buah hati. “Kalau makan, minum, semua, saya yang urus,” tukasnya.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia