Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Features

Di Balik Layar Film Pendek “Guru”; Bapa Giri Pernah Huni RSJ

20 November 2019, 11: 47: 09 WIB | editor : I Putu Suyatra

Di Balik Layar Film Pendek “Guru”; Bapa Giri Pernah Huni RSJ

TOTALITAS: Sutradara Gede Pasek Sriada, bersama pemain Ayu yang diperankan Ayu Suartini dan Bapa Giri selaku pemeran Guru dalam film pendek Guru. (ISTIMEWA)

Share this      

Masih ingat dengan film pendek berjudul “Guru” besutan Taksu Production? Film pendek berdurasi 11.02 menit itu sempat menjadi perbincangan hangat di dunia maya sejak sebulan lalu. Siapa sangka, sosok Bapa Giri, selaku pemeran Guru yang kemampuan aktingnya membius penonton sempat dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli selama tiga bulan lalu. Seperti apa?

I PUTU MARDIKA, Singaraja

 

ALUR cerita film berjudul “Guru” besutan Sutradara muda Gede Pasek Sriada, 39, cukup menguras emosi dan perasaan sedih penonton. Bagaimana tidak, film yang menceritakan seorang remaja bernama Ayu yang diperankan Ayu Suartini tengah menuntut ilmu di sebuah SMK di Singaraja.

 Dalam cerita itu, Ayu ngotot untuk dibelikan sebuah laptop oleh sang ayah yang dipanggilnya Guru, untuk menunjang aktivitas belajarnya di sekolah. Ironisnya, Ayu meminta dibelikan laptop tanpa sedikitpun mempedulikan kondisi ekonomi sang ayah.

Bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tak seberapa tentu sulit bagi sang ayah untuk memenuhi keinginan sang putri membeli laptop. Sang ayah yang diperankan Bapa Giri, 70, itu pun  terpaksa menjual sapi majikannya untuk uangnya dibelikan laptop.

 Tak pelak, Sang Majikan yang diperankan Dewi Caput marah besar lantaran sapinya dijual tanpa izin. Klimaksnya, setelah laptop berhasil dibeli dari uang penjualan sapi, sang ayah justru ambruk di rumahnya dan meninggal dunia. Padahal, laptop impian putrinya itu belum diserahkan kepada sang anak.

 Mengetahui sang ayah sudah tak lagi bernyawa, sosok Ayu pun hanya bisa menyesali perbuatannya karena telah memaksa sang ayah untuk membelikan laptop, meski kondisi ekonomi tengah morat-marit. Bayang-bayang rasa bersalah dan kesedihan selalu menghantui sosok Ayu.

“Jadi pesannya adalah kita sering melihat fenomena di mana para remaja kerap memaksakan orang tuanya untuk memenuhi keinginannya tanpa melihat kondisi ekonomi orang tua. anak remaja lebih mengutamakan gengsinya, dan itu keliru,” ujar Pasek Sriada, kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu siang lalu (17/11).

 Lanjutnya, alur cerita yang sederhana inilah membuat masyarakat mudah memahami film pendeknya. Sebab, fenomena ini banyak terjadi di masyarakat, sehingga mendapat tempat di hati penontonnya.

 “Kita tahu, laptop itu kan penting untuk pendidikan anak-anak. sedangkan di sisi lain, keuangan keluarga tidak mencukupi. sehingga dilema. Cerita ini kan banyak kita temui di masyarakat. sehingga orang awam mudah memahaminya,” imbuhnya.

 Pasek tak pernah menyangka jika film pendeknya viral di medsos selama beberapa minggu. Film tersebut sejatinya ia siapkan untuk dilombakan dalam ajang Festival Bali Jani bertemakan Hulu Teben: Dialetika Lokal-Global yang diselenggarakan Pemprov Bali. Namun sayang, Film Guru tak masuk nominasi.

 Ada tiga lokasi pengambilan latar tempat film yang dibintangi Bapa Giri dan Ayu Suartini tersebut. Yakni di sawah milik Bapa Giri, Rumah Bapa Giri dan SMKN 3 Singaraja yang dijadikan tempat menuntut ilmu Ayu.“Pembuatannya hanya empat hari saja,” jelasnya.

 Mengapa kepincut melibatkan sosok Bapa Giri untuk menjadi pemain? dijelaskan Pasek, awal mula dirinya kenal dengan sosok sepuh Bapa Giri saat dirinya menghadiri acara pernikahan kerabatnya di wilayah Banyuning, sekitar Juni 2019 lalu.

Saat itu, dirinya melihat Bapa Giri sedang asyik membaca puisi di tengah keramaian pesta pernikahan kerabatnya. Pasek mengira, saat itu Bapa Giri sedang mabuk akibat terlalu banyak minum tuak.

“Mimiknya, ekspresinya dapat, saya menilai dia pintar akting. Padahal sudah lingsir (tua, Red). Akhirnya saya dibisiki teman, kalau Bapa Giri ini memang depresi. nah, beberapa hari setelah pertemuan bulan Juni itu, Bapa Giri diajak berobat ke RSJ Bangli, dan pulang September kemarin,” tutur ayah dua anak ini.

Saat berencana membuat film untuk dilombakan di festival Bali Jani itulah Pasek teringat akan sosok Bapa Giri. Langsung saja, dirinya mencari Bapa Giri di lahan sawahnya untuk diajak syuting film. 

Dipilihnya judul Guru karena diangap Pasek sesuai dengan tema yang diusung dalam Festival Bali Jani. Guru menurutnya merepresentasikan konsep hulu, sedangkan sang anak sebagai representasi dari teben.

Dugaan Pasek tak meleset. Bapa Giri, sebut Pasek langsung menerima tawaran untuk main film. Bahkan, Pasek secara tak sengaja meminta Bapa Giri untuk mencoba belajar akting tentang kesedihan yang dialaminya ketika ditinggal sang istri tercinta.

“Tanpa pikir panjang, Bapa Giri langsung akting. Dia nangis, ingat dengan sang istri. Karena sedihnya dapat, saya lansung ambil kamera, merekam aksinya. Benar-benar sangat natural memainkan perannya,” bebernya sembari menyebut jika Bapa Giri merupakan mantan pemain Drama Gong Banyuning puluhan tahun silam.

Menariknya, Pasek mengaku tak banyak memberikan arahan kepada sosok Bapa Giri. Menurutnya, Bapa Giri melakukan improvisasi dan elaborasi yang sangat baik. “Semua tanpa naskah, mengalir begitu saja. Pokoknya dapat, saya ga perlu memberikan arahan panjang lebar,” akunya.

Pasca film pendeknya viral di jagat maya, Bapa Giri dan Ayu Suartini sebut Pasek Sriada kini mulai mendapat sejumlah tawaran untuk menjadi bintang iklan produk. “Ya kami berharap ini awal yang baik untuk berkarya bersama Ayu dan Bapa Giri,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia