Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Kisah Brahmacharia Jadi Sulinggih (1)

Sudah Mempersiapkan Diri sejak Lima Tahun Lalu

21 November 2019, 09: 03: 19 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sudah Mempersiapkan Diri sejak Lima Tahun Lalu

SIAP: Indra Udayana siap lahir dan batin madwijati untuk menjadi seorang sulinggih. (ISTIMEWA)

Share this      

Tak akan menikah dan memutuskan menjadi Brahmacharia, bagi seorang pria adalah keputusan sangat berat. Apalagi lantas memutuskan menjadi seorang sulinggih. Namun bagi Brahmacharia Indra Udayana, semuanya terlihat enteng dilakoni. Seperti apa pertimbangan dan pengalaman di balik keputusannya itu?

IKG DOKTRINAYA, Semarapura

BERTEPATAN dengan Tilem (bulan mati)  Kapat Soma Umanis Bali,  Senin (28/10)  lalu, Brahmacaria  Indra Udayana akhirnya memutuskan menjadi seorang Sulinggih. Pendiri Ashram Gandhi Puri ini, didiksa sekaligus melaksanakan Nyeda (mati) Raga. Prosesi madiksa untuk menjadi seorang sulinggih dilaksanakan di Jeroan Saren Anyar, Jalan Pandu No 4, Banjar Jabon, Desa Sampalan Tengah, Klungkung.

Ada tiga nabe yang menuntun sekaligus menjadi saksi rirual penting dan sakral ini, yakni Nabe Tapak Ida Pandita Mpu Yaksa Daksa Acharya Manuaba dari Griya Agung Siwa Gni Manuaba, Denpasar. Kemudian Nabe Saksi Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Sidhanta Manuaba dari Griya Agung Manik Gni Manuaba, Badung, dan Nabe Waktra adalah Pandita Nabe Sri Bhagawan  Agni Yogananda dari Griya Santabana Payuk, Bangli.

Diksa atau Madiksa yang  juga disebut dengan 'Divya Jnyanan' ini, merupakan sebuah proses upacara  untuk dapat  menerima sinar suci ilmu pengetahuan untuk melenyapkan kegelapan pikiran,  agar mencapai kesempurnaan   yang merupakan salah satu bagian dari  Saptangga Dharma, yakni dengan cara menjalankan upacara  inisiasi agar dapat  'menunggalkan' diri dengan Tuhan.

Menurut Indra Udayana,  Proses inisiasi ini dilakukan dengan cara Seda Raga (Mati Raga), sebagai salah satu cara untuk mengetahui jalan ke Nirwana atau Swahloka, sehingga bila jadi Sulinggih nanti, bisa menuntun atma-atma yang diupacarai dalam prosesi upacara Pitra Yadnya. "Atau bisa saja menjadi Acharya yang bisa dilakukan dengan Upanishad dan saling berbagi dalam komunitas kecil dalam Gria atau Ashram yang sudah menjadi pelayanan sebelumnya. Sehingga selanjutnya bisa menjadikan Kita sang Diksita jauh belajar kedalam diri dan tidak hanya muput karya (memimpin ritual), tapi juga memahami hakikat hidup dan kehidupan,dan berusaha memperbaiki diri dan tindak lebih baik," terang Indra Udayana yang kini mabhiseka (bernama) Ida Rsi Putra Manuaba kepada Bali Express (Jawa Pos Group ) di Klngkung, akhir pekan kemarin, jelang keberangkatan yatra ke India.

'Diksa' berasal dari bahasa  Sansekerta  dari akar kata 'di' dan 'ksa'. 'Di' artinya Divya Jnyana  atau  sinar ilmu pengetahuan. Sedangkan 'ksa' artinya ksaya atau melenyapkan, menghilangkan. Dengan demikian, 'Diksa' artinya divya  jnana  atau  sinar suci ilmu pengetahuan yang melenyapkan kegelapan atau kebodohan itu. "Dalam sasana Pinandita atau ké Acharya, disebutkan bahwa Madiksa sebagai suatu upacara umat Hindu dipimpin oleh seorang Pedande Nabe  untuk meningkatkan  kesucian  diri, guna mencapai kesempurnaan. Karena lewat kesucian diri itulah, manusia dapat berhubungan denga Sang Hyang Widhi Wasa," ujar pria penerima anugerah bergengsi dunia, Dr Abdul Kalam Award 2018. Award yang  diserahkan Menteri Dalam Negeri India, Mr Hansraj Air dan anggota parlemen India, Ramdas Tadas ini, dikatakan bergengsi karena khusus  diperuntukkan kepada  tokoh dari berbagai penjuru dunia yang concern dengan aktivitasnya menggalang  perdamaian dan hubungan baik sesama manusia.

Tak berlebihan, karena Indra Udayana sudah sering  mendampingi KH Abdurahman Wahid (tokoh umat yang juga mantan Ptesiden RI), Network Mahatma Gandhi di penjuru dunia, Ibu Gedong Oka, dalam rangka komunikasi dan membangun hubungan lintas agama dan persatuan dunia atas nama kemanusiaan.

Bagi pria dengan nama komplet walaka DR (HC) Agus Indra Udayana ini, apa yang diputuskan ini adalah sebuah  pelestarian budaya dan panggilan hati nurani, sekaligus usaha mendamaikan dunia, lewat doa dan tindak yang dilakukan. "Minimal  ikut mengontrol diri dan menjadi pembawa damai bagi sekeliling  dan persaudaraan. Di lingkungan kita banyak yang sudah memiliki gelar atau 'ngelarang' kepanditaan atau kepanditaan, baik gelar sekala maupun niskala," papar pria kelahiran 7 Oktober 1970 ini.

Tentunya untuk mendapat pengakuan di zaman seperti ini, lanjutnya, haruslah ada legalitas, yakni pengakuan dari Guru Nabe, pengakuan dari PHDI, juga pengakuan dari Desa Pakraman, di samping adanya suatu proses secara upakara, sehingga dipandang sah untuk menuntun dan mengantar puja dan puji sebuah yadnya, minimal untuk skup keluarga besar. Bagi Indra Undayana, Madiksa bukan hal yang menyeramkan,  ini adalah sebuah usaha penyucian diri, sebuah panggilan hati nurani, juga sebuah kesiapan diri, baik kesiapan jasmani dan rohani,  kesiapan fisik dan mental, juga soal kesiapan material dan spiritual.

Di samping itu, juga kesiapan kondisi lingkungan mengubah sebuah kebiasaan diri hingga dipandang  sebagai manusia yang dianggap mampu untuk mengantar dan menyampaikan puja-puji dalam ritual yadnya, dan 'dianggap'  orang yang layak untuk digugu dan ditiru (Guru). "Penyucian diri sangat penting, dan setiap orang  ingin bersih. Bersih itu pangkal sehat. Sehat jasmani dan rohani. Bersih tubuh dapat dilakukan dengan cara mandi dan menggunakan sabun serta parfum, sedangkan bersih rohani dapat dilakukan dengan Malukat, Mawinten, dan Madiksa," ujarnya.

Menurut Indra Udayana, untuk dapat menjaga kesucian dirinya, seseorang yang telah melaksanakan upacara Madiksa, berkewajiban agar setiap hari  menyucikan diri dengan melakukan Puja Parikrama  atau Surya Sewana, setiap pagi, siang, dan sore hari. "Maka dari itulah sang diksita atau  wiku  'Tan keneng cuntaka', juga tidak nyuntakain, kecuali wiku wanita yang sedang dalam keadaan haid," paparnya. Di dalam Yajur Weda XX, 25 disebutkan : Dengan melaksanakan brata seseorang akan memperoleh Diksa;  Dalam tingkatan Dwijati diharapkan mulai mematuhi segala peraturan kebrahmanaan. "Dengan melakukan Diksa, seseorang akan memperoleh Daksina, pendapatan yang suci, karena didapatkan dari perbuatan yang suci dan terhormat, dan tentunya secukupnya," paparnya.

Sebelum mengambil keputusan bulat, Indra Udayana mengaku sudah  mempersiapkan diri sejak lima tahun lalu. Mulai  dari proses memilih Nabe, belajar dari Guru Nabe dan proses pengendalian diri.

Proses memilih Guru Nabe, lanjutnya, tentunya dari pengalaman batin dan kedekatan spiritual, termasuk mudah berkomunikasi. "Persembahan ke dalam, inilah rahasia dari Guru Nabe bersama Nanaknya. Soal pendamping itu adalah spirit. Kalau kita ada tekad dan kemauan yang kuat, astungkara pendamping sejati itu adalah alam yang akan menuntun kita," katanya.

Rencana yang panjang itu tak hanya soal bertalian dengan Sulinggih, namun keberlangsungan Ashram Gandhi Puri juga jadi bagian yang sudah dipersiapkan

"Kalau soal ashram dari lima tahun silam sudah saya siapkan, siapa yang punya dedikasi totalitas dan loyalitas, alumni yang baik akan menuntun adik adiknya para Shantisena di Ashram," paparnya.

Dikatakannya, sejak awal  Ashram Gandhi Puri sebagai Laboratorium Kehidupan. Jadi, semua harus bertanggung jawab bersama, dan Shantisena menemukan Swakarma dan Swadharmanya.

Sebelum Madiksa dan Mati Raga, sudah dilaksanakan Diksa Pariksa PHDI Klungkung di Jeroan Saren Anyar, Banjar Jabon, Desa Sampalan Tengah, Klungkung. Lantas, apa saja yang dialami dan dirasakan saat prosesi Mati Raga? Ikuti tulisan berikutnya. (bersambung)

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia